Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 23 Mei 2011 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Agungnya Pura Mandara Giri Semeru di Lumajang

d'travelers
Foto 1 dari 3
Candi megah di Pura Mandara Giri Semeru
Candi megah di Pura Mandara Giri Semeru
detikTravel Community - Petualangan bersama Aku Cinta Indonesia mengantarkan kami menuju sebuah kota kecil yang menawan dan bersuasana tenang, yaitu Kabupaten Lumajang. Salah satu hal menarik yang kami temui yaitu eksotisme yang dimilikinya berkat tumbuhnya sebuah komunitas umat beragama Hindu di kota ini, tepatnya di Kecamatan Senduro, yang kemudian bisa menghadirkan nuansa damai yang nyaris menyerupai kehidupan komunitas agama Hindu di Bali.

Komunitas agama Hindu ini memiliki tempat ibadah yang bernama Pura Mandara Giri Semeru, yang juga dijadikan sebagai objek wisata religi di Kabupaten Lumajang. Selain masyarakat Hindu di Senduro, pura ini juga sering dikunjungi masyarakat Hindu dari luar daerah Jawa Timur, termasuk dari Bali, terlebih pada saat hari-hari besar keagamaan atau juga pada saat upacara Piodalan (ulang tahun pura) yang diadakan tiap tahun sekitar bulan Juli. Pada upacara ini akan tampak masyarakat Hindu dari berbagai daerah yang memenuhi kawasan pura untuk berdoa dan menampilkan berbagai macam kesenian, termasuk kesenian Bali.

Terletak di sebelah timur kaki Gunung Semeru, di balik berdirinya pura ini ternyata terdapat sebuah cerita yang menarik. Awal pendirian Pura Mandara Giri Semeru di Kecamatan Senduro berkaitan dengan upacara Nuur Tirta, yaitu upacara memohon atau pengambilan air suci ke Patirtaan Watu Kelosot di kaki Gunung Semeru oleh umat Hindu dari Bali. Upacara Nuur Tirta ini merupakan bagian dari proses upacara Agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, yaitu pura yang berlokasi di kaki Gunung Agung di Bali. Pada upacara ini air suci harus dibawa oleh umat Hindu dari kaki Gunung Semeru hingga ke Pura Agung Besakih. Upacara ini awalnya dilakukan pada bulan Maret tahun 1963, yang kemudian dilaksanakan lagi pada tahun 1979.

Dengan adanya upacara yang diadakan secara berkala tersebut, yang melibatkan umat Hindu baik dari Bali maupun umat Hindu asli sekitar kawasan Gunung Semeru, maka diputuskan untuk mendirikan tempat suci di kawasan yang dalam sejarah dinyatakan sebagai kawasan suci semasa Jawa Kuno ini. Meski awalnya permohonan pendirian pura sempat ditolak Pemerintah karena lokasinya berada di sekitar permukiman masyarakat non-Hindu, namun pada akhirnya terbukti bahwa tampak jelas adanya kerukunan antar umat beragama di daerah sekitar pura ini.

Proses pembangunan Pura Mandara Giri Semeru dilakukan bertahap semenjak tahun 1990-an hingga sekarang, dan hal itu masih tampak di beberapa bagian kawasan. Memasuki gerbang utama kami menemui candi yang megah serta beberapa padmasana (tempat untuk bersembahyang dan menaruh sajian) berukuran besar. Ada bagian pura yang disebut dengan Candi Bentar di salah satu sisi dan Candi Kurung di bagian tengah. Kemudian semakin masuk ke dalam kawasan terdapat pula beberapa bale, yang berfungsi sebagai tempat beristirahat dan tempat penyimpanan barang, seperti bale patok, bale gong, bale kulkul dan gedong simpen. Lalu ada juga pendopo, yang disebut pendopo suci yang berfungsi sebagai dapur khusus dan bale patandingan yang biasanya dipakai untuk pertemuan tertentu.

Pada saat berkunjung kami tidak diperbolehkan untuk memasuki areal utama yang dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan, namun dari luar tampak bale agung dan padmanabha yang menurut penjaga pura merupakan bangunan suci utama dan sentral. Kawasan pura juga diperluas hingga ke sisi timur yang lebih rendah dan dilengkapi dengan bale-bale pendukung kegiatan pura, seperti pasraman sulinggih, bale simpen peralatan dan dua bale pagibungan selain dapur, kemudian pada sisi selatan tampak wantilan, yaitu semacam bangunan pendopo yang megah dan luas.

Pura Mandara Giri Semeru sebagai objek wisata religi dengan arsitektur khas umat Hindu yang sangat kuat menampilkan keagungan yang menambah keunikan Kabupaten Lumajang, hingga patut untuk dikunjungi dan dipelajari. Kehadiran pura ini juga menunjukkan adanya kerukunan umat beragama yang patut dicontoh, bahwa komunitas Hindu dapat diterima baik di Jawa Timur yang terkenal sebagai daerah dengan komunitas muslim yang cukup kuat di Pulau Jawa.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA