Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 04 Nov 2021 13:46 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Menelusuri Jejak Kolonial di Pabrik Kopi Karanganyar Blitar

Erliana Riady
detikTravel

Lalu rumah loji, dengan dua kamar yang menarik perhatian pengunjung. Kamar depan, disebut pernah disinggahi Presiden Soekarno. Lengkap dengan pernik dan barang-barang milik Presiden pertama RI yang diperoleh dari Hotel Indonesia, Jakarta.

Kamar belakangnya, adalah kamar pribadi Denny Roeshadi. Semua barang antik dipajang tertata rapi sesuai kondisi aslinya. Mulai tempat tidur, meja kerja, tas kerja, lampu, almari. Sampai mesin ketik, radio dan televisi. Disela-sela ornamen antik di ruangan itu, juga tampak senjata laras panjang yang dipakai tentara Belanda menjajah Indonesia. Bagi penikmat lukisan, koleksi keluarga berdarah biru ini akan memanjakan pandangan dan menyejukkan alam bawah sadar anda.

"Kami merasa, semua keindahan ini bisa dinikmati semua orang. Banyak sejarah, benda antik, lukisan beberapa seniman, yang bisa menambah wawasan wisatawan yang berkunjung," imbuhnya.

Bangunan berikutnya adalah gudang dan gedung produksi. Dua bangunan ini terletak di bagian belakang. Berjalan menuju gedung ini, pengunjung disuguhi deretan pohon pinus yang megah berdiri, diantara cantiknya bunga taman yang memesona.

Mesin-mesin pabrik yang diproduksi dengan cap tahun 1843 masih ada, walaupun tidak difungsikan. Kincir air modifikasi besi baja dan kayu untuk mencuci biji kopi, juga masih ada. Plat-plat besi baja menjadi bagian tak terpisahkan di tiap tapak tangga bagian produksi.

Sisi paling timur, adalah bangunan tempat menyangrai biji kopi. Dua tungku besi teronggok di bagian bawah dengan kondisi tidak terawat. Sebuah tembok cerobong asap, kokoh menjulang, meninggalkan jejak kejayaan pabrik itu pada masanya.

"Kami tidak merekonstruksi bangunan yang ada. Semua terjaga sesuai aslinya. Hanya saja, selama pandemi ini memang kurang terawat, karena kami menutup destinasi wisatanya," ungkap Herry.

Sebelum pandemi melanda, ngopi disini serasa di Belanda. Selain bangunan dan ornamennya menciptakan atmosfer yang berbeda, beberapa bule juga menjadi pramusajinya. Mereka juga memakai baju noni Belanda.

Memasuki era new normal, De Karanganjar Koffieplantage kembali berbenah. Untuk menambah khasanah budaya dan sejarah, mereka membuka museum Blitaran. Isinya beragam, seperti batik tutur khas Blitar, keris senjata dan ageman serta lukisan sang mestro, Basuki Abdullah.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(elk/elk)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA