Dataran tinggi Dieng selalu laris untuk liburan. Di sana bukan cuma alam yang indah, tapi juga menyimpan fakta sejarah.
Terpaku di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan lanskap magis yang seolah mempertemukan bumi dengan langit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijuluki sebagai "Negeri di Atas Awan", kawasan ini memanjakan mata dengan hamparan permadani hijau yang diselimuti kabut tipis, di mana kawah-kawah aktif yang mengepul berdampingan harmonis dengan telaga berwarna-warni yang tenang.
Pesona alamnya tidak hanya terletak pada suhu udaranya yang sejuk dan menyegarkan, tetapi juga pada fenomena embun upas yang menyelimuti dedaunan dengan kristal es, menciptakan atmosfer musim dingin yang unik di tengah zamrud khatulistiwa Indonesia.
Jejak-jejak masa lalu terpancar dari gugusan candi batu yang berdiri kokoh di tengah dataran luas, menjadi saksi bisu kejayaan wangsa Sanjaya yang pernah membangun peradaban spiritual di kawah raksasa purba ini. Memasuki wilayah ini bukan sekadar melakukan perjalanan geografis, melainkan sebuah pengembaraan spiritual melintasi ruang dan waktu.
Berikut 9 fakta tentang Dieng:
1. Tempat Bersemayam Para Dewa
Nama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta 'Die Hieyang' yang artinya indah dan langka. Dieng juga terdiri dari dua suku kata; 'Di' dan 'Hyang'. 'Di' memiliki arti gunung atau tempat tinggi, dan 'Hyang' diartikan sebagai dewa-dewi atau ruh leluhur. Secara harfiah, nama Dieng berarti pegunungan atau tempat persemayaman para dewa.
2. Dijuluki 'Negeri di Atas Awan'
Kawasan Dieng berada di ketinggian rata-rata 2.090 mdpl (meter di atas permukaan laut). Lokasinya juga dikelilingi pegunungan yang membuat pemandangan samudra awan tak jarang ditemukan, bahkan terlihat jelas oleh mata. Oleh karena itu, dataran tinggi Dieng kerap disebut 'Negeri di Atas Awan'.
3. Terletak di Dua Kabupaten
Meski dikenal berada di Wonosobo, sebagian kawasan Dieng sebetulnya juga masuk ke wilayah Banjarnegara. Keduanya merupakan kabupaten di Jawa Tengah. Bagian barat Dieng terletak di Banjarnegara dan bagian timurnya di Wonosobo.
4. Dikelilingi Pegunungan
Berada di wilayah pegunungan, Dieng secara alami menyandang predikat sebagai dataran tinggi. Bentang alamnya dipagari oleh Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo, serta terletak tak jauh dari dua gunung legendaris yang dikenal sebagai "si kembar", yakni Sindoro dan Sumbing.
5. Ada Desa Tertinggi di Pulau Jawa
Desa Sembungan yang terletak di kawasan Dieng dikenal sebagai titik pemukiman tertinggi di Pulau Jawa dengan elevasi mencapai 2.300 mdpl. Selain menawarkan panorama sawah terasering dan lanskap perbukitan hijau yang menyegarkan, desa ini juga memiliki prestasi gemilang di tingkat nasional. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya terpilih sebagai salah satu Desa Terbaik pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
6. Punya 22 Kawah
Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kawasan Dieng merupakan rumah bagi 22 kawah aktif yang tersebar di wilayah Banjarnegara (Gunung Api Dieng), Wonosobo, hingga Kabupaten Batang. Distribusi kawah-kawah ini mencakup delapan kawah utama di area Gunung Api Dieng, yaitu Kawah Timbang, Sinila, Sigludug, Sileri, Condrodimuko, Sikidang, Sibanteng, dan Bitingan.
Selain itu, terdapat empat kawah di wilayah Wonosobo yang terdiri dari Kawah Sikidang, Sikunang, Pulosari, dan Pakuwojo. Sementara itu, Kabupaten Batang memiliki lima kawah, yakni Kawah Sibanger, Wanapria, Wanasida, Siglagah, dan Pagerkandang. Di antara puluhan kawah tersebut, Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang menjadi perhatian khusus karena potensi emisi gas beracunnya, terutama Kawah Timbang yang memiliki peluang untuk berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya.
7. Wilayah 'Bersalju'
Fenomena "salju" yang menyelimuti dataran tinggi Dieng sempat viral dan menjadi buah bibir masyarakat beberapa tahun lalu. Namun, secara ilmiah, fenomena tersebut bukanlah salju melainkan embun es atau yang dikenal dengan istilah frost.
Berdasarkan penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), embun es ini terbentuk saat suhu udara merosot tajam hingga mencapai titik beku, yang menyebabkan embun hasil kondensasi berubah menjadi kristal es. Lapisan es tipis ini kemudian melapisi permukaan tanah serta dedaunan, sehingga menciptakan pemandangan putih serupa salju.
Kemunculan frost di wilayah pegunungan seperti Dieng biasanya dipicu oleh kondisi cuaca tertentu yang terpenuhi. Fenomena unik ini umumnya terjadi pada puncak musim kemarau, sekitar bulan Juni hingga Oktober, meskipun durasinya tergolong singkat dan hanya berlangsung pada waktu-waktu terbatas.
8. Anak Bajang Berambut Gimbal
Keberadaan bocah atau anak bajang merupakan salah satu warisan budaya paling ikonik dan unik di Dataran Tinggi Dieng. Ciri khas utama mereka adalah rambut gimbal alami yang hanya boleh dipotong melalui sebuah ritual penyucian khusus yang disebut ruwatan. Berdasarkan informasi dari situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, prosesi sakral pemotongan rambut ini menjadi daya tarik utama yang dapat disaksikan secara langsung dalam perhelatan tahunan Dieng Culture Festival.
Masyarakat setempat meyakini bahwa anak-anak bajang ini merupakan titisan dari leluhur agung Dieng, yakni Kyai Kolodete bagi anak laki-laki dan Nyai Dewi Roro Ronce bagi anak perempuan. Sebelum ruwatan dilaksanakan, ada tradisi unik di mana sang anak biasanya akan mengajukan sebuah permintaan khusus yang harus dikabulkan oleh orang tua atau lingkungan sekitarnya agar prosesi pemotongan rambut dapat berjalan lancar.
9. Punya Deretan Candi
Sebagai lokasi yang dipercaya menjadi tempat persemayaman para dewa, Dieng telah lama mengakar sebagai pusat peribadatan umat Hindu. Identitas spiritual ini diperkuat dengan penemuan sejumlah candi beraliran Hindu Siwa yang tersebar di sepanjang dataran tinggi tersebut.
Kawasan ini memiliki deretan bangunan suci yang meliputi Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, hingga Candi Bima. Menariknya, penamaan kedelapan candi tersebut mengadopsi nama-nama tokoh ikonik dari epos Bharatayuddha. Di masa kejayaannya, gugusan candi ini menjadi sarana utama bagi masyarakat Hindu untuk memuja para dewa, khususnya pemujaan kepada manifestasi Trimurti.
(bnl/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong