Di balik dinding kokoh Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua Jakarta, tersimpan kisah yang jarang terungkap ke publik. Dari fungsi awal hingga rekonstruksi modern, setiap sudutnya menyimpan jejak sejarah yang kerap luput dari perhatian pengunjung.
Selama tur "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now" yang dipandu oleh Gilang Ramadhan dari Free Guided Tour UPK Kota Tua Jakarta pada Selasa (7/4/2026), detikTravel berkesempatan menyelami sisi otentik dari salah satu landmark utamanya, yaitu Museum Sejarah Jakarta yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah.
Bangunan putih yang ikonik itu bukan sekadar bekas balai kota pada masa kolonial. Di balik arsitekturnya yang megah, tersimpan berbagai jejak sejarah-mulai dari replika air mancur hingga kisah masa lalu yang kelam-yang masih belum banyak diketahui pengunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta Museum Sejarah Jakarta
1. Air Mancur Ikonik: Jejak Sumur Ciliwung Lama yang Direkonstruksi
Di tengah alun-alun di depan museum, sebuah struktur air mancur berbentuk segi delapan dengan atap kubah langsung mencuri perhatian. Banyak yang mengira bangunan itu merupakan peninggalan asli era kolonial Belanda, padahal struktur tersebut sebenarnya merupakan hasil rekonstruksi.
"Air mancurnya sendiri awalnya adalah sumur tua di alun-alun Batavia, yang airnya dialirkan dari Sungai Ciliwung. Kebutuhan air saat itu sangat penting bagi warga," kata Gilang.
Pembangunan awal struktur ini dimulai pada abad ke-18, tetapi kemudian dibongkar pada awal abad ke-19 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Keputusan tersebut diambil karena kualitas air Sungai Ciliwung menurun akibat polusi, serta rencana penataan ulang kawasan kota, termasuk pembangunan jalur trem yang dirancang melintasi area depan balai kota pada akhir abad ke-19.
Nah, bangunan yang terlihat saat ini merupakan hasil rekonstruksi pada periode 1972 hingga 1974 di masa Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Desainnya disusun dengan mengacu pada arsip lukisan karya Johannes Rach, seorang perwira militer Denmark yang pernah menetap di Batavia pada abad ke-18.
2. Replika Istana Kerajaan Amsterdam
Berdiri megah di alun-alun kota, bangunan utama Museum Sejarah Jakarta ini awalnya dikenal sebagai Stadhuis van Batavia (Balai Kota Batavia). Dibangun pada 1707 dan diresmikan pada 1710, desain arsitekturnya memiliki kesamaan dengan bangunan serupa di Eropa.
"Saat pembangunan yang ketiga ini, mereka mencontoh istana Belanda di Amsterdam, yaitu Palace of the Dam atau yang sekarang menjadi Royal Palace of Amsterdam. Jadi, gedung di depan kita ini dibangun semirip mungkin dengan istana tersebut," kata Gilang sambil menunjukkan foto perbandingan kedua gedung.
Ciri paling khas dari bangunan ini adalah Kupola, sebuah struktur mencolok yang menghiasi puncak atap. Secara historis, kubah tersebut berfungsi sebagai saluran ventilasi, menyediakan cahaya alami, berperan sebagai menara lonceng, dan bahkan berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin.
Versi Batavia, meski lebih kecil daripada aslinya di Belanda, tetap berdiri sebagai bukti penegasan kekuasaan VOC di dalam koloni, yang tercermin dalam kesamaan arsitekturnya.
3. Transisi dari Kantor Gubernur Jawa Barat ke Kantor Catatan Sipil
Sebelum diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974 oleh Gubernur Ali Sadikin, Stadhuis van Batavia telah mengalami transformasi fungsi yang signifikan selama bertahun-tahun.
Pada masa kolonial, bangunan ini berfungsi sebagai kantor pemerintahan (Gouverneurskantoor), selain berperan sebagai gedung pengadilan dan kantor catatan sipil.
"Jadi menikah, bercerai, itu di sini dilakukannya," tutur Gilang.
Selama bertahun-tahun, perannya terus berubah. Selama masa pendudukan Jepang, bangunan ini diubah menjadi gudang senjata. Pada tahun 1960-an, bangunan ini berfungsi sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat, sebelum pusat administrasi pemerintah provinsi dipindahkan ke Gedung Sate di Bandung.
4. Sisi Gelap: Tempat Eksekusi Publik
Di balik fasadnya yang megah, museum itu menyembunyikan masa lalu yang memilukan. Bangunan tersebut memiliki peran sebagai gedung pengadilan, menjadi saksi bisu atas pelaksanaan hukuman mati bagi para narapidana.
Gilang memperlihatkan sebuah foto arsip kuno yang menggambarkan eksekusi publik yang diselenggarakan untuk penonton di depan balai kota.
"Eksekusi gantung atau penggal dilakukan di panggung yang warna abu-abu (bagian depan gedung) itu, dan dipertontonkan untuk disaksikan masyarakat," kata Gilang.
Mayoritas dari mereka yang dieksekusi adalah masyarakat pribumi yang dicap sebagai kriminal. Namun, status 'kriminal' ini seringkali bias. Banyak dari mereka ditangkap karena kasus fitnah, atau karena melakukan perlawanan terhadap kolonial (pemberontak). Karena berstatus pribumi di bawah sistem peradilan yang timpang, mereka tidak memiliki suara untuk membela diri.
5. Kini Tempat Wisata, Harga Tiket Murah Meriah
Kini, Museum Sejarah Jakarta berdiri sebagai penjaga memori ibu kota, menyimpan sejarah dari masa prasejarah hingga kemerdekaan. Bagi traveler yang ingin berkunjung, museum ini beroperasi hingga pukul 15.00 WIB pada hari kerja (weekdays) dan buka lebih lama hingga pukul 20.00 WIB pada akhir pekan (weekend).
Sementara itu, harga tiket untuk pengunjung dewasa sebesar Rp 5.000, mahasiswa Rp 3.000, dan pelajar/anak-anak senilai Rp 2.000.
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal
4 Negara ASEAN Bersatu Bangun Rute Kereta Cepat, Tanpa RI