Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 22 Nov 2018 11:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bertemu Suku 'Leher Panjang' di Chiang Rai

Novi Kusumayanti
d'travelers
Foto 1 dari 5
Bersama dengan pengrajin syak dari suku Karen dan hasil karyanya
Bersama dengan pengrajin syak dari suku Karen dan hasil karyanya
detikTravel Community -

Di Chiang Rai ada desa wisata tempat bermukim 5 suku tradisional Thailand. Salah satu suku yang ada di sini adalah Suku Karen yang terkenal berleher panjang.

Hari pertama di Chiang Rai dimulai dengan mengunjungi desa wisata di perkampungan Union Hill Tribe. Di perkampungan ini bermukim 5 suku yang asalnya hidup di pegungan di Thailand, yaitu Akha (berpakaian dengan warna dasar hitam dengan hiasan warna warni dipadu dengan penutup kepala dihiasi manik-manik bagi wanita), Kayor, Lahu, Lu Mien-Yao dan Karen (dengan leher panjang berkalung lempengan yang terbuat dari kuningan bagi wanita).

Tidak ada transportasi umum untuk menuju tempat ini. Seperti masyarakat lokal di Chiang Rai, tidak semuanya mengetahui desa wisata ini.

Terbukti saat saya menyewa mobil untuk diantar ke perkampungan tersebut, sempat nyasar cukup jauh. Lokasi perkampungan ini cukup asri di antara pepohonan rindang. Saat saya berkunjung belum banyak wisatawan yang datang.

Perkampungan ini bukanlah tempat asli ke 5 suku ini bermukim. Pun desa wisata ini tidak terletak di pegunungan. Dari sisi budaya dan kebiasaan, mereka telah beradaptasi. Mata pencaharian mereka di perkampungan ini adalah dengan berjualan cenderamata hasil kerajinan tangan dan bercocok tanam buah nanas.

Kelima suku ini tidak membaur menjadi satu melainkan masing-masing suku hidup berkelompok dan terpisah dari suku lainnya. Di pemukiman masing-masing suku terlihat beberapa kios menjajakan aneka suvenir.

Menurut pendapat saya, jika ingin berfoto dengan warga dari suku-suku ini atau memfoto barang-barang dagangan mereka sebaiknya membeli barang dagangan mereka.

Sekedar membantu perekonomian warga di desa wisata tersebut. Lagipula barang-barang yang dijual terlihat unik dan berguna. Seperti tas, baju, syal atau barang-batang unik lainnya untuk penghias rumah.

Bagi saya, yang sangat menarik adalah saat berkunjung ke pemukiman Suku Karen. Para wanita Suku Karen berleher panjang karena mereka memakai kalung dari kuningan yang jumlahmya selalu ditambah seiring dengan semakin memanjangnya leher mereka.

Pemakaian kalung ini sudah dilakukan saat mereka masih kecil. Di salah satu kios suvenir saya membeli beberapa syal hasil kerajinan tangan Suku Karen. Di beberapa kios terlihat ada perempuan Suku Karen memintal benang untik dijadikan syal.

Di akhir perjalanan berkeliling ke Desa Wisata Union Hill Tribe hujan turun cukup deras. Beruntung saya sudah sampai kembali di gerbang utama sehingga dapat berteduh menunggu hujan reda.

Lagipula jika hujan turun sedikit, sulit bagi saya untuk berkeliling. Karena jalan yang dilalui masih berupa tanah berwarna cokelat yang licin jika terkena air hujan.

Cuaca yang awalnya panas terik saat memulai perjalanan diakhiri dengan hujan yang deras. Jika tidak waspada akan kondisi kesehatan, cuaca yang cepat berubah dapat mengakibatkan masuk angin.

Untuk mengatasi masuk angin, saya selalu mengkonsumsi Tolak Angin. Panas ataupun hujan saya dapat melanjutkan perjalanan ditemani Tolak Angin.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA