Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 01 Jan 2021 09:42 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Sensasi Pacu Adrenalin, Telusuri Perut Bumi di Bogor

Nasrullah
detikTravel
Gua Gudawang
Foto: (Nasrullah/d'travelers)
Jakarta -

Kalau menyukai liburan gaya petualang atau sekadar ingin mencoba hal baru, boleh menjajal kegiatan susur gua. Seperti apa keseruannya?

Sensasi berada dalam ruang gelap lalu berjalan mengandalkan cahaya lampu senter, menyusuri sungai kecil di lantai gua dan sesekali menghindari kepakan sayap kelelawar, bahkan menunduk hingga merayap melewati langit-langit yang rendah hampir menyentuh dasar gua, memberikan pengalaman yang tidak biasa bagi bukan penggemar kegiatan susur gua atau caving.

Apabila tinggal di sekitar Jabodetabek, kompleks Gua Gudawang bisa menjadi pilihan. Kawasan yang terletak sekitar 33 kilometer dari BSD, Serpong atau 50 kilometer dari Kebun Raya Bogor ini memiliki sekitar 12 gua. Meski demikian, hanya tiga gua yang bisa dikunjungi oleh publik. Gua Sipahang, Simasigit, dan Simenteng.

Gua GudawangGua Gudawang Foto: (Nasrullah/d'travelers)

Perjalanan menuju lokasi ini bisa dijangkau oleh mobil. Kondisi jalan dari arah Stasiun Parung Panjang juga cukup baik dan layak dilalui mobil jenis SUV. Perjalanan sudah diberi pemandangan lalu lalang truk yang mengangkut bebatuan dari perut bumi.

Tiba di lokasi, area parkir juga dikelilingi oleh dinding batu kapur. Setelah membeli tiket dan mendapatkan pemandu, kami mulai susur gua. Pemandu mengarahkan kami ke Gua Sipahang, gua terpanjang sekitar 600-700 meter.

Meski demikian, kami putusnya hanya menyusuri setengahnya saja setelah mendengar penjelasan bahwa di ujung gua tersebut ada bagian yang kedalaman sungai mencapai dada orang dewasa.

Dari area parkir, kami berjalan sekitar 300 meter melewati jalan setapak yang sudah semen dan di bawah teduhnya pepohonan menuju mulut Gua Sipahang. Setelah tiba, kami harus turun sekitar 10 meter menuju pintu masuk. Perjalanan dimulai.

Kami mengikuti pemandu yang berjalan di depan. Di lantai gua mengalir sungai kecil setinggi mata kaki. Meskipun terletak di dalam perut bumi, udara tidak terasa pengap, bahkan terasa segar dihirup. Namun, bau tajam dari kotoran kelelawar sangat terasa.

Beberapa ekor kelelawar terbang wara-wiri saat kami lewat. Beberapa bagian gua bisa dilewati dengan berjalan tegak, namun lainnya harus jongkok bahkan merangkak.

Beberapa kali kami harus berhenti dan antre untuk bisa melewati celah rendah. Sekitar setengah perjalanan, kata pemandu, kami berhenti dan berfoto dengan latar stalagtit dan stalagmit. Tak lama, kami lalu berbalik pulang menuju mulut gua.



Simak Video "Mengunjungi Taman Wisata Tirta Sanita, ada Tempat Relaksasinya, Bogor"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/elk)
BERITA TERKAIT