Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 12 Des 2020 18:48 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Cerita Suku Dayak Bertahan di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Syanti Mustika
detikTravel
suku dayak salako di sajingan besar
Upaya Suku dayak bertahan di perbatasan. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Suku Dayak merupakan suku mayoritas yang menghuni Kalimantan, termasuk di dalam kawasan perbatasan. Mereka punya beragam cara untuk bertahan.

Kita patut bangga menjadi bangsa Indonesia yang sangat kaya kan keberagaman sosial dan budayanya. Salah satunya adalah adanya Suku Dayak yang menghuni daratan Kalimantan.

detikcom bersama BRI datang ke Aruk, daerah perbatasan antara Indonesia- Malaysia yang berada di Kalimantan Barat. Walaupun penduduk di kawasan ini beragam latar sosial, namun yang menjadi mayoritas di sana tetaplah Suku Dayak.

"Adapun di Sajingan Besar ini mayoritas adalah Dayak Salako," kata Roy, salah seorang seniman Dayak yang juga penggiat budaya di Sajingan Besar.

suku dayak salako di sajingan besarRitual minta izin dengan leluhur Foto: (Rengga Sancaya/detikcom)
suku dayak salako di sajingan besarRitual memanggil roh leluhur Foto: (Syanti/detikcom)

Roy menceritakan suka dukanya dalam mempertahankan budaya Dayak. Adapun tantangannya adalah perkembangan zaman.

"Tantangan kita sekarang adalah bagaimana mendapatkan perhatian generasi muda. Mereka sekarang sibuk dengan ponsel dan menjadi tidak tertarik dengan budayanya. Itulah tantangan kita, kita tetap ingin supaya budaya kita tidak hilang," ujar Roy.

Simak video "Mengenal Lebih Dekat Suku Dayak di Perbatasan Aruk-Malaysia"

[Gambas:Video 20detik]



Pada saat Tim Tapal Batas detikcom datang, kami disambut dengan tarian tradisional Dayak. Roy mengatakan ini adalah tarian sambutan untuk tamu.

"Yang akan kami tampilkan adalah Tari Ngajat, tarian penyambutan. Ini salah satu tradisi Dayak untuk menyambut tamu yang datang ke tempat kami," jelas Roy.

suku dayak salako di sajingan besarTari Ngajat Foto: (Rengga Sancaya/detikcom)

Sebelum tarian dimulai, kami pun melihat proses ritual pemanggilan roh leluhur. kata Roy, sebelum melakukan kegiatan berbau adat kita harus minta izin dulu pada roh leluhur.

"Setiap melakukan kegiatan yang berhubungan dengan adat, kami harus minta izin dahulu ke leluhur," ujar dia.

Pada saat meminta izin ke leluhur, beberapa remaja yang sudah dipersiapkan untuk menyambut leluhur mulai kerasukan. Dengan mata terpejam, awalnya mereka kejang seperti ada yang masuk ke dalam tubuh mereka. Tak lama kemudian mereka menari-nari kecil.

Kami pun tertegun. Ternyata begitu sangat konsisten orang Dayak menjaga hubungan yang harmonis dengan leluhurnya. Tak lama kemudian, para remaja laki-laki ini pun kembali sadar dan melempar senyuman kepada kami. Barulah kemudian mereka melakuakn Tari Ngajat.

"Kami di sini punya sanggar, namanya Sanggar Sabata. Kegiatan kami mulai dari tarian, mengukir, kerajinan tangan dan membuat patung. Semuanya yang berhubungan dengan Suku Dayak. Kegiatan ini sebenarnya sudah lama kami rintis, namun sempat mati hidup. Sekarang kami mulai merintis lagi," kata Roy.

suku dayak salako di sajingan besarAneka hasli kerajinan tangan Foto: (Syanti/detikcom)

"Nah inilah yang ingin kami kenalkan ke anak-anak muda, untuk tahu budayanya, kenal dengan apa yang dia punya. Makanya kami melakukan pendekatan dan melatih anak-anak muda ini," dia menjelaskan.

Bersama-sama dengan warga desa, Roy mengatakan bahwa mereka juga punya banyak kendala. Salah satunya, keterbatasan alat dan pemasaran.

"Kami berharap perhatikan dari pemerintah, karena peluang di sini banyak yang bisa digali. Kita butuh dukungan juga. Kesulitan kami yang lain adalah pemasaran, di sini kurang sekali peminat. Saya pun hanya akan mengukir atau mematung jika ada yang memesan," ujarnya.

"Dan biasanya yang membeli itu TNI, mereka kan sering berpindah tempat. Sebelum mereka pindah, mereka akan memesan perisai atau mandau. Biasanya, mereka dengar dari mulut ke mulut, dan kemudian datang ke rumah. Itulah kesulitan kami, kurangnya pemasaran padahal di sini banyak yang bisa mengukir," Roy mengisahkan.

Tertarik membawa pulang hasil kerajinan Suku Dayak, tapi kekurangan uang tunai? Traveler tak perlu khawatir. Perlu nih kamu ketahui, di kawasan PLBN Aruk kamu bisa menjumpai ATM BRI. Jaraknya sekitar 4 Km dari pos perbatasan atau 6 menit berkendara. Lokasinya dekat dengan Puskesmas Sajingan Besar. Atau kamu bisa juga menggunakan jasa para agen BRILink yang tersebar di Aruk. Gampangnya datang saja ke toko kelontong di sana. Banyak kok yang dekat PLBN Aruk.

---

Ikuti terus jelajah Tapal Batas detikcom bersama BRI di tapalbatas.detik.com!

Simak video "Mengenal Lebih Dekat Suku Dayak di Perbatasan Aruk-Malaysia"

[Gambas:Video 20detik]



(sym/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA