Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 29 Okt 2018 10:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Belajar Toleransi dari Longshan Temple di Taipei

Pandu Waskito
d'travelers
Foto 1 dari 5
Longshan Temple
Longshan Temple
detikTravel Community -

Liburan ke Taiwan, traveler bisa berkunjung ke Longshan Temple di Taipei. Dari kuil tua ini, kamu bisa belajar soal toleransi antar umat beragama.

Beberapa waktu lalu, saya melakukan perjalanan solo ke salah satu ibukota Asia Timur yaitu, Taipei. Untuk sebagian besar orang Indonesia, mungkin nama Taipei atau Taiwan lebih akrab dengan grup musik F4 yang pernah berjaya beberapa tahun silam.

Perjalanan ke Taipei ini sebenarnya sudah saya rencanakan sejak lama, tapi baru bisa terlaksana di tahun 2018 ini. Bukan karena F4, melainkan karena rasa penasaran yang saya miliki terhadap kota ini sendiri.

Sebelumnya saya cukup sering mendengar cerita positif mengenai Taiwan dari beberapa orang yang saya kenal. Hal positif itu pun mencakup budayanya, keramahan para penduduk lokalnya, kulinernya, dan juga keindahan alamnya.

Selama traveling, terdapat berbagai tempat wisata yang saya kunjungi, dan masing-masing memiliki cerita yang cukup unik yang membuat perjalanan saya cukup berkesan di sana. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kunjungan saya ke Longshan Temple.

Sejujurnya, Longshan Temple tidak menjadi satu destinasi wisata yang benar-benar ingin saya kunjungi selama di Taipei. Walaupun begitu, pengalaman yang saya dapat di sana justru sangat berkesan sehingga membuat saya untuk berkeliling cukup lama di tempat tersebut.

Longshan Temple sendiri berada di Distrik Wanhua dan bisa dicapai dengan mudah menggunakan MRT jalur biru. Kuil ini merupakan satu bangunan tua, dibangun di tahun 1738.

Masih berdiri dengan gaya bangunan kunonya, Longshan Temple kini dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang cukup modern di tengah Kota Taipei. Hingga saat ini, kuil ini masih sangat ramai dikunjungi baik oleh penduduk lokal maupun turis yang hanya sekedar ingin berwisata atau pun beribadah.

Dari semua hal saya temui, saya sangat tertarik dengan satu hal yang saya dapatkan di sana, yakni suasana yang tercipta dari interkoneksi hubungan manusia di sana serta ketulusan dari para pengunjung kuil untuk beribadah.

Saya percaya bahwa perjalanan solo membantu saya meningkatkan sensitivitas diri dan empati terhadap satu lingkungan yang saya kunjungi. Perjalanan solo juga selalu membuat saya melakukan begitu banyak kontemplasi.

Hal ini mungkin yang membuat saya bisa mengapresiasi hal-hal kecil yang selalu saya abaikan di kehidupan sehari-hari, dan salah satunya adalah suasana damai yang saya rasakan di Longshan Temple.

Di setiap sudut kuil, saya menemukan pengunjung yang benar-benar khusyuk dalam berdoa. Setiap orang di sana pun sangat menghargai privasi dari masing-masing pengunjung yang beribadah.

Sebagai seseorang yang tidak menganut agama Buddha, saya datang hanya sebagai wisatawan, namun bisa merasakan suasana yang begitu tenang dan khusyuk di antara para pengunjung yang melakukan ibadah.

Hal seperti ini kembali mengingatkan saya akan nilai toleransi yang memang harus dipegang teguh bersama. Saya pun belajar bahwa perbedaan dan keberagaman merupakan sumber dari perdamaian, hanya apabila kita bisa untuk lebih terbuka dan merangkul perbedaan tersebut.

Perbedaan mungkin akan memberikan rasa canggung atau bahkan defensive di awal, tapi saat kita bisa berempati, satu energi positif akan benar-benar tercipta dari hasil interaksi antar keberagaman tersebut. Hal ini lah yang saya syukuri pada perjalanan saya ke Longshan Temple.

Satu pengalaman yang mengingatkan saya akan nilai toleransi yang harus lebih banyak dipraktikkan di Indonesia, negeri yang memang atas dasarnya terbentuk karena persatuan dari keberagaman unsur-unsur di dalamnya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
DMentor
×
Bisnis Untuk Si Introvert
Bisnis Untuk Si Introvert Selengkapnya