Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 29 Agu 2018 21:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sebuah Kisah Perjalanan dari Tanah Baduy

Irfan Noormansyah
d'travelers
Foto 4 dari 5
Warga Baduy Luar saling bekerjasama untuk membangun rumah
Warga Baduy Luar saling bekerjasama untuk membangun rumah
detikTravel Community -

Suku Baduy sudah terkenal sebagai penjujung tinggi adat dan istiadat. Selalu ada kisah menarik kalau kamu berkunjung ke sana.

"Ayo ikut, ayo ikut," tiba-tiba saja ibu yang dari tadi ikut berjalan bersama kami dari Kampung Gajeboh menarik kencang tangan Imam yang baru saja memberikannya sebungkus roti dan sekaleng susu dari mini market.

Sontak saja, Imam yang terkejut pun langsung berlari ketakutan dan mencari tempat bersembunyi yang aman. Warga sekitar yang membantu menjauhkan ibu itu dari rombongan kami pun memberi tanda kepada kami dengan memutar telunjuk di samping kepalanya, mengisyaratkan ketidakwarasan. Melihat kejadian tersebut terjadi pada salah satu anggota kami, kami yang tadinya hendak menghabiskan waktu lebih lama untuk bersantai di Kampung Ciboleger pun segera bergegas naik ke kendaraan microbus yang akan membawa kami pulang ke rumah.

Beberapa teman mulai menaikkan barang bawaan ke atas atap, sementara saya mencari Imam yang ternyata sudah lari jauh menunggu di jalan raya. Kejadian tersebut tentunya tak akan pernah bisa kami bertujuhbelas lupakan dalam pengalaman traveling kali ini.

Awal ketertarikan saya untuk melakukan perjalanan ke Baduy sebenarnya sudah cukup lama, namun baru awal Agustus 2018 lalu, kesempatan itu datang. Sebuah jasa open trip yang dipromosikan seorang kawan di Instagram dengan judul 'One Day Offline', cukup mencuri perhatian saya, hingga kemudian berpikir bahwa saya harus mencoba pengalaman traveling ke Baduy. Bagi saya yang sehari-harinya bekerja dengan sosial media, perjalanan ini dapat menjadi sebuah short getaway.

Tak ingin sendirian, saya pun mengajak beberapa orang kawan untuk ikut serta. Manda dan Nurul adalah dua orang kawan yang kemudian menyanggupi untuk berpartisipasi setelah broadcast di berbagai chat group sana sini. Karena Manda sudah tinggal di Jakarta, saya dan Nurul yang berada di Bandung yang kemudian harus mengatur perjalanan tambahan untuk dapat sampai tepat pada waktunya di Stasiun Tanah Abang yang menjadi meeting point kami. Namun, masalah baru pun kemudian muncul.

Karena kami berdua masih harus bekerja pada Jumat sore dan harus kembali bekerja pada Senin pagi, merancang perjalanan bulak-balik Bandung-Jakarta tepat waktu menjadi sesuatu yang tricky. Akhirnya, kereta api menjadi pilihan utama transportasi kami karena tidak akan terhambat macet. Semua masalah jadwal dan pertiketan yang semula kami pikir akan ribet dapat teratasi dengan mudah melalui aplikasi Pegipegi, mulai dari pemilihan waktu, pemesanan seat, hingga pembayaran tiket keberangkatan pergi dan pulang dari Stasiun Gambir ke Stasiun Bandung dapat selesai hanya dalam hitungan menit.

Setibanya kami berdua di Stasiun Tanah Abang pada waktu yang dijanjikan, kami pun bertemu dengan Manda yang rupanya telah bersama kawan-kawan baru dalam open trip ini. Ada Imam yang rupanya teman kuliah Nurul, lalu ada Acing, Mas Daud, Ryan, Om Edoth, Bunda Dita, Adi, Acha, Endar, Ivan, dan dua orang yang menjadi host kami yakni Uda Yogi dan Wildan.

Setelah berkumpul semua, kami pun langsung naik commuter ke Stasiun Rangkasbitung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menggunakan commuter, dan rasanya cukup takjub melihat bagaimana penumpang KRL itu selalu terlihat sangat terburu-buru, baik saat masuk, maupun saat keluar, sebuah pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya ketika berada di Bandung.

Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan microbus yang mengantarkan kami langsung ke Kampung Ciboleger yang merupakan kampung terluar dari kawasan Baduy. Namun, sedikit kaget rasanya ketika melihat sebuah minimarket berdiri di salah satu pojok area ini. Ditambah saat di dalamnya, kami berpapasan dengan orang Baduy Dalam (cirinya menggunakan baju putih) yang membeli beberapa cemilan dan membayarnya ke kasir tanpa mengantre.

Tak mau berlama-lama, kami pun langsung tancap gas menuju Kampung Gajeboh yang menjadi tempat menginap kami selama di Baduy. Awalnya sih memang tancap gas, namun mesin pada tubuh dan kaki kami yang lama sudah tak digunakan berjalan jauh pun sering ngadat selama di perjalanan, terutama setelah melewati tanjakan curam. Akan tetapi, bagaikan sudah tahu dengan kondisi kami, setiap tanjakan yang dilewati selalu saja terdapat penjual air kelapa di puncaknya. Perjalanan penuh perjuangan kami ini menghabiskan waktu sekitar 3 jam.

Sebelum sampai Gajeboh, kami melintasi empat kampung lainnya yang juga cukup menarik. Karena masih di kawasan Baduy Luar, beberapa warga masih terlihat berjalan menggunakan sandal, serta pakaian di luar pakaian adat. Beberapa rumah pun tampak menjual produk-produk makanan dan minuman branded yang umumnya dapat kami temukan di warung-warung dekat rumah. Namun, pemandangan istimewa yang kami temukan selama perjalanan adalah para perempuan yang bekerja menenun kain untuk dijual sebagai souvenir.

Belakangan, saya menyadari bahwa perempuan ini tak hanya sekedar menenun, namun juga memang telah diatur agar menjadi atraksi wisata dan objek fotografi wisatawan yang berkunjung. Karena saat saya mampir ke Kampung Cicakal (masih Baduy Luar) yang notabenenya bukan merupakan jalur wisatawan, aktivitas seperti ini tidak ditemukan.

Akhirnya kami pun tiba di Kampung Gajeboh pada sekitar pukul 4 sore dengan sebuah tanda silang di layar kanan atas smartphone. Ya, setidaknya gadget kami masih dapat berfungsi sebagai penunjuk waktu. Di Kampung Gajeboh, kami pun langsung dibuat kaget dengan pedagang bakso dan cincau keliling yang ternyata mangkal di depan homestay. Mereka sendiri bukan warga Baduy, namun saat akhir pekan tiba, mereka mengikuti jalur perjalanan wisatawan yang melelahkan untuk menambah penghasilan.

Sama halnya dengan kami, beberapa warga Kampung Gajeboh pun memiliki telepon seluler untuk berkomunikasi dengan dunia luar, namun untuk dapat mengirimkan pesan, mereka harus mendaki bukit terdekat agar sinyal operator telepon dapat dicapai. Sedangkan untuk mengisi daya baterai, mereka harus pergi ke kampung terluar, karena di sini sama sekali tak ada aliran listrik.

Tak jauh dari tempat kami tinggal, ada sungai yang digunakan warga untuk melakukan kegiatan Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Ya, salah satu tantangan besar kami di sini adalah kami pun harus melakukan hal yang sama dengan mereka. Namun untuk mandi, buang air, ataupun sekedar bermain air, kami dilarang untuk menggunakan area sungai yang ada setelah melewati sebuah jembatan. Alasan utamanya adalah agar air yang kami pakai tidak mengalir ke tempat di mana warga kampung melakukan aktivitasnya.

Saat mentari mulai berganti peran dengan rembulan, kampung ini pun memperlihatkan wajahnya yang lain, gelap total, dan hanya mengandalkan benda-benda langit sebagai alat penerangannya. Mayoritas warga pun sudah tak berkeliaran di luar rumah. Awalnya, saya dan kawan-kawan lain yang sudah sangat terbiasa dengan teknologi dibuat mati gaya. Terkadang, jari-jari kami tak kuasa menahan gerak refleks untuk membuka layar smartphone dan mengharapkan ada beberapa notifikasi yang masuk.

Berbincang menjadi jalan keluar satu-satunya agar kami tetap berkutik menghadapi malam. Cerita akrab yang diselingi kelakar hangat, menambah sedap macaroni goreng yang digilir tangan-tangan lapar. Sesi tersebut membawa kami untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Mas Daud yang merupakan seorang fotografer institusi pengetahuan umum dan geografi terbesar di dunia. Ia juga terlahir sebagai orang Pakistan tulen. Karena sudah lama tinggal di Indonesia, hal tersebut sama sekali tidak tercermin dari cara bicaranya, sementara wajahnya pun tak begitu mencirikan tempat ia berasal.

Usai puas meleburkan hasrat berbicara, berburu ‘Bima Sakti’ menjadi aktivitas lanjutan kami untuk menutup malam. Langit musim panas pun tampak sangat mendukung dengan menelanjangi gugusan bintang tersebut di tengah hitamnya angkasa Baduy saat itu. Bagi saya sendiri, inilah pertama kalinya saya dapat melihat dan mengabadikan langsung galaxy yang mempunyai alias Milky Waytersebut.

Tak terasa, angka digital pada gawai telah menunjukkan waktu yang cukup larut. Masing-masing dari kami pun mulai memasuki rumah tinggal, meraba sedikit ruang untuk mengamankan tempat berbaring, lalu terbangun dengan cahaya subuh yang jatuh menembus celah bilik. Setelah satu per satu dari kami berhasil menuntaskan perjuangan menghapus rasa kantuk dan malas, kami pun beranjak untuk menghabiskan pagi di seberang sungai dengan mengambil beberapa foto dan berbincang, karena hanya di kawasan Baduy Luar inilah kami dapat merekam ingatan melalui kamera.

Pagi itu, kami pun merasa cukup beruntung karena mendapat kesempatan untuk melihat proses pembuatan rumah salah satu warga yang hanya membutuhkan waktu 1-2 hari saja untuk selesai. Walaupun kelihatannya sederhana, tapi untuk membangun sebuah rumah perlu uang sampai puluhan juta, setidaknya begitu yang diceritakan A Kasim, salah seorang warga Kampung Gajeboh yang rumahnya kami tinggali semalam.

Dia pun melanjutkan bahwa biasanya, rumah adat yang terbuat dari potongan bambu, kayu, dan bilik ini dapat bertahan hingga 5-6 tahun. Setelah melewati setengah dekade, biasanya ada beberapa bagian rumah yang harus direnovasi. Namun, hal yang cukup mengagumkan dari pembangunan rumah ini adalah ketika warga ada yang membangun rumah, tanpa harus diminta, seluruh warga pun akan membantu. Kebiasaan inilah yang mungkin sudah sulit ditemukan di lingkungan sekitar kita sehari-hari.

Di kawasan pembangunan rumah, kami lalu bertemu dengan Mbah Nasinah. Sosok ini menarik perhatian kami karena dari wajahnya ia nampak yang dituakan di kampung. Tetapi, kami tak pernah membayangkan kalau usianya telah mencapai 100 tahun. Berjalannya masih tegak, giginya masih rapih dan lengkap. Tak sulit juga berkomunikasi dengan beliau ini, pendengarannya baik, bicara pun lantang. Dengan bahasa Sunda, saya coba bertanya mengenai rahasianya memiliki umur awet muda.

Ia pun menjawab, "banyak ketemu yang cantik-cantik aja," jawabannya pun cukup membuat kami tertawa lepas.

Rupanya ia lancar juga diajak bercana. Saat ini Mbah Nasinah telah memiliki tiga orang anak yang semuanya telah menikah dan memberikan cucu untuknya. Salah satunya kini tinggal di Cicaheum, Bandung, bersama suaminya. Namun tentunya, karena sudah tinggal di kota, anaknya itu sudah bukan menjadi bagian dari orang Baduy.

Jelang siang hari, sinar mentari pun terasa semakin terik, beberapa kawan memilih untuk stay di tempat pembangunan rumah adat untuk mengambil beberapa foto, sementara saya dan sebagian kawan lainnya mencoba menjelajahi perbukitan sekitar.

Seusai mandi dan bersantap siang, akhirnya kami harus mengucapkan sampai jumpa kepada A Kasim, Mbah Nasinah, dan Kampung Gajeboh. Sesampainya nanti di Ciboleger, mungkin kami memang akan kembali menemukan sinyal, listrik, dan berbagai hal yang terpaksa kami tinggalkan. Akan tetapi, kampung ini dan segala kearifan lokalnya akan selalu membuat kami rindu.

Saya pun jadi kembali mengingat wajah Mbah Nasinah yang tertawa bahagia dengan usianya yang telah mencapai seabad lebih. Sepertinya, rahasia kebahagiaan dan panjang umurnya ini berasal dari kebiasaan warga Baduy yang jauh dari modernisasi. Tak ada Instagram dan televisi, yang berarti tak banyak kemewahan yang kemudian harus diamati dan dicari. Inilah oleh-oleh yang kemudian kami bawa pulang ke rumah masing-masing.

Perjalanan pulang ke Ciboleger dari Gajeboh tentu kami tempuh kembali dengan berjalan kaki, melalui jalur yang sama, namun dengan cerita yang berbeda. Di tengah jalanan sepi yang rimbun dengan pepohonan, kami bertemu dengan seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Saat itu, kami tak menyangka bahwa ibu tersebut akan mengikuti kami hingga Ciboleger yang kemudian memberikan sebuah ingatan yang tak mungkin kami lupakan dalam perjalanan ini.

#Pegipegiyuk #JelajahiIndonesiamu

BERITA TERKAIT
BACA JUGA