Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 07 Sep 2017 12:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kampung Adat yang Jadi Saksi Bisu Bandung Lautan Api

Wisma Putra
Redaksi Travel
Foto: Situs Cagar Budaya Rumah Adat Cikondang (Wisma Putra/detikTravel)
Foto: Situs Cagar Budaya Rumah Adat Cikondang (Wisma Putra/detikTravel)
Bandung - Di Kabupaten Bandung, ada kampung adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Kampung ada ini juga disebut menjadi saksi bisu peristiwa Bandung Lautan Api.

Belum lama ini Desa Lamajang menjuarai lomba desa wisata se-Kabupaten Bandung. Situs Cagar Budaya Rumah Adat Cikondang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke desa wisata itu.

Kampung adat ini dikenal banyak orang karena masih memegang teguh budaya leluhur. Secara administratif terletaknya ada di wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bisa ditempuh dengan 90 menit perjalanan atau sekitar 38 kilometer dari Kota Bandung via Kecamatan Banjaran.

Sesepuh Adat Kampung Cikondang Ilin Dasyah (82) mengatakan, asal muasal kampung ini dibawa oleh seorang toko yang menyebarkan agama Islam dan membawa kemerdekaan Indonesia bernama Syekh Muhammad Tunggal.

Kampung Adat yang Jadi Saksi Bisu Bandung Lautan ApiFoto: (Wisma Putra/detikTravel)
"Sejarah masyarakat Kampung Cikondang dulunya adalah masyarakat human nomaden yang berpindah-pindah membuka Hutan, membuat lahan, dan mendirikan pemukiman, diprakarsai oleh Uyut Istri dan Uyut Pameget," katanya kepada detikTravel, Rabu (6/9/2017).

Ilin mengungkapkan dari 61 rumah adat yang dahulu didirikan pada abad ke-17, kini hanya tinggal satu rumah karena pada abad ke-19 puluhan rumah adat terbakar dan hanya menyisakan satu rumah yang kini masih tetap dilestarikan.

Pantauan detikTravel, Kampung Adat Cikondang ini merupakan pemukiman dengan pola arsitektur rumah tradisional yang menempati tanah seluas tiga hektar yang berdiri di desa terpencil yang berada di Kaki Gunung Tilu Pangalengan.

Kampung Adat yang Jadi Saksi Bisu Bandung Lautan ApiFoto: (Wisma Putra/detikTravel)
Situasi di sekitar kampung sunyi dan sepi, hanya terdengar suara burung berkicau dan desik daun yang tertiup oleh angin. Kampung adat ini dikelilingi pagar bambu, di dalamnya terdapat leuit, tampian (pancuran air), kolam ikan dan satu rumah adat yang kokoh berdiri.

Setiap sudut rumah mengandung banyak arti. Dari informasi yang dikatakan oleh Ilin, rumah memiliki 1 lubang pintu mempunyai filosofi percaya hanya kepada Allah SWT, 5 jendela yang mengingatkan Rukun Islam itu ada lima.

"Sedangkan 9 penyekat jendela yang mempunyai sejarah Islam di Indonesia disebarkan oleh sembilan tokoh Islam atau disebut dengan Wali Songo," ungkapnya.

Atap rumah adat tidak menggunakan genteng, yang berarti jangan lupa pada asal muasal manusia yang berasal dari tanah. Jadi diibaratkan tinggal di suatu ruangan yang beratapkan tanah.

Kampung Adat yang Jadi Saksi Bisu Bandung Lautan ApiFoto: (Wisma Putra/detikTravel)
Tidak boleh naik haji, karena waktu dulu biaya untuk naik haji membutuhkan biaya banyak. Tidak boleh menjadi orang kaya, karena takutnya menjadi orang yang serakah dan tidak bersyukur kepada Tuhan.

"Tidak boleh menjadi pejabat atau pegawai pemerintahan, yang artinya di abad ke-19 tersebut kekuasaan masih di tangan Belanda, yang di mana pribumi tidak boleh menjadi antek-antek Belanda," ujarnya.

Selain itu, untuk memasuki rumah adat masih banyak pantangan yang tidak boleh dilanggar. Seperti, wanita yang sedang mengalami menstruasi, jika masuk ke dalam Rumah Adat Cikondang harus melangkah dengan menggunakan kaki kanan terlebih dahulu, dan keluar dengan melangkahkan kaki kiri.

"Mengucapkan salam dan basmalah sebelum masuk ke kawasan Rumah Adat Cikondang, dilarang berselonjor kaki dan kencing ke arah selatan, menginjak parko atau alas Hawu," tambahnya.

Kampung Adat yang Jadi Saksi Bisu Bandung Lautan ApiFoto: (Wisma Putra/detikTravel)
Ada hari-hari tertentu yang di mana pengunjung tidak diperkenankan masuk ke kawasan rumah adat termasuk melihat Makam Eyang Istri dan Eyang Pameget yang berada di hutan larang yaitu Hari Jumat, Sabtu dan Selasa.

"Di tiga hari yang sama tidak boleh mengambil gambar di dalam Rumah Adat Cikondang," jelasnya.

Saksi Bisu Bandung Lautan Api

Kawasan Kampung Adat Cikondang pernah menjadi tempat pengungsian warga Bandung saat peristiwa Bandung Lautan Api. Ilin berujar, pada saat peristiwa itu ratusan orang mengungsi ke Kampung Adat Cikondang.

"Dulu tempat ini rimbun pepohonan dan merupakan tempat terpencil dan jauh dari jangkauan penjajah, untuk bersembunyi tempat aman," ujarnya.

Nilai Nasionalisme Masyarakat Kampung Adat Cikondang sangat tinggi, hal tersebut dibuktikan dari pakaian adat baju koko putih yang melambangkan air yang bersih, celana hitam yang berarti tanah dari tanah dan akan kembali ke tanah.

"Iket kepala yang mempunyai arti 'Sabengket, Saiket' yang berati kita sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bersatu," pungkasnya. (krn/krn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED