Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 01 Nov 2021 15:51 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Panjang Umur Kenang-kenangan Soeharto dan Ibu Tien di Tahura Djuanda Bandung

Yudha Maulana
detikTravel
Tahura Djuanda Bandung
Tahura Djuanda Bandung (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung -

Hujan gerimis mengguyur Taman Hutan Raya (THR) Ir Djuanda pada Minggu siang. Aroma petrikor tercium semerbak dari tanah subur 7 kilometer di sebelah utara pusat Kota Bandung.

Di antara keanekaragaman flora di hutan raya, berdiri megah pepohonan pasang (Quercus sp.) setinggi kurang lebih 20 meter. Pepohonan pasang atau ek (oak) itu menjadi memento Presiden kedua RI H M Soeharto dan istrinya Raden Ayu Siti Hartinah, atau yang dikenal dengan sebutan Ibu Tien.

Itulah kenang-kenangan yang masih bisa dilihat sampai sekarang. Pohon itu ditanam pada hari pertama peresmian THR Djuanda, tepatnya pada 14 Januari 1985.

Informasi itu tersimpan dalam papan informasi yang menyertai pohon ek tersebut. Dari literatur yang dihimpun detikTravel, Ibu Tien lah yang memotong pita selubung patung Ir H Djuanda sebagai simbol peresmian hutan raya seluas 526,98 hektare tersebut.

Lokasi pohon ek yang ditanam Soeharto dan Ibu Tien hanya terpaut beberapa puluh meter saja dari altar dan patung Ir H Djuanda. Pepohonan itu bersemayam bersamaan dengan pohon ek yang ditanam Gubernur Jawa Barat pada masa itu Aang Kunaefi, dan istri Ir Djuanda.

Tahura Djuanda BandungTahura Djuanda Bandung (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Mengulas ke belakang, THR Djuanda awalnya merupakan hutan lindung Pulosari yang dibangun pemerintah Hindia Belanda. Awalnya, THR dirintis pada tahun 1912 berbarengan dengan pembangunan terowongan penyadapan air Sungai Cikapundung. Taman ini merupakan yang terbesar yang dibangun pemerintah kolonial.

Masuk ke era kemerdekaan, Hutan Lindung Pulosari ini dikelola pemerintah Republik Indonesia oleh Djawatan Kehutanan dan kemudian berubah menjadi Kebun Raya Rekreasi Ir H Djuanda pada masa Gubernur Mashudi (1965).

Seiring berjalannya waktu, tahun 1978 pengelolaan dari Djawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat diserahkan ke Perum Perhutani Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1985, Mashudi, Ismail Saleh, dan Menteri Kehutanan Soedjarwo mengusulkan kepada Soeharto untuk mengubah status Taman Wisata Curug Dago menjadi taman hutan raya.

"Awalnya THR Ir Djuanda dibangun Hindia Belanda berbentuk hutan lindung untuk kawasan konservasi, kemudian setelah merdeka oleh pak Mashudi gubernur Jabar kala itu mengusulkan kepada presiden Soeharto menjadi THR, nah THR ini yang pertama di Indonesia yang dikelola oleh pemerintah Indonesia," ujar Kepala Pengelola THR Ir Djuanda Lianda Lubis saat dihubungi, Senin (1/11/2021).

Tahura Djuanda BandungTahura Djuanda Bandung (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Usulan itu dikabulkan Soeharto dengan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1985 tertanggal 12 Januari 1985. Peresmian kemudian dilakukan pada 14 Januari 1985, yang bertepatan dengan hari kelahiran Ir H Djuanda yang merupakan Perdana Menteri Indonesia ke-10 yang wafat pada tahun 1963.

Lianda mengatakan, Soeharto dan Ibu Tien pun menanam pohon dalam rangkaian peresmian THR Djuanda. "Seperti pada umumnya dilakukan penanaman pohon, menteri-menteri yang lain juga ikut menanam," ujar Lianda.

Secara administrasi THR IR Djuanda masuk ke dalam wilayah tiga kabupaten/kota. Sebagian masuk ke wilayah Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Sebagian lagi masuk ke wilayah Desa Cibodas, Langensari, Wangunharja Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Sedangkan sebagian kecil dari Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong Kota Bandung.



Simak Video "Penjelasan Polda Jabar Soal Kasus Pemerkosaan 12 Santriwati"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA