Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 29 Sep 2019 10:00 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ini 4 Pulau Cagar Budaya Sarat Sejarah di Kepulauan Seribu

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Benteng Martello di Pulau Kelor (Agoeng Widodo/dTraveler)
Benteng Martello di Pulau Kelor (Agoeng Widodo/d'Traveler)

FOKUS BERITA

Wisata Pulau Seribu
Kepulauan Seribu - Kepulauan Seribu di Utara Jakarta tak cuma punya pantai indah, tapi juga pulau yang sarat sejarah. Ini empat di antaranya.

Bicara Kepulauan Seribu, atau biasa disebut orang sebagai Pulau Seribu, yang berada di bawah provinsi DKI Jakarta tak terlepas dari perannya saat zaman Batavia. Namanya pun telah disebut sejak ketika VOC lalu lalang di Batavia.

Dilihat detikcom dalam buku The Hidden Treasury of The Thousand Islands atau Harta Rahasia Kepulauan Seribu karangan Thomas B. Ataladjar, Sabtu (28/9/2019) tertulis kalau penjajah Belanda telah singgah ke Pulau Onrust sejak abad ke-17 silam lewat VOC.




Bahkan dalam perkembangannya, tak sedikit nama pulau di Kepulauan Seribu yang bernama kolonial. Sebut saja Pulau Amsterdam (Untung Jawa), Middbur (Pulau Rambut), Rotterdam (Pulau Ubi Besar), Schiedam (Pulau Ubi Kecil), Purmerend (Pulau Bidadari), Kherkof (Pulau Kelor), Pulau Kuiper (Pulau Cipir) hingga Pulau Onrust atau Pulau Sibuk.

Adapun sejumlah nama dari pulau tersebut telah diubah kini, tapi sejumlah jejak peninggalan penjajah Belanda juga masih dapat ditemui di sejumlah pulau tersebut. Antara lain:

1. Pulau Onrust

Pemerintah telah menetapkan adanya Taman Arkeologi Onrust atau pulau yang memiliki arti sibuk dalam bahasa Belanda. Secara teknis, taman tersebut meliputi empat pulau yang saling berdekatan seperti Onrust, Cipir, Kelor dan Bidadari.

Dalam prosesnya, keempat pulau termasuk Onrust turut berperan penting sebagai pusat perniagaan antara Eropa dan Indonesia pada zaman VOC. Di tahun 1618, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen bahkan sempat menjadikan Pulau Onrust sebagai tempat pertahanan.

Pulau Onrust (Muhammad Idris/detikcom)Pulau Onrust (Muhammad Idris/detikcom)
Malah, Pulau Onrust juga sempat menjadi pulau tahanan hingga tempat karantina penderita penyakit menular. Setelah itu, pernah juga difungsikan sebagai asrama haji.

Pasca VOC, Pulau Onrust pun sempat terlantar dan dijarah warga pada tahun 1968. Melihat kondisi tersebut, Gubernur Ali Sadikin pun akhirnya menyematkan status suaka sejarah untuk menjaga Pulau Onrust.

Traveler yang berwisata ke Pulau Onrust pun masih dapat menjumpai bekas bangunan pertahanan Belanda sekaligus bekas pelabuhan yang kini telah tenggelam akibat abrasi.




2. Pulau Cipir

Sama-sama masuk dalam Taman Arkeologi Onrust, Pulau Cipir atau yang dahulu bernama Pulau Cuyper tersebut juga memiliki nama Pulau Kahyangan. Arti namanya pun begitu multitafsir, mengingat sejarah pulau ini dulu.

Pada masa VOC, Pulau Cipir menjadi tem pat karantina haji dan mereka yang terjangkit penyakit menular. Serupa dengan Pulau Onrust di seberangnya, pulau ini memiliki barak karantina haji yang kini tak lagi utuh bangunannya.

Jika kita berjalan ke sisi berseberangan dari arah dermaga, kita akan tiba pada sebuah reruntuhan bangunan yang menghadap ke laut. Pada masa kolonial Belanda, bangunan tersebut adalah bangsal rumah sakit. Namun pada masa pendudukan Jepang bangsal itu dijadikan sebagai tempat hukum gantung untuk orang Belanda dan pribumi.

Selain bangunan bekas barak karantina haji, di Pulau Cipir juga terdapat bekas benteng bundar besar. Bangunannya tidak seperti benteng-benteng Martello yang ada di Pulau Kelor, Bidadari, dan Onrust, tapi berupa benteng pertahanan biasa.

Keadaan temboknya yang sudah tidak utuh lagi dengan kondisi yang sangat parah, kumuh dan berantakan. Beberapa meriam tua karatan buatan Belgia tampak teronggok cukup untuk menegaskan bahwa di masa lampau tempat ini dulu pernah berjaya.




3. Pulau Kelor

Bicara Pulau Kelor, tentu tak lepas dari kisah Benteng Martello yang hingga kini masih dapat dijumpai di sana. Sejarahnya, benteng itu didirikan oleh VOC untuk menghadapi serangan dari laut pada abad ke 17-18.

Dinamakan sedemikian rupa, Benteng Martello terinspirasi dari Mortella Point di pulau di Corsica, Perancis. Desainnya pun dibuat agar tahan terhadap tembakan meriam.

Pulau Kelor (Agung Wijaya/d'Traveler)Pulau Kelor (Agung Wijaya/d'Traveler)
Memiliki tinggi 12 meter, Benteng Martello dibuat dari bata merah yang dibentuk menyerupai lingkaran. Fungsinya, dari benteng itu penjajah Belanda bisa menembak meriam dengan manuver 360 derajat.

Di masa jayanya, Benteng Martello jauh lebih luas dari sekarang yang hanya menyisakan benteng dalamnya. Abrasi hingga air laut telah mengikis pulau yang dahulu gagah tersebut.

4. Pulau Edam

Terinspirasi dari sebuah kota di Belanda, pihak VOC memberi nama Pulau Edam. Dahulu sebelum dibangun VOC, konon pulau ini hanyalah pulau kosong tak berpenghuni yang jadi tempat singgah bajak laut.

Menghilangkan kesan negatif itu, Pemerintah Belanda pun menggalakkan sejumlah aktifitas hingga bangunan di sana. Hasilnya, kini masih dapat dijumpai mercusuar hingga bekas fondasi rumah peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Masuk lebih dalam, terdapat juga bekas bunker Jepang hingga makam Ratu Syarifah Fatimah serta pengikutnya. Pulau mungil yang elok berpasir putih itu juga menyimpan kisah menyeramkan, mengingat banyak orang yang mati di pulau ini.

Itulah empat pulau sarat sejarah di Kepulauan Seribu. Semuanya pun bisa dicapai dengan kapal speedboat dari Dermaga Marina Ancol atau kapal Dishub dari Muara Angke dan Muara Kamal di Jakarta Utara.

Simak Video "Pesona Pulau Sabira di Ujung Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/krs)

FOKUS BERITA

Wisata Pulau Seribu
BERITA TERKAIT
BACA JUGA