Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 11 Jan 2019 16:55 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mau Coba Kegiatan yang Baru di Bali, Ayo Lihat Pembuatan Barong!

Aditya Mardiastuti
detikTravel
Foto: Pengrajin barong di Banjar Puaya, Desa Batuan, Bali (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Foto: Pengrajin barong di Banjar Puaya, Desa Batuan, Bali (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Gianyar - Akhir pekan di Bali mungkin pantai sudah biasa. Kalau mau wisata yang beda sekaligus lebih dekat soal budaya Bali, traveler bisa mengunjungi sentra pembuatan barong.

Tari barong selalu identik dengan Pulau Dewata Bali. Salah satu sentra produksi barong yang sudah tersohor ada di Banjar Puaya, Desa Batuan, Sukawati, Gianyar.

Desa ini letaknya tak jauh dari Pasar Sukawati. Ada banyak toko yang menjual kerajinan barong, mulai dari topeng hingga aneka aksesoris untuk barong, mulai dari rambut maupun kaos tangan. Pelanggannya pun berasal dari berbagai daerah di Bali.

Salah satu pengrajin barong di desa tersebut yaitu I Made Muji. Saat ditemui di kediamannya, Made Muji terlihat sedang sibuk menyelesaikan pesanan barong.

Barong berukuran panjang lebih dari satu meter itu terlihat diikat dengan rantai di penyangga tiang rumah. Ada dua orang yang sibuk menjahit rambut-rambut barong maupun memasang aneka ornamen barong tersebut, sementara dua orang lainnya tengah sibuk mengecat ornamen untuk barong tersebut.

(Aditya Mardiastuti/detikTravel)(Aditya Mardiastuti/detikTravel)
"Barong ini dibuat sekitar tiga bulan, untuk kepentingan di Pura," kata Made kepada detikTravel, Jumat (11/1/2019).

Made menjelaskan ada sejumlah syarat membuat barong untuk kepentingan di pura. Salah satunya memilih hari baik dan menyediakan canang.

"Pertama harus disucikan cari hari yang baik. Mulainya ada sajen paling kecil canang pejati, baru mulai kerja. Terakhir pasupati untuk menyucikan barong itu," terangnya.

Made mengaku tak tahu benar sejak kapan desanya menjadi sentra pembuatan barong. Namun, usaha ini telah dia lakoni secara turun temurun dari sang ayah. Apalagi sejak kecil Made mengaku sudah terbiasa mengamati ayah dan beberapa warga di desanya membuat barong.

"Ini generasi ketiga dari bapak saya sekarang ke anak. Kalau nggak salah sejak 1970 sudah banyak yang bikin barong di sini," tuturnya.

(Aditya Mardiastuti/detikTravel)(Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Made menerangkan ongkos pembuatan barong tak murah, untuk satu kali pesanan dia mematok tarif Rp 250 juta. Made menyebut belakangan harga prada atau pewarna emas impor yang dia gunakan harganya naik sekitar Rp 5,8 juta untuk 1 kotak berisi 10 pelang. Namun, dia juga bisa menyesuaikan harga sesuai orderan pemesan.

"Kalau untuk barong ini harganya Rp 250 juta. Ini karena harga bahan bakunya naik, kalau ada pesanan di bawah itu juga bisa nanti bahannya menyesuaikan," terangnya.

Tak hanya melayani pesanan barong, Made juga melayani servis barong. Dia menyebut biasanya barong-barong yang ada di pura itu diservis minimal 5 tahun sekali.

BACA JUGA: Cara Asyik Keliling Bali, Naik Ojek Wisata

"Kalau barong diservis lima tahun sekali, servis itu biasa ganti prada atau rambut-rambutnya. Kalau ganti prada (tarifnya) Rp 150 juta, kalau selain itu Rp 80-100 juta," terangnya.

Selain barong, biasanya pura juga memesan Rangda dan Rarung untuk kepentingan upacara. Ketiga benda yang disucikan itu akan dipentaskan kala Mesolahan Galungan.

Selain Made, masih ada juga sejumlah warga di Banjar Puaya yang masih menekuni pembuatan barong tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu tak banyak yang bisa bertahan. Semoga tetap bisa lestari ya, Traveler!

(Aditya Mardiastuti/detikTravel)(Aditya Mardiastuti/detikTravel)
(ams/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Jebakan di Jalur Sepeda

Minggu, 26 Mei 2019 08:55 WIB

Jalur sepeda di pedestrian adalah hal yang positif seperti di Bogor. Tapi kalau bisa, jalurnya jangan menabrak pohon dong.