Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 02 Jul 2012 15:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengunjungi Sang Jenderal Sekutu di Tugu MacArthur

Foto 1 dari 5
Tugu MacArthur (Sastri/ detikTravel)
Tugu MacArthur (Sastri/ detikTravel)
detikTravel Community - Jenderal Besar AS itu bernama Douglas MacArthur. Pada Perang Dunia II, ia datang ke Papua untuk mengusir tentara Jepang yang menduduki kawasan ini. Kisah ini bisa Anda ikuti di Tugu MacArthur, Kota Jayapura.

Pada 1944 pasukan Sekutu tiba di Teluk Humboldt, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Pasukan ini dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur, Kepala Staf Angkatan Darat AS sekaligus Field Marshall angkatan bersenjata Filipina. MacArthur adalah otak dari strategi AS pada Perang Dunia I, Perang Dunia II, juga Perang Korea.

Setelah tiba di Teluk Humboldt (orang lokal menyebutnya Teluk Hamadi) dan membuat basis pertahanan di sana, pasukan MacArthur menyambangi Ifar Gunung di Kabupaten Jayapura. Dulu, Ifar Gunung menjadi kompleks pertahanan tentara AS. Di sinilah terdapat Tugu MacArthur, saksi bisu kebesaran sang Jenderal Sekutu yang terkenal dengan cangklongnya itu.

Jumat (20/6/2012) pagi, angin sejuk membelai kulit saya selama perjalanan ke Tugu MacArthur. Berada di salah satu puncak Pegunungan Cyclops, tempat ini seakan jadi benteng terhadap panasnya cuaca Kota Jayapura yang terkenal itu. Setengah jam perjalanan dari Jalan Raya Jayapura-Sentani, saya tiba di sebuah gerbang kompleks militer.

Resimen Induk Kodam (Rindam) XVIII Trikora, begitu tulisan yang tertera di gapuranya. Setelah meninggalkan KTP di pintu masuk dan membuka jendela mobil lebar-lebar, saya memasuki kompleks tersebut. Hampir sama dengan kompleks militer lain, dengan bangunan, barak, serta lapangan untuk olahraga. Lanskap berkontur, namun jalan aspal tetap mulus hingga saya tiba di tugu tersebut.

Tugu MacArthur bukanlah sebuah tugu panjang dan tinggi seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Bentuknya segi lima, dengan dua warna dominan yakni hitam dan kuning. Di badan tugu itu tertulis teks berbahasa Inggris dan Indonesia, menjelaskan dulu lokasi itu menjadi markas besar umum Pasukan Sekutu untuk kawasan Pasifik Barat Daya.

Tugu itu menghadap hamparan awan, yang juga menggantung di hadapan saya. Sayangnya cuaca hari itu tak terlalu cerah, padahal konon panorama Danau Sentani sangat cantik bila dilihat dari sini.

Hans Yambeyabdi, begitu nama guide lokal yang bertugas di sini, menyambut saya dengan ramah. Hans siap menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan wisatawan, termasuk tentang berbagai data dan kliping koran yang ditempel di Ruang Informasi.

"Tempat ini jadi tempat MacArthur menyusun strategi perang. Lihat bangku-bangku di situ? Itu dibuat oleh Sekutu," kata Hans.

Bangku-bangku yang dimaksud tersebar di pinggiran bukit, menghadap langsung bentangan lanskap Jayapura yang masih tersembunyi di balik awan putih.

Saya pun duduk di salah satu bangku, berharap awan putih segera menyingkir. Tak lama kemudian Pak Hans menyeletuk, "Itu bangku favorit MacArthur!"

Saya mendadak sumringah. Rupanya, inilah bangku kesukaan sang Jenderal Besar untuk duduk dan memikirkan strategi perang. Saya bisa bayangkan MacArthur duduk di bangku ini, sementara para tentara kulit putih berkeliaran di sekelilingnya.

Awan putih mendadak pergi. Lalu terlihatlah, hamparan panorama luar biasa cantik dari atas sini. Danau Sentani perlahan mengintip, landasan pesawat di Bandara Sentani pun mulai terlihat. Indah sekali.

Terlepas dari cantiknya panorama itu, Tugu MacArthur akan memperkaya khazanah sejarah. Kalimat yang terlontar setelah berkunjung ke sini, mungkin sama seperti kutipan paling terkenal dari sang Jenderal: "I came through and I shall return."
BERITA TERKAIT
BACA JUGA