Grand Canyon memang ada di Amerika Serikat, tapi di Jombang, Jawa Timur traveler bakal menemukan versi mininya di Kedung Cinet. Yuk, lihat!
Jawa Timur memang tak pernah kehabisan destinasi alam tersembunyi. Di Kabupaten Jombang, tepatnya di balik rimbunnya hutan jati, tersimpan sebuah keajaiban alam berupa ngarai sempit dengan aliran sungai jernih yang dikenal dengan nama Kedung Cinet.
Keindahan alam ini kerap dijuluki sebagai Grand Canyon Mini karena formasi batuannya yang unik dan eksotis, mirip seperti Grand Canyon di Amerika Serikat cuma ukurannya lebih kecil.
Formasi batu kapur di Kedung Cinet terbentuk melalui proses alam selama ribuan tahun akibat kikisan aliran air. Perpaduan antara tebing kapur yang menjulang, celah sempit, serta aliran sungai berwarna kehijauan menghadirkan suasana tenang sekaligus memukau.
Tak heran jika lokasi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta wisata alam dan fotografi. Namun, akses menuju Kedung Cinet masih tergolong menantang.
Lokasinya berada di kawasan hutan milik Perhutani, bukan wilayah administrasi desa, sehingga pengunjung harus melewati jalur tanah yang cukup terjal dan licin saat musim hujan.
Kondisi ini membuat Kedung Cinet tetap berstatus sebagai hidden gem yang belum banyak terjamah. Lantas, bagaimana pesona geologi Kedung Cinet hingga disebut sebagai salah satu ngarai paling memikat di Jawa Timur? Berikut ulasan lengkapnya.
Asal-usul Kedung Cinet
Nama Kedung Cinet memiliki makna khas dalam bahasa Jawa. Kata kedung berarti cekungan atau kolam air yang dalam di aliran sungai, sedangkan cinet diyakini berasal dari kata nyenyet yang berarti sepi atau tersembunyi. Penamaan tersebut mencerminkan letaknya yang berada jauh di dalam kawasan hutan.
Meski dikenal sebagai Kedung Cinet, Kepala Desa Klitih, Siti Roaini, menyebut terdapat kekeliruan dalam penyebutan istilah tersebut. Menurutnya, secara esensial kawasan ini merupakan aliran sungai, meski sebutan "kedung" sudah terlanjur melekat di masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa keindahan alam Kedung Cinet telah dikenal sejak lama sebagai salah satu destinasi alam unggulan di Jombang. Secara ilmiah, perubahan bentuk lahan di Kedung Cinet tidak lepas dari proses geomorfologi.
Mengacu pada Jurnal Ilmu Lingkungan, bentuk lahan fluvial merupakan salah satu yang paling dinamis karena dipengaruhi oleh aliran sungai yang memicu proses erosi, transportasi, dan sedimentasi secara berkelanjutan.
Analisis tersebut diperkuat pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Amien Widodo, yang menjelaskan struktur batuan di kawasan Kedung Cinet.
"Secara geologi menyebutnya formasi pucangan. Dalam ilmu Geologi, batuan ini dikelompokkan dalam bentuk formasi batuan. Nah formasi batuan di Kedung Cinet ini lebih banyak batuan pasir, jika kepotong oleh sungai maka bentuknya akan seperti itu," jelas Prof Amien, Jumat (5/12/2025).
Ia menegaskan pembentukan Kedung Cinet murni disebabkan proses alam tanpa campur tangan manusia.
"Dari pengamatan Geologi memang Kedung Cinet ini alami dan murni karena adanya pengikisan juga. Tidak ada campur tangan manusia," lanjut Prof. Amien.
Terkait proses terbentuknya ngarai, Prof Amien membandingkannya dengan fenomena geologi serupa di wilayah lain.
"Ngarai berasal dari patahan karena adanya aktivitas tektonik, seperti contohnya di Ngarai Sianok di Sumatra, namun untuk Kedung Cinet memang belum bisa dipastikan apakah ini ada unsur patahan lempeng bumi atau memang hanya karena pengikisan air laut."
Ia menambahkan bahwa Kedung Cinet masih terus dikaji lebih lanjut oleh para ahli geologi.
"Namun, erosi sungai juga bisa membuat sebuah bentuk seperti Kedung Cinet. Air sungai bisa lewat ya sangat mungkin terjadi karena adanya patahan atau retakan pada celah-celah tertentu," tambahnya.
Simak Video "Video Iran Sebut AS Gunakan Senjata yang Disimpan untuk Perang Dunia III"
(wsw/wsw)