Damainya Umat Beragama (Sudah) Dimulai dari Ujung Timur Indonesia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tapal Batas

Damainya Umat Beragama (Sudah) Dimulai dari Ujung Timur Indonesia

Afif Farhan - detikTravel
Jumat, 02 Jun 2017 12:37 WIB
Damainya Umat Beragama (Sudah) Dimulai dari Ujung Timur Indonesia
Foto: Masjid Al Aqsha (Afif/detikTravel)
Merauke - Kehidupan antar umat beragama yang damai rupanya sudah dimulai dari ujung timur terdepan Indonesia, Merauke. Rasakanlah pengalamannya saat traveling ke sana.

Traveling bukan hanya sekadar lihat pemandangan cantik atau budaya yang eksotis. Traveling mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana kehidupan sesama manusia. Jika ke Merauke di Papua, kita akan melihat bagaimana damainya hidup berbangsa Indonesia.

detikTravel bersama Tim Tapal Batas detikcom menjelajahi Merauke, Papua pada 8 sampai 14 Mei kemarin. Salah satu tempat yang kami datangi adalah Masjid Al Aqsha, yang berada di pusat Kota Meerauke. Di sanalah kami bertemu Abu Bakar Akhyar, Wakil ketua 1 PKM (Pengurus Kesejahteraan Masjid) dan dia bercerita tentang kedamaian umat beragama di Merauke.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mau lihat Indonesia, harus datang ke Merauke. Sebab, di sini banyak pendatang dari Jawa, Bugis sampai Sumatera dan hidup rukun dengan warga lokal," ujarnya.

















Abu Bakar Akhyar yang juga sering menjadi imam salat (Afif/detikTravel)Abu Bakar Akhyar yang juga sering menjadi imam salat (Afif/detikTravel)






Abu Bakar sendiri berasal dari Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sudah menetap di Merauke dari tahun 1994, dia tidak pernah merasakan adanya konflik-konflik yang membawa nama-nama agama di sana.

"Alhamdulillah, sejak saya di sini dari tahun 1994, saya melihat suasana kerukunan umat beragama di Merauke. Sangat aman dan tercpita suasana damai," katanya.

"Bisa kita lihat saat perayaan Natal. Para polisi yang berjaga di gereja dan di persimpangan-persimpangan jalan, adalah polisi Muslim. Kemudian saat Idul Fitri, gantian polisinya dari umat Kristiani. Sehingga, tiap-tiap polisi bisa melakukan ibadah sesuai keyakinan dan perayaan hari rayanya masing-masing," tambahnya.

Bisa dibilang, mayoritas penduduk asli Merauke adalah memeluk Kristen. Apakah suara-suara adzan saat salat lima waktu tidak menganggu?

"Untuk adzan biasa saja tetap boleh dikumandangkan. Tetapi untuk ngaji (dengan speaker-red), biasanya hanya diberi waktu 5-10 menit sebelum adzan. Selalu ada keputusan bersama. Alhamdulillah di Merauke tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," terang Abu Bakar.

BACA JUGA: Al Aqsha yang Bukan di Yerusalem

Terakhir, Abu Bakar berpesan jika mau ke Merauke paling asyik saat 17 Agustus. Saat itulah, ada parade budaya 'dari Sabang sampai Merauke'!

"Saat itu ada pawai yang mana penuh dengan rasa Indonesia. Orang Jawa menampilkan budayanya, orang Bugis menampilkan adatnya sampai orang Merauke juga. Semuanya penuh warna dan meriah. Itu benar-benar terlihat Indonesia yang penuh warna nan damai," jelasnya.

(aff/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads