Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 20 Nov 2017 09:42 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengenang Syahdu Lampion Terbang di Festival Budaya Dieng

Desvriany
d'travelers
Foto 1 dari 5
Melatih kesabaran untuk menerbangkan Lampion Ke udara.
Melatih kesabaran untuk menerbangkan Lampion Ke udara.
detikTravel Community - Acara Festival Budaya Dieng 2017 memang telah berlalu. Namun kemeriahan dan syahdunya momen saat menerbangkan lampion akan selalu terkenang. Begini suasananya.

Dieng Culture Festival 2017 atau disingkat DCF 2017 yang diadakan pada tanggal 4-6 Agustus 2017 adalah merupakan kegiatan kebudayaan yang digagas oleh sekelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dieng secara geografis berada di wilayah kabupaten Banjarnegara dari sebagian wilayah Kabupaten Wonosobo. Acara ini diselenggarakan untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi, sekaligus untuk promosi potensi wisata alam dan kebudayaan di Dataran Tinggi dieng, Jawa Tengah.

Salah satu dari banyak acara yang disajikan di Dieng Culture Festival (DCF) 2017 adalah Pesta Lampion yang dilakukan secara bersama-sama, serentak dilakukan penerbangan 4.000 lampion setelah acara 'Jazz Atas Awan' selesai yang ditutup dengan manis oleh Katon Bagaskara dengan tembang Dinda.

Menerbangkan Lampion membutuhkan kesabaran, tidak boleh tergesa-gesa, setelah menyalakan api kita harus tunggu kurang lebih 5 menit sampai udara pada lampion pun terisi. Lampion akan terangkat ke udara dengan sendirinya. Ketika kita melepasnya, lampion pun akan terbang tinggi ke atas mengikuti angin bertiup.

Suatu kebanggaan dan kesenangan yang tak terhingga ketika lampion berhasil terbang tinggi. Di situlah diyakinkan segala harapan kita pun ikut terbang tinggi.

Sedikit sejarah Lampion, diperkirakan tradisi memasang lampion sudah ada di daratan Cina sejak era Dinasti Xi Han, sekitar abad ke-3 masehi. Munculnya lampion hampir bersamaan dengan dikenalnya teknik pembuatan kertas.

Lampion pada masa-masa awal memang diduga telah menggunakan bahan kertas, selain juga kulit hewan dan kain. Lampion adalah lentera yang terbuat dari kertas (penerangannya dengan lilin), dipakai pada pesta atau perayaan-perayaan.

Cahaya merah dari lampion memiliki makna filosofis tersendiri. Nyala merah lampion menjadi simbol pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan, rezeki, dan kebahagiaan. Legenda klasik juga menggambarkan lampion sebagai pengusir kekuatan jahat.

"Bahagia itu sederhana, dapat berhasil menerbangkan Lampion pun sudah sangat bahagia karena dipercaya Lampion merupakan Simbol Kebahagiaan dan Harapan,"
BERITA TERKAIT
BACA JUGA