Dugderan, Meriahnya Karnaval Sambut Ramadan di Semarang
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dugderan, Meriahnya Karnaval Sambut Ramadan di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikTravel
Minggu, 05 Jun 2016 10:15 WIB
Dugderan, Meriahnya Karnaval Sambut Ramadan di Semarang
(Angling/detikTravel)
Semarang - Karnaval Dugderan sambut bulan Ramadhan kembali digelar di Kota Semarang. Tradisi yang sudah berusia 135 tahun itu masih semarak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini rangkaian puncak acara diadakan dua hari yaitu hari ini, Sabtu (4/6/2016) dan Minggu (5/6). Walikota Semarang, Hendrar Prihadi selaku inspektur upacara dan berperan sebagai Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat membuka karnaval dengan memukul bedug di halaman Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda.


(Angling/detikTravel)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prosesi upacara pembukaan dilakukan dengan bahasa Jawa dan diramaikan tari-tarian khas dengan atribut patung hewan fantasi khas Semarang, Warak Ngendhog. Setelah Walikota menabuh bedug, barisan karnaval mulai berjalan termasuk dari Drumband Genderang Suling Canka Lokananta Akademi Militer.

"Tema Dugderan kali ini adalah Dugderan Menjalin Kebersamaan Menuju Semarang Hebat. Oleh sebab itu saya mengajak warga Kota Semarang menjaga persatuan dan kesatuan, rukun, untuk membangun Kota Semarang," kata Hendrar dalam bahasa Jawa, Sabtu (4/6/2016).

Ribuan warga yang sudah memadati Jalan Pemuda pun riuh berusaha mengambil foto atau hanya sekadar melihat barisan karnaval yang mayoritas bertemakan Warak Ngendhog. Boneka-boneka Warak berhias Kembang Manggar warna-warni jadi daya tarik karena warga ada yang percaya jika bisa mendapatkan kembang Manggar tersebut maka akan datang keberuntungan.


(Angling/detikTravel)

Rombongan terdiri dari pasukan Merah Putih, rombongan lintas agama, pemuda dan pelajar, dari perwakilan Kecamatan, dan Pasukan Berkuda. Kereta Kencana yang ditumpangi Bupati Semarang RMT Aryo Purboningrat diikuti bendi hias juga menghiasi parade.

Rombongan menuju Masjid Agung Semarang di daerah Kauman, di sana acara inti dilakukan yaitu Pembacaan Shukuf Halaqoh oleh Bupati Semarang RMT Aryo Purboningrat kemudian memukul bedug dan menyalakan bom udara yang dulunya menjadi cikal bakal nama Dugderan karena bunyi yang dihasilkan, "dug dug," dari bedug dan "der der," suara meriam atau bom udara.

"Pada bulan suci Ramadhan yang akan kita jalani, kita harus menjaga dan mengamalkan perbuatan baik untuk diri sendiri dan lingkungan termasuk peduli kepada yang membutuhkan," tandas Hendrar.

Acara juga dilanjutkan dengan pembagian ribuan kue ganjel rel dan air Khataman Al Quran kepada warga di sekitar Masjid Agung Semarang. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).


(Angling/detikTravel)

Di MAJT, rombongan disambut Raden Mas Tumenggung Hadikusumo yang diperankan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. RMT Hadikusumo kemudian membacakan Shukuf Halaqoh dilanjutkan dengan pemukulan bedug dan bom udara. "Dug dug der der," kemeriahan hari pertama pun berakhir sore hari.

Rangkaian acara masih berlanjut di hari Minggu. Akan ada karnaval Dugderan dengan rute Lapangan Simpang Lima - Jalan Pahlawan - Taman Menteri Supeno atau Taman KB mulai pukul 06.00 sampai 10.00 WIB.

Untuk diketahui, Dugderan merupakan tradisi yang berawal tahun 1881. Kala itu RMT Aryo Purbaningrat untuk pertama kalinya membunyikan bedug dan meriam di Masjid Agung Semarang untuk memberitahukan awal bulan Ramadhan. Hal itu berulang menjelang bulan Ramadhan dan menjadi tradisi yang diwarnai karnaval untuk menghibur warga Kota Semarang.

"Dugderan sudah menjadi event nasional yang ditunggu masyarakat tidak hanya warga Semarang saja," tandas Hendrar Prihadi.

(alg/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads