Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 25 Des 2020 06:41 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Tuak Khas Malaka Wajib Ada di Upacara Adat, Tak Diizinkan Pemerintah

Femi Diah
detikTravel
Sopi, tuak khas Malaka
Sopi, minuman beralkohol khas Malaka (Femi Diah/detikTravel)
Malaka -

Malaka memiliki minuman beralkohol yang selalu hadir dalam upacara adat. Namanya sopi. Tapi, oleh pemerintah setempat dilarang.

Sopi diproduksi sebagai usaha rumahan warga. Mereka memanfaatkan nira yang tumbuh liar di sekitar rumah.

Salah satu warga Malaka yang membuat sopi adalah Yulius Tapatap. Pria 61 tahun itu tinggal di Dusun Weisuma, Desa Litemali, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Yulius memproduksi sopi sejak 2001 atau dua tahun setelah pindah ke Litemali dari Kupang.

"Saya masak sopi sejak 2001. Saya tidak pernah berkebun, cuma membuat sopi. Kemampuan itu nenek moyang saya biasa masak sopi," kata Yulius dalam wawancara dengan detikTravel di tapal batas detikcom yang didukung oleh BRI.

Yulius bilang memproduksi sopi sejak dari mengambil nira dari pohon lontar membutuhkan waktu berhari-hari. Dia harus menunggu tiga hari tiga malam untuk menunggu nira keluar dari buah lontar. Biasanya, satu pohon menghasilkan 30 liter nira.

Setelah itu, nira dikumpulkan di dalam drum dan dicampur dengan resep spesial Yulius. Nira disimpan selama dua hari di dalam drum itu.

"Obatnya banyak, tidak bisa saya sampaikan. Itu rahasia dapur," kata Yulius kemudian tertawa.

"Setelah itu, air dimasak. Uapnya akan mengalir lewat bambu-bambu panjang ini. Semakin panjang bambu maka akan semakin mengurangi kemungkinan uap lontar tercampur dengan asap. Sudah enggak enak kalau ada asapnya," ujar Yulius.

Yulius akan memberikan perhatian khusus pada tetesan pertama hasil penyulingan itu. Sebab, 6 liter tetesan pertama merupakan sopi yang paling keras.

"Harganya juga berbeda. Untuk jerigen pertama itu paling mahal," dia menambahkan.

Enam liter tetesan sopi pertama dihargai dengan nominal Rp 50 ribu, sedangkan setelah liter ketujuh dab selanjutnya dibanderol Rp 10 ribu.

Upacara Adat

Menurut Yulius, sopi yang dibuatnya selalu habis. Dia telah memiliki pelanggan tetap. Apalagi, sopi digunakan dalam setiap acara adat.

"Sopi sangat penting untuk masyarakat Timor. untuk acara adat, misalnya upacara bikin rumah adat, pesta. Saya ditangkap tiga kali, tapi tokoh masyarakat tidak bisa karena acara adat itu harus ada sopi," kata Yulius.

Dari penjualan sopi itu, Yulius bisa meraup pendapatan sebesar Rp 3 juta per bulan.

"Saya tidak punya kebun di sini. Saya benar-benar menggantungkan hidup dari sopi.

Kendati lekat dengan upacara adat, produksi sopi belum sepenuhnya diizinkan oleh pemerintah Malaka. Yulius pernah dilaporkan sebanyak tiga kali.

"Saya ditangkap tiga kali karena menjadi produsen sopi. Tapi, tokoh adat bilang tidak bisa karena acara adat harus ada sopi," dia membeberkan.

***

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Sopi, Minuman Tradisional NTT"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA