Dunia pariwisata Raja Ampat mulai berkembang di segala sisi. Masyarakatnya pun mulai sadar untuk meningkatkan skill mereka.
Tidak lain tidak bukan, hal itu untuk menambah nilai ekonomis suatu barang yang ditawarkan bagi para pengunjung. Senin (8/5/2017), di Festival Kuliner HUT XIV Raja Ampat ada beberapa stan yang menyediakan suvenir khas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: (Masaul/detikTravel) |
Ia sendiri berasal dari Waigeo sebelah barat. Sehari-hari, ia hanya bekerja sebagai nelayan dan kerajinan kerang ini hanyalah kerjaan sampingan untuk menambah pundi-pundi keuangan keluarganya.
"Mereka yang biasa melihat kerajinan ini bisa menawar. Saya biasanya jual di tempat-tempat wisata di sekitar Pulau Pianemo sebelum tangga naik gardu pandang," jelas dia.
"Selain itu, saya jual di homestay saya," tambah Nataniel.
Dijelaskan Nataniel, kerang-kerang yang disusunnya adalah kerang yang sudah mati. Selain itu, tidak ada kerang yang hidup diambil olehnya.
"Kita manfaatkan dan menjadi uang. Karena potensinya tinggi sekali," kata dia.
Nataniel belum lama menjadi pengrajin kerang. Ia baru sadar kerang bisa dijual setahun belakangan. Tak satupun yang mengajari maupun contoh yang ia lihat sebelumnya.
"Saya bikin sendiri. Secara otodidak. Jadi banyak yang bertanya-tanya bagaimana cara bikinnya. Saya bilang ya sudah dirangkai saja pakai lem dan itu ada di otak saya," pungkas Nataniel. (msl/krn)












































Foto: (Masaul/detikTravel)
Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5