Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 05 Sep 2017 15:38 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cara Lain Nikmati Sumba: Birding

Yovie Jehabut
d'travelers
Foto 1 dari 5
Kakatua Jambu Jingga
Kakatua Jambu Jingga
detikTravel Community -

Sumba memang menyimpan banyak harta karun. Selain pantai dan bukit-bukitnya yyang eksotis, Sumba juga bisa dinikmati dengan birding atau pengamatan burung.

Aktifitas pengamatan burung atau yang lebih dikenal dengan birding memang belum begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Tetapi semakin hari peminatnya semakin bertambah dan telah manjangkau wilayah yang lebih luas dan dalam.

Nah, pada tanggal 18-22 Agustus 2017 yang lalu, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti atau yang disingkat TN Matalawa, Sumba, NTT mengadakan kompetisi birding dan fotografi burung di kawasan TN Matalawa.

Bagi saya, ini adalah kesempatan pertama untuk mengikuti kompetisi birding dan fotografi burung, juga menjadi kesempatan perdana menyambangi tanah Marapu pulau Sumba.

Perjalanan dari Ruteng, Flores saya lakukan berdua dengan fotografer Leonardus Nyoman, menuju Ende di mana kami mendapatkan penerbangan menuju Bandara Udara Tambolaka, Sumba Barat Daya. Penerbangan memakan waktu 45 menit. Tepat pukul 07.45 pesawat kami mendarat di Tambolaka.

Suasana pagi di bandara Tambolaka cukup lengang. Philipus Renggi, pengusaha tour lokal menjemput kami di bandara. Orangnya ramah dan memberikan penjelasan yang cukup detail tentang kondisi Sumba dan perkembangan pariwisata di tempat itu. Kami diajaknya menikmati sarapan di sekitar bandara, sambil bercerita tentang Sumba.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Waingapu di Sumba Timur dengan jarak tempuh kurang lebih 200 km dan memakan waktu lebih dari 6 jam menyusuri pesisir utara pulau Sumba.

Kawasan utara Sumba adalah kawasan dataran rendah yang sebagian besarnya terdiri dari padang savana yang membentang luas. Pemukiman warga tidak terlalu banyak. Bahkan lalu lintas di jalan ini sangat sepi.

Sebagian besar kendaraan lintas pulau Sumba memilih jalur tengah melewati Waikabubak di Sumba Barat sebagai jalur prioritas. Pada pukul 15.45 kami memasuki kota Waingapu. Rasa lapar benar-benar tidak tertahankan, karena dari Tambolaka hingga Waingapu tidak ada satupun rumah makan yang kami jumpai.

Kami hanya menemukan kurang dari lima toko klontong kecil di tepi jalan. Beberapa fasilitas pasar yang dibangun pemerintah tampak kosong dan tidak ada yang menggunakannya. Cuaca yang panas khas musim kemarau menguras banyak energi selama perjalanan. Sebab itu, rumah makan adalah tempat pertama yang kami datangi di Waingapu.

Setelah masalah lapar teratasi, barulah kami menuju hotel yang sudah disediakan oleh panitia dari taman Nasional Matalawa. Di sana telah berkumpul puluhan peserta yang lain, yang bahkan telah sampai pada hari sebelumnya.

Peserta terbagi menjadi 2 bagian yakni peserta kategori Bird race dan fotografi. Jumlah peserta adalah 55 orang yang sebagian besarnya adalah peserta bird race (birding). Saya sendiri masuk dalam kelompok Fotografi burung. Nuansa antusiame mulai saya rasakan sejak malam pembukaan oleh Kepala Balai TN Matalawa, Maman Suratman.

Pada acara yang didahului dengan pemutaran film tentang taman nasional dan tentang Sumba saya sudah berbincang-bincang dengan para pengamat burung yang telah lama malang melintang di dunia pengamatan burung dan fotografi burung.Â

Pada hari Sabtu, 19 Agustus perjalanan dimulai dari Waingapu menggunakan bus kayu menuju lokasi perkemahan di hutan Billa, kecamatan Tabundung, Sumba Timur. Perjalanan menempuh jarak kurang lebih 115 km dengan waktu tempuh hampir 5 jam.

Makan siang disediakan oleh panitia di perjalanan. Jalan yang berliku menyusuri perbukitan savana yang kering dengan kondisi jalan yang buruk menjadi tantangan dan sensasi tersendiri.

Sampai di kawasan hutan Billa, matahari sudah mulai merendah di perbukitan sisi barat lokasi perkemahan. Setelah acara pembukaan dan penempatan peserta di tiap tenda, kami langsung mencari jalur trekking masing - masing untuk mencari titik pengamatan burung sertang melakukan orientasi medan.

Sejak detik pertama memasuki hutan TN Matalawa, decak kagum datang dari semua peserta. Hutan Billa benar - benar surga bagi penggila burung di alam bebas. Kicauan burung memenuhi lembah dan lereng - lereng bukit sepanjang hari bahkan hingga malam hari.

Beberapa jenis burung paruh bengkok seperti Kakatua Jambul Jingga, Perkici Sumba dan Betet mendominasi suara di udara. Sejauh 2,5 km dari lokasi berkemah, terdapat sebuah kawasan pengamatan burung, yakni Kaleta.

Lembah yang dahulunya adalah kawasan persawahan bagi warga sekitar dikelilingi perbukitan. Dari menara pengamatan, kami bisa dengan leluasa menyaksikan tingkah burung di dahan - dahan pohon dan beterbangan bergerombol melintasi lereng. Di pohon-pohon rendah dan semak, Kipasan Sumba, Seriwang Asia dan Kepudang Sungu Sumba, Anis, Cekakak Sumba, burung Madu Sumba saling berebut dahan rendah dan ranting.

Sedangkan Kakatua, Nuri, Betet, Kancilan dan Julang Sumba bertukar dahan di pohon-pohon tinggi. Menurut pagawai TN Matalawa 200an jenis burung yang mendiami hutan TN Matalawa.

Kompetisi birding kali ini merupakan langkah Taman Nasional untuk memperkenalkan potensi burung di Matalawa dan di Sumba pada umumnya serta bagian dari upaya meningkatkan minat pengamatan burung di kalangan masyarakat luas sehingga masyarakat luas akan semakin peduli pada kondisi burung di alam liar saat ini yang semakin terancam.

Pada hari ke dua yakni tanggal 20 Agustus, pelaksanaan kegiatan dimulai pada pagi buta. Panitia menyiapkan sarapan pada pukul 04.00 pagi. Para peserta dengan sangat antusias melakukan perjalanan pagi di tengah hutan mencari spot pengamatan masingmasing.

Kicauan burung benar-benar riuh memenuhi lembah dan lereng serta bukit - bukit. Sepanjang hari nyaris tak ada waktu bagi kami untuk membiarkan kamera masing-masing berhenti memotret. Setiap saat burung dengan aneka jenis bertingkah di dahan-dahan pohon dan ranting semak-semak di seluruh kawasan pengamatan. Benar - benar surga bagi burung-burung.

Selain menikmati eksotisme burung-burung penghuni TN Matalawa, pada hari berikutnya para peserta juga dimanjakan dengan bersantai di air terjun Laputi dan Danau Laputi yang bagi masyarakat Laputi dan sekitarnya merupakan danau keramat tempat berdiamnya belut mistis yang disebut Apu.

Kompetisi birding dan fotografi burung berlangsung hingga tanggal 22 Agustus yang ditutup dengan pengumuman pemenang lomba birding, fotografi burung dan fotografi alam dan manusia. Yang masing-masing kategori menempatkan 4 kelompok pemenang lomba birding, 4 orang pemenang lomba fotografi burung dan 4 orang pemenang lomba fotografi alam dan manusia.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA