Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 02 Jul 2022 13:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Bangunan Tua di Cianjur, Saksi Kejayaan Pengusaha Cina di Zaman Baheula

Ikbal Selamet
detikTravel
Bangunan Suge di Cianjur.
Foto: Ikbal Selamet/detikJabar
Jakarta -

Sebuah bangunan tua berdiri di persimpangan jalan wilayah perkotaan Cianjur. Masyarakat mengenalnya dengan nama Suge. Bangunan itu ternyata menyimpan sejarah kejayaan pengusaha besar dari Etnis Cina di Kota Santri.

Bangunan tua itu persis berada di pertigaan Jalan protokol Cianjur, yakni Jalan Otista, Jalan Ir H Juanda, dam Jalan Taifur Yusuf.

Sekilas, siapapun bisa melihat jika bangunan itu merupakan bangunan tua. Sayangnya bangunan tersebut tak terawat hingga bagian atap dan dalam bangunan sudah mulai rusak serta runtuh.

Masyarakat pun kerap menjadikan bangunan itu sebagai patokan jika menunjukan lokasi di sekitarnya atau berhenti dari angkutan umum. Meski banyak yang mengenal bangunan itu dengan sebutan Suge, sebenarnya bangunan itu bernama Gow Su Gwe yang diambil dari nama pemiliknya.

"Dulu itu toko, nama pemiliknya Gow Su Gwe, seorang etnis Cina yang tinggal dan membuka usaha di Cianjur. Bangunan itu dinamakan sesuai nama pemiliknya. Tapi sekarang ini lebih dikenalnya Suge," ungkap sejarawan Cianjur Pepep Johar, Sabtu (2/7/2022).

Bangunan Suge di Cianjur.Bangunan Suge di Cianjur. Foto: Ikbal Selamet/detikJabar

Pepep menjelaskan Gow Su Gwe merupakan toko kelontong. Namun bukan toko kelontong biasa, melainkan pemasok makanan dan snack untuk orang Eropa, terutama Belanda, pada masa penjajahan.

Kepiawaian Gow Su Gwe sebagai pemilik dalam berdagang dan kemampuannya berbahasa Belanda membuatnya semakin dipercaya menjadi pemasok utama makanan.

"Dulu tidak banyak yang bisa berbahasa Belanda, bahkan para pengusaha dari etnis Cina. Namun Gow Su Gwe ini mau belajar hingga fasih, makanya bisa dipercaya jadi pemasok makanan dan snack untuk bangsa Eropa dan utamanya Belanda di Cianjur," kata dia.

Terpuruk Akibat Isu SARA

Kejayaan Gow Su Gwe bahkan bertahan hingga masa kemerdekaan. Usahanya tidak hanya sebatas makanan dan snack, tetapi juga bahan material.

"Awalnya kelontongan, kemudian pemasok makanan dan snack, sampai ada juga material. Hanya tidak lengkap, beberapa jenis material saja yang dijual," ungkapnya.

Sayang masa kejayaan itu hanya bertahan hingga tahun 1960-an. Kerusuhan akibat isu SARA yang pecah pada 1962 dan 1965 membuat Toko Gow Su Gwe turut menjadi sasaran penjarahan hingga perusakan.

"Sebenarnya etnis Cina dan pribumi di Cianjur saat itu damai-damai saja. Tapi karena hasutan yang kuat, kerusuhan juga terjadi di Cianjur. Akibat kerusuhan itu, Gow Su Gwe jatuh dari masa kejayaannya," ucap Pepep.

Bangunan Suge di Cianjur.Bangunan Suge di Cianjur. Foto: Ikbal Selamet/detikJabar

Tidak lama setelah kerusuhan dan anjloknya usaha yang dijalaninya, Gow Su Gwe meninggal dunia. Usaha Gow Su Gwe sempat dijalankan keturunannya, namun tak berhasil.

Kini bangunan itu hanya menjadi saksi bisu kejayaan Etnis Cina dalam berdagang di Cianjur serta kelamnya kerusuhan akibat ksu SARA.

"Sekarang tidak terawat dan hanya jadi saksi bisu dari semua kejadian mulai dari masa penjajahan hingga tahun 60-an," ungkapnya.

---

Artikel telah tayang di detikJabar.



Simak Video "Pemandangan Miris Warga Cianjur Tantang Maut Lewat Jembatan Kawat"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA