Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 24 Nov 2020 05:02 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Bermata Biru, Mereka dari Suku Minangkabau

Femi Diah
detikTravel
Sahara Amelia (12) berpose di rumahnya, di Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (22/10/2020). Sahara Amelia yang duduk di bangku SMP itu merupakan satu-satunya bermata biru di keluarganya.
Sahara Amelia (12) dari suku Minangkabau yang bermata biru. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Padang -

Sejumlah warga bersuku Minangkabau di Sumatera Barat memiliki mata biru. Karena sindrom Waardenburg.

Cuma sedikit penduduk Indonesia bermata biru. Dikutip dari Antara, di antara yang sedikit itu ada di Sumatera Barat, orang-orang yang bersuku Minangkabau.

Tapi, mata biru itu tidak seperti milik orang-orang Eropa. Mata biru warga suku Minangkabau itu merupakan sindrom Waardenburg, sindrom langka yang menyebabkan gangguan pendengaran, perubahan warna mata, kulit, rambut, dan bentuk wajah.

Mereka yang memiliki sindrom Waardenburg itu biasanya memiliki iris mata berwarna biru atau berbeda warna (Heterokromia iridium), seperti satu biru dan satu hitam atau coklat.

Nama sindrom yang bikin mata biru itu diambil dari nama D.J. Waardenburg, dokter mata asal Belanda yang pertama kali mengidentifikasinnya pada tahun 1951.

Dokter Alana Biggers, lulusan Universitas Illinois Chicago, Amerika Serikat mengatakan Sindrom Waardenburg adalah kondisi genetik langka, yang hanya diderita oleh 1 dari 40.000 orang di dunia.

Orang dengan sindrom itu biasanya mengalami gangguan pendengaran di salah satu maupun di kedua telinganya. Selain itu, mereka juga tidak mampu melihat cahaya yang sangat terang, tapi bisa melihat benda meskipun dalam kondisi gelap.

Seperti yang dialami dua anak laki-laki di Jorong Kubang Rasau, Nagari Balai Panjang, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat, Fahri (9) dan Gofar (4).

Mereka memiliki warna iris mata biru, dan sebelahnya berwarna cokelat. Mata biru mereka indah seperti berlian, tapi mereka mengalami gangguan pendengaran sejak lahir.

Restu Ayu (29) berpose di rumahnya, di Jorong Dalam Koto, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat, Rabu (21/10/2020). Restu Ayu yang merupakan seorang ibu rumah tangga itu memiliki dua iris mata bewarna biru yang kemudian ia turunkan ke anak keduanya.Restu Ayu (29) berpose di rumahnya, di Jorong Dalam Koto, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat, Rabu (21/10/2020). Restu Ayu yang merupakan seorang ibu rumah tangga itu memiliki dua iris mata bewarna biru yang kemudian ia turunkan ke anak keduanya. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Orangtua Fahri dan Gofar, Yulia Eliza (29), yang memiliki iris mata berwarna cokelat terang itu menyebut tidak mampu untuk membeli alat pendengaran untuk anaknya. Sebab, harganya tidak terjangkau oleh kantong mereka.

Yulia bilang dokter pernah menyarankan kepadanya agar diberi alat pendengaran seharga Rp24 juta setiap unitnya. Sementara itu, pilihan lain adalah dengan operasi dengan biaya Rp 500 juta untuk kedua anaknya.

Serupa, Dani (6,5) dan adiknya, Alika (2,5), warga Jorong Padang Data, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat juga mati kutu. Mereka berdua memiliki mata biru tapi mengalami gangguan pendengaran sejak lahir.

Orangtua dari kedua anak tersebut, Jainal (33) menyebut pernah menerima saran dokter agar menyekolahkan Dani setahun lagi di SLB. Setelah itu, baru ditinjau kembali apakah sudah bisa menggunakan alat dengar atau belum.

Meski demikian, Jainal, yang sehari-sehari bekerja sebagai petani tersebut, ragu untuk bisa mendapatkan alat bantu pendengaran itu. Bahkan, dia masih menunggak iuran BPJS kesehatan karena kesulitan di masa pandemi COVID-19.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Prosesi Pelepasan Tabuik Ke Pantai Gandoriah Pariaman Sumatera Barat"
[Gambas:Video 20detik]

BERITA TERKAIT
BACA JUGA