Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 16 Nov 2018 10:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Tradisional Jepang di Kota Takayama

Nathania Larissa
d'travelers
Foto 1 dari 5
Jembatan Nakabashi yang menghiasi kota Takayama dengan warna merah menyalanya.
Jembatan Nakabashi yang menghiasi kota Takayama dengan warna merah menyalanya.
detikTravel Community - Takayama yang juga dikenal dengan sebutan 'Little Kyoto'. Di sini kamu bisa merasakan suasana dan pengalaman tradisional Jepang yang otentik.

Sebenarnya alasan utama saya mengunjungi Takayama adalah sebagai tempat perhentian sebelum mengunjungi Shirakawa-Go. Jika ingin mengunjungi Shirakawa-Go tanpa menginap, biasanya orang-orang memilih untuk bermalam di kota Kanazawa ataupun Takayama.

Saya berangkat ke Takayama dari Tokyo menggunakan JR Pass untuk naik kereta JR Hikari ke Nagoya, lalu dari Nagoya saya melanjutkan perjalanan dengan kereta ekspres JR Hida ke Takayama. Total waktu perjalanan dari Tokyo ke Takayama adalah kurang lebih 5 setengah jam. Mengingat perjalanan yang cukup jauh dan panjang di hari yang dingin, tak lupa saya minum Tolak Angin sebelum berangkat agar tidak perlu repot mencari solusi untuk mengatasi masuk angin di tengah perjalanan.

Walau perjalanan cukup panjang dan saya sendirian saja, saya tidak merasa bosan. Pemandangan dari jendela kereta selama perjalanan dari Nagoya ke Takayama benar-benar menakjubkan. Sembari melihat pemandangan pegunungan dan sungai yang luar biasa indah dan menikmati bekal makan siang serta cemilan yang saya bawa, tanpa terasa saya tiba di Takayama.

Kota ini lebih jauh lebih dingin dari Tokyo, karena terletak di daerah pegunungan. Ramalan cuaca mengatakan bahwa salju akan turun hari itu, padahal saat itu masih bulan November, saya sudah terlanjur senang, namun sayang sekali ternyata salju tidak jadi turun.

Saat itu hari Sabtu, dan kota Takayama terasa sepi. Takayama adalah kota yang sempurna untuk seseorang yang suka suasana hening seperti saya. Tetapi jika anda tidak suka tempat yang sepi, jangan kuatir, anda dapat pergi ke Sanmachi Suji / Kota Tua Takayama di mana semua turis berada.

Sanmachi Suji adalah tempat di mana anda dapat menemukan makanan-makanan khas Takayama seperti Hida beef sushi, kroket daging sapi, mitarashi dango, dan lainnya sambil menikmati suasana kota tua melalui bangunan-bangunan masih bernuansa Jepang pada jaman Edo. Sebagian toko diramaikan oleh antrian pembeli di depannya. Antrian pertama yang saya ikuti adalah antrian Hida beef sushi. Jangan tinggalkan Takayama sebelum anda mencoba makanan ini karena Takayama memang sangat terkenal akan daging sapi Hida-nya. Saya membeli Hida beef sushi seharga JPY 500, dan ya, rasanya memang luar biasa. Daging sapi hida sangat lembut dan enak.

Cemilan lain yang saya coba sembari menyusuri Sanmachi Suji adalah mitarashi dango (JPY 80) yang berupa mochi bulat yang ditusuk, dipanggang dan dibaluri kecap asin. Rasanya unik walau bukan favorit saya, tapi patut dicoba karena harganya cukup murah. Selain itu saya mencoba kroket daging sapi Hida. Karena pesanannya lewat mesin, saya salah memasukkan jenis kroket dan melakukan pembelian lagi untuk jenis yang saya inginkan. Jadi, dua kroket untuk saya dengan total harga JPY 450. Untung saja rasanya enak dan cukup menghangatkan badan saya yang kedinginan.

Keunikan Sanmachi Suji lainnya adalah 'Sarubobo' yang dapat anda temukan wujudnya di berbagai toko yang ada. Sarubobo yang berbentuk boneka merah tanpa wajah ini adalah maskot dari wilayah Hida. Sarubobo menghiasi hampir setiap kemasan barang ataupun makanan yang dijual di toko-toko suvenir.

Setelah kenyang akibat semua penganan yang saya coba tadi, saya memutuskan untuk menjelajah bagian kota lainnya. Takayama sangat sejuk dan bersih, kendaraan bermotor seperti mobil dan motor tidak banyak berlalu lalang di sekitar kota.

Salah satu objek wisata yang dapat ditemui dengan mudah di Takayama adalah jembatan Nakabashi, karena warnanya yang merah dan cukup mencolok. Objek wisata lain yang patut dikunjungi adalah Takayama Jinya yang dulunya adalah kantor pemerintahan namun kini dibuka untuk publik sebagai museum.

Setelah berjalan-jalan dan mampir ke sebuah kedai kopi untuk menghangatkan badan, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Walau waktu baru menunjukan jam 5 sore namun langit sudah mulai gelap suhu semakin turun menyentuh titik 0°C sehingga saya memilih untuk menghabiskan waktu di kamar sembari menikmati cemilan dan tak lupa menghirup 1 sachet Tolak Angin lagi untuk menjaga stamina tubuh saya.

Secara keseluruhan Takayama cukup menawan dengan pesona pedesaan yang tenang namun santai dan menyegarkan mata dengan pemandangannya. Jadi jika anda bosan ke kota besar seperti Tokyo, Osaka dan lainnya, cobalah untuk mampir ke Takayama untuk menikmati ketenangan dan keindahannya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED