Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 20 Mar 2018 09:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Oh Pagimu Kelimutu

Taufan Yusuf Nugroho
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Menyambut mentari mengawali pagi di tepian Kelimutu.
Menyambut mentari mengawali pagi di tepian Kelimutu.
detikTravel Community - Danau Kelimutu di Ende, tidak hanya terkenal dengan danau tiga warnanya saja. Pemandangan pagi di sekitar danau juga menyejukan mata.

Keindahan alam Indonesia terlukis indah dan membentang di timur negeri, tepatnya di Ende, Nusa Tenggara Timur. Jika traveler terlahir sebelum tahun 1992, dan pada tahun tersebut sudah mengenal uang, ketika melihat lembaran uang Rp. 5.000,- keluaran tahun 1992, di bagian belakangnya terpampang jelas ilustrasi Danau Kelimutu yang konon airnya memiliki tiga warna tersebut. Kini saya tak sedang berimajinasi, Sang Pencipta berkehendak untuk saya menikmati langsung keindahan Kelimutu. Elok dan indah tak tertandingi alam ini.

Menuju Kelimutu Saya bersama empat teman lain mengawali perjalanan menuju Danau Kelimutu pada pukul 01.15 WITA dari Kota Meumere dengan harapan mendapatkan keindahan matahari terbit di sana, dan estimasi jarak tempuh Mumere ke Kelimutu sekitar 3 jam.

Jalan panjang, berkelok, dan sesekali terjal dilibas Frans, sopir yang mengantarkan saya beserta rombongan menuju Kelimutu. Sepanjang perjalanan, di dalam oto (sebutan untuk mobil oleh orang Flores) hanyalah lagu pop berbahasa daerah setempat yang diputar Frans melalui player di oto tersebut. Sesekali saya mencoba tidur, namun cukup susah untuk tertidur pulas akibat bantingan badan ke kanan maupun kiri saat melintas di tikungan tajam yang tidak bisa dihitung jumlahnya.

Sekitar pukul 05.30 WITA, saya beserta rombongan sampai di area parkir Danau Kelimutu dan langsung disambut ramah oleh Markus yang siap sedia mengantarkan menuju puncak Kelimutu untuk menyaksikan keelokan Danau Tiga Warna tersebut. Mengawali Pendakian Beberkal kamera dengan perlengkapannya, saya memulai untuk menjelajah Kelimutu. Langit cerah bertabur bintang nan gemerlap memayungi perjalanan menuju puncak berketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut tersebut.

Jalanan menuju puncak di dominasi anak tangga dan tanah berkerikil yang di sekitarnya tumbuh cemara beserta kawanan tanaman khas endemik Gunung Kelimutu. Sepanjang jalur pendakian juga tampak bersih dari sampah. Karena pihak pengelola Taman Nasional Danau Kelimutu telah menyediakan sejumlah tempat sampah baik organik dan non organik di beberapa titik. Ketakutan akan tersesat dalam pendakian mungkin juga minim terjadi. Penunjuk arah terpampang jelas di setiap persimpangan jalur pendakian. Kesan terawat dari tempat ini memang nampak terasa, dan selayaknya harus tetap terjaga. Sebagai wisatawan lokal, sepantasnya untuk turut menjaga kebersihan bila berkunjung ke berbagai destinasi wisata, terlebih Taman Nasional, karena alam ini tidak pantas untuk dikotori.

Menyambut Mentari Dengan kekuatan fisik seadanya dan tanpa persiapan terlebih dahulu, diri ini bertekad untuk terus berjalan menuju puncak Kelimutu. Bukan hanya sekedar ingin menyaksikan pesona danau tiga warna tersebut, namun juga ingin menyambut sang mentari yang terbit menyinari bumi Flores. Sekitar 30 menit berselang, sampailah saya di puncak, sedikit menghela nafas dan tak berlama-lama saya menggelar tripod sebagai penopang kamera untuk mengabadikan proses terbitnya matahari di atas Kelimutu.

Walau semula berencana juga untuk memotret bintang-bintang, tapi apa boleh buat, saya tiba di puncak sedikit terlambat, langitpun sudah menuju terang dan bintangpun telah mengakhiri gemerlapnya malam. Tetapi sedikit kendala tersebut puas terbayar ketika sang mentari perlahan muncul dan membuka pagi. Tanpa berlama-lama juga, saya langsung bidik sana, bidik sini, untuk mencari komposisi yang pas dalam menggambarkan terbitnya matahari di Kelimutu.

Tidak lama berselang para wisatawan lain baik lokal maupun mancanegara, mulai memadati puncak Kelimutu untuk turut menyaksikan terbitnya sang mentari. Alam Kelimutu kala itu menyajikan keindahan dan langit yang cerah. Walau tidak keseluruhan, setidaknya saya dapat memotret dua Danau yaitu Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo, karena satu Danau lagi, Tiwu Ata Mbupu masih tertutup kabut tebal. Warna ketiga danau tersebut selalu berubah-ubah dan penuh mitos tentang alam yang diyakini masyarakat sekitar.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED