Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 19 Mar 2018 11:24 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menikmati Jacuzzi Alami di Air Terjun Goa Rang Reng Bali

Monica Anggen
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Duduk di Bebatuan Air Terjun Goa Rang Reng
Duduk di Bebatuan Air Terjun Goa Rang Reng
detikTravel Community -

Jacuzzi tidak hanya bisa dinikmati di tempat mewah. Di Air Terjun pun, ada juga yang alami nan segar lho!

Destinasi keren di Bali tidak melulu pantai loh ternyata karena selain pantai ada banyak sekali tempat wisata yang layak untuk dieksplorasi, seperti air terjun, desa wisata, seni budaya, adat istiadat Bali, dan sebagainya. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya jacuzzi alami di Air Terjun Goa Rang Reng Bali.

Air Terjun Goa Rang Reng Bali.

Penemuan lokasi air terjun yang terletak di Br. Gitgit, Desa Babakan, Kabupaten Gianyar ini sebenarnya tak saya sengaja. Jadi ketika itu saya baru saja pulang dari Air Terjun Tibumana dan Air Terjun Pengibul (kapan-kapan saya cerita deh tentang dua destinasi ini), saat membuka aplikasi peta untuk melihat rute balik ke Ubud, saya malah melihat ada satu air terjun lagi kurang lebih 20 menit berkendara. Nanggung nih kalau langsung pulang, trus balik ke sini lagi. Maka saya meminta suami mengarahkan sepeda motor yang kami ke Air Terjun Goa Rang Reng.

Tiba di lokasi, kami membeli karcis masuk seharga Rp5000 perorang. Sesudahnya, kami berjalan melalui jalan setapak berupa tangga batu, juga tanah yang dibentuk seperti tangga, yang menurun. Acara jalan kaki ini kurang lebih 300 meter dan selama berjalan harus hati-hati karena jalan setapaknya licin akibat hujan deras yang mengguyur Bali sejak semalam. Pagi hari sebelum berangkat juga masih hujan, cuma saya tak mau berdiam diri saja di penginapan. Bermodal jas hujan, kami tetap berburu air terjun. Oh ya, kami juga harus melalui sela batu besar yang hanya cukup dilewati satu badan (kalau badannya besar banget sepertinya juga bakal sulit melalui sela batu ini).

Kurang lebih 100 meter di atas lokasi air terjun, ada tempat duduk-duduk beralas bambu yang diikat jadi seperti bale-bale besar. Kami mampir di sana untuk berfoto sambil menikmati pemandangan di bawah. Di dekat kami, ada warung kecil yang menjual kopi dan makanan kecil. Ibu ini sempat menawarkan kopi, yang langsung saya jawab nanti saja. Suasana di sekitar kami sepi, sepertinya masih jarang wisatawan datang ke sini.

Ketika ada seorang bapak setengah baya yang memperkenalkan diri sebagai pemandu di tempat itu, saya iseng berkata ingin mendaki air terjun.  Bapak itu melarang karena bermain di Air Terjun Goa Rang Reng lebih aman saat musim kemarau, bukan musim penghujan seperti sekarang. Saat musim penghujan, alam sulit ditebak. Jika ingin tetap mendaki, saya bisa mendaki dari bebatuan kering di sisi kiri air terjun sambil berpegangan pada tali yang terpasang di dinding batu. Bapak pemandu itu juga menawarkan diri untuk memandu saya ke atas menuju Goa Rang Reng jika saya mau. Saya menolak karena yang saya inginkan mendaki air terjunnya.

Menikmati Jacuzzi Alami di Air Terjun Goa Rang Reng Bali.

Karena bapak pemandu itu ragu, saya pun turun mendekati air terjun dan melihat sebagian besar bebatuan memang tertutup air. Arus airnya pun cukup deras, mungkin akibat hujan deras semalam. Tapi pada bebatuan itu, saya melihat ada batu berwarna hijau, putih, dan hitam pekat. Saya pun berpikir selama saya tak terinjak batu berwarna hijau (yang artinya berlumut dan licin), saya aman dan bisa terus mendaki. Saya pun langsung melepas pakaian luar sana dan hanya mengenakan pakaian renang yang sudah saya kenakan sepanjang hari.

Perlahan saya mulai mendaki. Bisa kok air terjun ini didaki. Di pertengahan, saya hampir terpeleset karena tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjangan air membuat saya limbung hingga salah menginjakkan kaki. Saya duduk di bebatuan yang menyembul dekat kaki saya, berusaha meredakan debaran di dada.

"Naik terus. Hati-hati. Saya tunggu di atas." Bapak pemandu tadi berteriak di kejauhan sambil berjalan ke sisi kiri air terjun. Merasa ada yang jagain, nyali saya timbul lagi. Saya kembali mendaki perlahan. Sedikit demi sedikit saya terus merayap naik. Iya, saya hampir merayap saking takutnya, tapi tak mau berhenti karena penasaran. Lalu lagi-lagi terjangan deras air menghantam dan membuat saya berusaha menghindar dengan bergeser ke kanan. Sayangnya, kaki saya malah salah memilih pijakan. Saya terperosok ke lubang yang cukup besar. Wah, alamat tinggal nama nih, pikir saya. Tapi kemudian saya merasakan kaki saya menginjak dasar lubang. Dalam lubang itu hanya sebatas dada. Saya berdiam diri dan merasakan sensasi seperti berendam di kolam jacuzzi. Tekanan air terasa di kaki, paha, dan bagian tubuh saya yang terendam. Wow, ini keren banget. Jadi, saya pun mulai mencoba mencari lubang-lubang lain. Memang ada cukup banyak lubang dengan kedalaman bervariasi, ada yang sebatas lutut, sebatas pinggang, sebatas dada (seperti lubang yang saya temukan pertama kali), dan sebatas leher. Seru banget bisa berjacuzzi di sini.

Puas menikmati jacuzzi alami di Air Terjun Goa Rang Reng, saya akhirnya sampai puncak air terjun, mengintip sejenak ke Goa Rang Reng yang ada di sisi kiri air terjun dengan tempat yang cukup tersembunyi. Menurut bapak pemandu, di dalam goa ada sumber mata air yang airnya dianggap suci dan tak kering meski musim kemarau. Air suci itu sering digunakan untuk perayaan adat melukad (membersihkan diri). Sayangnya tak sembarang orang bisa masuk, saya harus cukup puas hanya mengintip saja. Setelahnya, petualangan saya hari ini diakhiri dengan minum kopi hangat di warung dekat bale-bale besar.

Ke Bali tak ke Air Terjun Goa Rang Reng? Saya jamin rugi banget... hahaha.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED