Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 01 Des 2022 18:33 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Loji Gandrung, Lokasi Upacara Adat Ngunduh Mantu Kaesang

Loji Gandrung Solo, Selasa (18/12/2018).
Loji Gandrung Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Acara ngunduh mantu pernikahan Kaesang Pangarep-Erina Gudono berada di Kota Solo. Lebih rinci, Loji Gandrung jadi tempat upacara adatnya. Apa itu?

Jadi, acara adat ngunduh mantu akan digelar di Loji Gandrung dan acara jamuan akan di gelar di Puro Mangkunegaran. Loji Gandrung sendiri merupakan rumah dinas Wali Kota Solo yang terletak di Jalan Slamet Riyadi, Penumping, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Loji Gandrung merupakan salah satu cagar budaya di Indonesia. Bangunan yang bergaya arsitektur Eropa dan Jawa ini punya sejarah keterikatan khusus dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Berikut ini jejak sejarah Loji Gandrung Solo.

Sejarah Loji Gandrung Solo

Dikutip dari situs indonesia.go.id, Loji Gandrung pada era kolonial adalah tempat tinggal Johannes Augustinus Dezentje atau yang dikenal dengan sebutan Tinus. Tinus merupakan seorang saudagar perkebunan gula dan tuan tanah ternama di Ampel, Boyolali.

Tinus adalah anak dari August Jan Caspar, seorang pejabat militer Kolonial Belanda yang berhubungan baik dengan Keraton Kasunanan Surakarta saat itu. Pada tahun 1819, Tinus menikahi salah satu anggota Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu Raden Ayu Cokrokusumo.

Pernikahan tersebut merupakan pernikahan kedua Tinus setelah istri pertamanya, Johanna Dorothea, meninggal dunia pada 1816. Usai menikahi Raden Ayu Cokrokusumo tersebut, keduanya tinggal di Loji Gandrung sebagai rumah keluarga mereka.

Rumah yang ditinggali Tinus meniru bangunan Belanda yang memiliki teras memanjang dan luas, sehingga membuat bangunan tersebut mirip benteng dibandingkan rumah, apalagi dikelilingi tembok tinggi dan pos penjagaan.

Tinus kerap kali mengundang kawan dan relasinya untuk mengadakan acara di rumah besarnya itu. Pesta ataupun acara besar yang kerap kali diselenggarakan di rumah Tinus tersebut kemudian disebut masyarakat sebagai gandrungan, kata dalam Bahasa Jawa yang artinya tergila-gila atau menyukai.

Seiring berjalannya waktu, rumah tinggal Tinus tersebut dikenal dengan nama Loji Gandrung. Kata loji sendiri artinya rumah besar, bagus, dan berdinding tembok dan aslinya berasal dari Bahasa Belanda, loge.

Loji Gandrung Solo, Selasa (18/12/2018).Loji Gandrung Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Di era kemerdekaan, kemudian rumah tersebut dikuasai oleh pemerintah. Bangunan Loji Gandrung memiliki peran sejarah yang cukup besar bagi Kota Solo.

Jenderal Gatot Subroto yang saat itu menjabat sebagai gubernur militer Surakarta pernah menggunakan Loji Gandrung untuk menyusun strategi militer menghadapi Agresi Militer II Belanda pada 1948-1949. Itulah mengapa di halaman depan Loji Gandrung saat ini terdapat patung Gatot Subroto.

Selain Gatot Subroto, Brigade V Letkol Slamet Riyadi juga pernah menggunakan Loji Gandrung untuk mempersiapkan Serangan Umum 1949. Kedua tokoh pahlawan nasional itu telah menjadikan Loji Gandrung sebagai pusat penyusunan kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Karakteristik Bangunan Loji Gandrung

Dikutip dari laman Badan Otorita Borobudur, Kemenparekraf RI, Loji Gandrung merupakan bangunan bersejarah yang mempunyai model atap berbentuk sirap kayu yang menutup hingga keseluruhan bangunan, kemudian membentuk mirip segi lima.

Pada bagian atas memiliki sebuah menara yang berbentuk semu dengan tipe berbentuk kaca patri yang melambangkan kemegahan Kota Solo. Luas bangunan Loji Gandrung yaitu 842,5 meter persegi yang dibangun di atas tanah seluas 6.259 meter persegi.

Sisi kiri Loji Gandrung merupakan area pertemuan dan sisi kanan merupakan area tempat tidur. Masyarakat biasa menyebut sisi kanan Loji Gandrung ini adalah ruang Sukarno. Hal ini karena dulunya Bung Karno kerap kali beristirahat di ruangan sisi kanan Loji Gandrung tersebut sembari bermain piano usai bertugas seharian.

Sejak 3 Mei 2013, Loji Gandrung ditetapkan sebagai cagar budaya. Pemerintah Surakarta kemudian menyiapkan bangunan wisma dua lantai di belakang Loji Gandrung sebagai rumah dinas baru untuk wali kota.

Terdapat dua sayap bangunan Loji Gandrung, yaitu sayap barat yang diperuntukkan staf wali kota dan sayap timur untuk menerima tamu. Sementara itu, di bagian belakang terdapat aula untuk menggelar pertemuan.

Artikel ini sudah tayang di detikJateng



Simak Video "Kapolri Pantau Pengamanan Jelang H-1 Tasyakuran Kaesang-Erina"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA