Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 14 Agu 2020 11:12 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Perajin Topeng di Yogyakarta Kembali Bertani atau Kerja Serabutan

Kristina
detikTravel
Pengrajin di desa topeng Bobung, Yogyakarta beralih profesi karena COVID-19.
Koleksi topeng di desa wisata Bobung, Gunung Kidul, Yogyakarta (Kristina/detikTravel)
Yogyakarta -

Pandemi virus Corona berdampak signifikan terhadap aktivitas di desa wisata Bobung, Gunung Kidul, Yogyakarta. Perajin topeng kembali menekuni pertanian atau kerja serabutan.

Wabah COVID-10 berimbas kepada bidang kerajinan. Desa Bobung yang berpredikat sebagai desa wisata dengan suguhan utama kerajinan pun babak belur dibuatnya.

"Memang saya pribadi yang tadinya karyawan saya banyak, (selama pandemi ini) macet. Saya nggak bekerja. Saya bingung ini. Usaha-usaha (kerajinan batik kayu) di Bobung ini semua macet," Sujiman, perajin topeng Desa Wisata Bobung, mengeluhkan situasi saat ini kepada detikcom, Kamis (13/08).

Perajin topeng yang bergelut sejak tahun 1973 itu terpaksa merumahkan semua karyawannya sejak bulan Februari 2020. Tercatat dari bulan Februari hingga Agustus Sujiman, mendapatkan uang Rp 120.000 dari hasil penjualan souvenir.

Belakangan ini, kerajinan batik kayu, khususnya topeng, mengalami penurunan daya beli. Sujiman bilang topeng-topeng itu bahkan kurang laku sejak sebelum pandemi virus Corona.

"Sebenarnya saya itu kalau mau membicarakan tentang ini (nasib perajin topeng kayu) nggak sampai hati ya. Karena gini memang sebelum pandemi aja tentang kerajinan topeng kayu aja sudah lesu, daya belinya sudah menurun. Apalagi dengan adanya pandemi ini, semua tidak hanya saya itu macet total," kata Sujiman.

Penurunan daya beli ditambah dengan datangnya pandemi membuat para perajin kehilangan mata pencahariannya. Warga kembali terjun ke sektor pertanian seperti sebelum datangnya kerajinan topeng.

"Ya karena di sini itu awalnya tani, terus beralih menjadi wiraswasta, perajin. Nah, sekarang kembali lagi ke pertanian. Dan saya sendiri nanti akan mencoba ternak ayam," ujar Sujiman.

Sujiman mengingat masa-masa perjuangannya dulu untuk merintis usaha kerajinan topeng. Berbagai kendala ia lalui hingga akhirnya usaha kerajinan di sanggarnya bisa mencapai omset minimal Rp 300 juta tiap bulan.

"Sebelum tahun 2014 itu memang luar biasa (penjualannya). Minimal satu bulan omsetnya Rp 300an juta. Mulai dari 2015 itu menurun perlahan tapi masih laku," dia menambahkan.

Diwawancara di lokasi yang berbeda, Agus, perajin topeng setengah jadi di Sanggar Mulyo, juga mengeluhkan kegiatan produksi terhenti total terhitung sejak bulan April.

"Kurang lebih tiga bulan itu off sama sekali nggak ada permintaan pasar. Baru di bulan Juli kemarin mulai ada permintaan, itu pun dari PT untuk diekspor. Lainnya nggak ada," Agus menjelaskan.

Sebelum pandemi, Agus banyak menerima permintaan pembuatan topeng untuk kegiatan praktik di sekolah.

"Banyak dulu sekolah-sekolah itu pesan ke sini. Dari saya pesan polosan, nah di sana (sekolah) ada praktik untuk mbatik, cat itu," Agus menjelaskan.

Selain berlari ke pertanian, aktivitas produksi dan penjualan yang sempat terhenti membuat para perajin terpaksa beralih profesi seperti menjadi buruh serabutan.

"Jadi kebanyakan kita itu larinya ke seperti bangunan. Ya pokoknya kerjaan yang serabutan. Penting menghasilkan. Kebanyakan kalau di Dusun Bobung itu 70-80 persen penghasilannya dari perajin," kata Agus.

Sebagai destinasi wisata Yogyakarta, Bobung resmi menjadi desa wisata sejak 2011. Desa Wisata yang berada di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta ini merupakan sentra kerajinan topeng terbesar di Yogyakarta. Hampir seluruh warga berprofesi sebagai perajin.

Topeng hasil karya perajin topeng di Desa Bobung itu dijual dengan kisaran harga Rp 35.000 hingga Rp 85.000 untuk barang setengah jadi. Sementara itu, topeng yang telah dibatik dan diberikan warna rata-rata seharga Rp 120.000 tergantung jenis topengnya.

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA