Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 02 Mei 2020 04:01 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Masjid Istiqlal, Doa Friedrich Silaban & Kisah di Baliknya

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Persiapan Renovasi Besar Masjid Itiqlal
Masjid Istiqlal (Isfari Hikmat/detikcom)
Jakarta -

Masjid Istiqlal di Jakarta dikenal sebagai simbol toleransi antar agama. Di baliknya terselip kisah dari Friedrich Silaban, sang arsitek beragama Kristen.

Cerita dan fakta sejarah menarik itu pun dibahas di awal tur virtual '5 Wisata Masjid Paling Menarik di Jakarta' oleh Wisata Kreatif Jakarta via Zoom, Jumat (1/5/2020). Dipandu oleh Ira Lathief sebagai guidenya, detikcom dan para peserta diajak kembali menelusuri kisah di balik masjid terpopuler di Jakarta itu.

"Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara, nomor 3 di dunia. Istiqlal artinya kemerdekaan, pilar 12 melambangkan ulang tahunnya Nabi Muhammad. Lantainya ada 5, melambangkan rukun Islam dan Pancasila," ujar Ira dalam sambutannya.

Bagi penikmat sejarah, Masjid Istiqlal yang fondasinya diresmikan Presiden Sukarno pada 24 Agustus 1961 itu memang sarat akan nilai dan pikiran para bapak pendiri bangsa. Mulai dari lokasi pendirian hingga setiap sudutnya, berisi nilai toleransi dan Pancasila.

"Idenya Sukarno, dibentuklah panitia pembuatan Masjid Istiqlal. Awalnya di Jalan MH Thamrin karena dekat perkampungan Betawi. Waktu itu ada juga ide yang lain, di atas Wilhelmina Park (lokasi Istiqlal kini) dekat Katedral yang melambangkan Indonesia dan keharmonisan agama," ujar Ira.

Friedrich Silaban dan Presiden SoekarnoFriedrich Silaban dan Presiden Sukarno (arsitekturindonesia.org)

Salah satu yang menarik adalah tentang sang arsitek di balik pembangunan Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban yang merupakan seorang Kristen Protestan. Desain rancangannya terpilih sebagai pemenang sayembara yang diadakan Yayasan Masjid Istiqlal pada tahun 1955.

Walau merupakan seorang Kristen, tak disangka kalau desain rancangan Silaban disukai oleh para tim juri yang terdiri dari Rooseno, Djuanda, Suwardi, Buya Hamka, Abubakar Atjeh, dan Oemar Husein Amin.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA