Waruga Sawangan di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara adalah destinasi favorit bagi bule-bule yang berkunjung ke Manado.
Waruga Sawangan memang sangat cocok bagi traveler penyuka traveling budaya. Tempat ini sangat Instagramable, traveler dapat berfoto dengan latar belakang waruga dengan view hijaunya pepohonan khas pedesaan Minahasa.
Akses untuk menuju destinasi ini banyak pilihan bagi traveler, lokasinya berada di Airmadidi yang merupakan ibukota Kabupaten Minahasa Utara, sangat mudah dijangkau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Traveler atau backpacker dapat menggunakan angkutan umum bus atau angkot dari Terminal Paal Dua, Kota Manado. Rutenya naik angkot jurusan Paal Dua - Airmadidi, dilanjutkan perjalanan ke sawangan menggunakan ojek.
Traveler juga dapat naik bus jurusan Manado - Bitung dari Terminal Paal Dua, turun di Airmadidi, dilanjutkan naik ojek. Bagi traveler yang naik kendaraan roda empat pribadi atau sepeda motor dapat melewati jalan raya Manado Bitung, langsung tujuan Airmadidi.
Pilihan cepat untuk menuju destinasi ini yaitu, melalui Jalan Tol Manado Bitung, kemudian keluar gerbang tol KM 11 Airmadidi.
Tips bagi Traveler
Traveler yang berkunjung ke waruga Sawangan harap menggunakan alas kaki yang nyaman dan bawa air minum secukupnya, karena pada siang hari cuaca di tempat ini cukup panas.
Hargai situs arkeologi ini dengan tidak memanjat maupun menyentuh langsung ukiran secara sembarangan, serta dilarang membuang sampah sembarangan.
Di kompleks waruga Sawangan terdapat seratus lebih waruga yang berdiri kokoh. Beberapa waruga bahkan dihiasi ukiran-ukiran indah yang menggambarkan status sosial, pekerjaan, atau cerita kehidupan si mati.
Waruga adalah peti mati atau tempat pemakaman yang terbuat dari batu basal. Waruga terdiri dari dua bagian, yaitu badan dan penutup.
Bagian badan terbuat dari batu dengan bentuk kubus, persegi panjang, bulat, dan heksagonal. Bentuk penutup biasanya menyerupai atap rumah.
Pada masa lalu, kubur-kubur waruga itu berada di halaman belakang atau sekitar rumah. Tiap rumah memiliki satu kubur batu atau lebih.
Oleh pemerintah kolonial Belanda, waruga sempat dilarang digunakan karena dianggap tidak higienis. Sejak saat itu, masyarakat Minahasa mulai menggunakan peti mati terbuat dari kayu, dan menguburkan jenazah langsung dalam tanah.
-------
Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.










































