Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 04 Apr 2022 05:12 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ini Dia Pawang Hujan dari Borobudur Biasa Tangani Gowes Sampai Wedding

Eko Susanto
detikTravel
Penghalau hujan di Borobudur, Agustinus Sumadiyono, Selasa (22/3/2022).
Agustinus Sumadiyono, pawang hujan dari Borobudur. (Eko Susanto/detikcom)
Magelang -

Pawang hujan rupanya biasa digunakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Salah satu nama pawang hujan tersohor di Jateng dan Jogja ada di Borobudur.

Nama pawang hujan itu Agustinus Sumadiyono (63). Sejatinya, Agustinus tidak hanya berperan sebagai pawang hujan.

Dia sohor sebagai sosok yang 'mengamankan' berbagai acara. Tidak hanya dari hujan, tapi dari hal-hal lain yang bisa menghambatnya.

"Kalau yang sering itu ya gowes. Jadi kalau gowes itu kan ngikuti. Ada yang monitor seumpama di daerah ini mendung, terus dikirim video. Kalau gowes mintanya teduh, tapi nggak hujan. Saya sendiri nggak tahu kekuatan dari mana. Saya minta doa saja," ujarnya dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu.


Selain itu, Agustinus mengungkap pernah bertugas beberapa acara lain di kawasan Borobudur. Mulai dari momen pejabat negara atau tamu-tamu penting di Candi Borobudur hingga konser Westlife. Selama ini, Madiyo mengaku tak pernah mematok tarif untuk jasanya.

"Kalau wedding yang besar itu Tanoto Foundation, Vicky Shu, terus (konser) Westlife. Kalau Westlife dari awal," ujar Madiyo.

Meski begitu dia juga menerima permintaan acara pernikahan. Tak hanya di Magelang, dia justru sering mendapat panggilan dari acara pernikahan di Yogyakarta.

"Saya malah sering ke Jogja. Kalau wedding-wedding Jogja itu biasanya memakai saya. Padahal, saya sendiri nggak enak, teman-teman (pawang hujan) Jogja kan banyak. Saya lebih banyak di Jogja dibanding di daerah. Kalau di daerah (Borobudur) paling Amanjiwo, Pelataran, di dalam (kompleks Candi Borobudur) sama balkondes-balkondes," kata dia.

Madiyo bercerita dirinya mengawali ritualnya dengan berdoa. Dalam doanya itu, kata Madiyo, dia meminta Tuhan membantunya agar alam semesta bisa diajaknya berkompromi.

"Jadi kalau (menurut) saya, ada langit, ada air, ada angin, ada matahari. Empat ini yang kita minta supaya bisa membuka. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa begitu. Saya sendiri nggak punya guru. Saya hanya percaya kepada Tuhan, kalau di Borobudur itu ya ada pepunden. Kalau acara di Taman (Borobudur) saya biasanya di Museum," cerita Madiyo.

***

Selengkapnya di detikJateng klik di sini.



Simak Video "Sirkuit Jepang Diguyur Hujan, MotoGP Panggil Rara Sang Pawang Hujan"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA