detikTravel bersama Tim Tapal Batas detikcom berkunjung ke Pasar Baru di Merauke, pada Selasa (9/5/2017) sore kemarin. Inilah salah satu pasar tradisional yang beralamat di Jl Brawijaya, persisnya di sebelah kanan dari runway Bandara Mopah.
Kami tiba sekitar pukul 17.30 WIT. Bau semerbak khas pasar tradisional menyambut langkah kami. Diiringi berbagai rayuan dari pedagang yang menjajakan ikan mujair, kakap, kepiting, sayur mayur, bumbu dapur, hasil kebun sampai daging babi, rusa dan kangguru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasarnya berada di pinggir jalan sampai ke kebun. Tempat menjajakannya sangat sederhana. Ada yang dari kayu, serta ada pula yang hanya dijajakan di atas tikar.
Matahari mulai tenggelam sekitar pukul 18.00 WIT, suasana berubah. Menjadi gelap, padahal banyak lampu yang terpasang.
"Yah begini, lampu bisa ada, bisa tidak. Tapi kami tetap berjualan seperti biasa. Pakai senter toh," ujar Joseph salah seorang pedagang daging di sana.
Para pembeli pun seolah tak mau kalah. Dengan senter dari ponsel di tangan, mereka terus berburu belanjaannya sambil tawar-menawar. Suasana malah tambah ramai.
"Tidak tahu pemerintah atau siapakah yang harus urus. Kakak boleh tulis bikin berita, biar Pak Jokowi baca," kata Joseph sambil nyengir.
Ah Joseph, masih saja bisa senyum. Saya helakan nafas panjang sambil melangkah keluar pasarnya karena sudah terlalu gelap dan sulit berfoto-foto.
Walaupun gelap, aktivitas jual-beli di Pasar Baru di Merauke ini tetap berjalan normal seperti tidak ada masalah. Para pedagang terus bersemangat merayu dan para pembeli terus teliti membeli.
Mengapa saya harus terbawa perasaan seperti ini. Merasa sedih melihat pasarnya terselimuti gelap. Sampai kapan terus begitu?
(rdy/fay)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong