Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 24 Des 2020 12:43 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Potensi Oleh-oleh dari Malaka: Madu Hutan, Mete, Pisang, sampai Tuak Khas

Femi Diah
detikTravel
Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton.
Mete salah potensi oleh-oleh dari Malaka yang belum tergarap. (Grandyos Zafna/detikFOTO)
Malaka -

Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, belum menjadikan alam sebagai sumber cuan lewat pariwisata. Begitu pula dengan oleh-olehnya belum tergarap.

Malaka memiliki bentang alam beragam, berupa pantai dan bukit. Juga, budaya yang khas Timor dengan ratusan suku yang mendiaminya.

Tapi, potensi itu belum tergali menjadi ladang pendapatan daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Belu tujuh tahun silam. Padahal, sebagian besar jalan sudah beraspal. Ketersediaan air bersih pun mulai mendapatkan solusi dengan dibangunnya sumur-sumur bor di sejumlah tempat.

Dari sisi oleh-oleh, Malaka memiliki potensi yang menjanjikan dari madu hutan, mete, dan minuman tuak khas sopi.

"UMKM berpotensi mendukung wisata pantai. Menurut saya karena tidak diberdayakan pada 2019, wisata sempat terbengkalai karena kurang dirawat, nasabah kita yang pada tahun sebelumnya membuka usaha di kawasan wisata pantai juga menjadi tidak rutin berjualan lagi," kata Poulin Natalia Gella, Kepala Unit BRI Kobalima, Malaka dalam perbincangan dengan detikTravel dalam ekspedisi tapal batas detikcom yang didukung oleh BRI.

Poulin Natalia Gella, kaunit BRI KobaliaPoulin Natalia Gella, Kepala Unit BRI Kobalia Foto: Femi Diah/detikTravel

Salah satu nasabah BRI di Desa Babulu Selatan, Arnoldus Iku, misalnya. Dia mengambil pinjaman di bulan April 2020 untuk bertanam mete. Kini, setiap tiga bulan sekali dia bisa panen 1,5 ton mete.

Oleh Arnpldus, mete itu dijual ke Atpupu dan Atambua dalam bentuk mentah. Padahal, mete bisa diolah menjadi oleh-oleh khas Malaka.

Selain itu, Malaka juga penghasil madu hutan. madu-madu itu dikemas dengan botol dengan sangat sederhana, botol bekas air mineral.

Malaka juga penghasil pisang. Oleh penduduk setempat pisang dikonsumsi untuk kepentingan pribadi ataupun dijual secara mentah ke daerah lain.

Selain itu, oleh warga setempat kulit pisang dijadikan minuman beralkohol.

"Kami menyebutnya anggur pisang. Kadar alkoholnya tidak tinggi, biasanya dikonsumsi oleh mama-mama dan nona-nona. kalau untuk laki-laki kurang (keras)," kata Kepala Dinas Pariwisata Malaka, Rofinus Bau.

Tuak untuk laki-laki di Malaka disebut sopi. Bahannya dari nira lontar yang tumbuh liar di kabupaten itu.

tentang Malaka perbatasan RI dan Timor LesteSopi, tuak khas Malaka di perbatasan RI dan Timor Leste Foto: Femi Diah/detikTravel

"Harga per liternya bervariasi. Tetesan pertama jauh lebih mahal ketimbang yang berikutnya," kata Yulisu Tapatap (61) warga Desa Litemali, Kobalima, Malaka, yang memproduksi sopi secara tradisional.

***

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Buka Seminggu Sekali, Pedagang Sembako Untung Rp 3 Juta Sehari"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA