Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 26 Jan 2019 14:23 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Satonda, Si Mungil Cantik dari Sumbawa

Pradikta Kusuma
d'travelers
Foto 5 dari 5
Surga kecil yang berada di utara Sumbawa
Surga kecil yang berada di utara Sumbawa
detikTravel Community - Sumbawa punya Satonda, pulau mungil yang cantik. Berkunjung ke sini, traveler tidak akan menyesal seumur hidup.

Angin bertiup cukup pelan namun ombak di tepian pantai Desa Nangamira sudah mulai bergejolak pagi itu. Deburan ombak menghantam hamparan pasir berwarna hitam sisa letusan Gunung Tambora 2 abad silam.

Dari kejauhan nampak boat yang akan membawa kami ke Pulau Satonda mendekat, mencari posisi aman untuk bersandar di dermaga tempat kami menunggu. Satu per satu kami pun menaiki boat kecil itu.

Dengan perlahan, boat melaju karena ombak yang menghantam lumayan kencang. Apalagi kami membawa banyak peralatan kamera, kami harus ekstra hati hati. Tangan kami lambaikan sebagai salam perpisahan terakhir kepada kawan kawan pemuda Desa Pancasila.

Boat melaju dengan kencang, membelah perairan yang memisahkan daratan Sumbawa dengan Pulau Satonda. Mesin boat yang masih prima mengantarkan kami menuju tempat tujuan dengan sangat cepat. Hanya 15 menit saja.

Penampakan Pulau Satonda yang indah mulai terlihat. Air laut pun mulai bergradasi dari semula biru pekat menjadi biru muda kemudian semakin menampakkan warna tosca yang begitu jernih menampilkan keindahan terumbu karang yang tersimpan di dasarnya.

Sungguh tenang dan sepi itulah persepsi awal ketika kaki menginjak pasir putih halus Pulau Satonda, sungguh sebuah tempat untuk liburan yang sempurna pikirku. Tak ada pengunjung lain, hanya kami berlima saat itu yang berkunjung.

Walaupun menurut informasi pulau kecil ini sudah dikelola oleh swasta dengan dibangunnya resort dengan segala fasilitasnya, namun ketenangan dan keasrian Satonda nampak masih terawat dengan baik.

Tepat di tengah Pulau terdapat sebuah danau air asin yang membuat Satonda ini cukup ikonik. Danau ini dahulu diduga sebagai kawah dari Gunung Satonda yang kini sudah tak aktif lagi.

Fakta ini cukup bisa diterima karena bukit bukit yang mengelilinginya pun berbentuk seperti sebuah kaldera gunung berapi. Sementara air asin yang ada di danau berasal dari Tsunami yang terjadi akibat letusan gunung Tambora pada tahun 1815 silam.

Hanya butuh 5 menit saja berjalan dari dermaga hingga tiba di tepian danau. Lagi lagi hanya sepi dan ketenangan yang menyambut kami. Jika diamati air danau berwarna sangat gelap sekilas hampir berwarna hitam. Cukup seram membayangkan kedalaman danau air asin ini.

Menurut informasi yang beredar, danau ini beberapa kali diteliti oleh beberapa pakar. Kadar asin dari danau di Pulau Satonda ini sampai sekarang masih menjadi misteri. Asal dari air laut ini pun menjadi perdebatan panjang apakah memang berasal dari Tsunami? atau ada sebuah lubang di bawah sana yang memungkinkan air laut dari luar merembes ke dalam? Itu hal yang masih menjadi misteri.

Bahkan menurut sebuah penelitian, biota dan segala hal yang ada di dalam Danau Satonda mirip dengan lautan pada zaman purba karena banyaknya material strimalit yang hanya ada sekitar 3,4 miliar tahun lalu dan tidak pernah ditemukan lagi sekarang.

Jika dihubungkan dengan cerita rakyat, sebenarnya pulau satu ini adalah pulau larangan atau pulau terkutuk dan tidak diperbolehkan siapapun untuk mendiaminya karena Pulau Satonda merupakan tempat pengasingan Puteri Dae Minga yang dulunya diperebutkan oleh banyak orang dari berbagai kerajaan. Karena seringnya terjadi pertikaian antara orang-orang yang ingin mempersunting sang putri, maka Putri Dae Minga sengaja diasingkan di pulau tersebut.

Ada satu lagi hal unik di Satonda yaitu keberadaan Pohon Kalibuda atau orang sering menyebutnya 'Pohon Harapan'. Orang orang lokal di sini masih percaya akan hal hal yang sedikit tak masuk diakal seperti pohon Kalibuda yang bisa mengabulkan keinginan.

Jadi setiap ada keinginnan, mereka datang ke danau ini dan mengantungkan batu di pohon sambil memanjatkan doa kepada sang leluhur. Nah jikalau doa mereka terkabul, mereka akan kembali ke pohon itu dan melepas sesuatu yang dulu digantungkan sambil menggelar upacara syukuran kecil.

Puas duduk duduk santai di pinggiran danau kami ingin melihat Danau dari sudut yang berbeda. Kamipun segera berjalan menyusuri jalur setapak kecil yang akan mengantarkan kami di sebuah bukit sebelah kanan danau.

Tak bisa dianggap enteng jalur yang kita lalui sangat menanjak tajam apalagi ditambah dengan udara pesisir yang panas dan lembab sukses membuat peluh keluar tanpa bisa terkontrol. Walaupun lelah pemandangan yang disuguhkan cukup membuat mata segar. Gradasi warna air di pesisir Pulau Satonda sungguh indah dilihat dari ketinggian tempat kita berjalan.

15 menit saja jalanan curam sudah menemui ujungnya berganti dengan jalur datar membelah hutan. Dan ketika hutan sudah menemui ujung pemandangan terbuka langsung menyambut. Nampak di depan mata keindahan Danau Satonda yang semakin nampak nyata dari ketinggian.

Sisi bukit sebelah kanan dari Satonda ini mempunyai sebuah padang rumput yang cukup luas dan terlihat kontras jika dibandingkan dengan bukit yang ada diseberangnya yang nampak lebih lebat pepohonannya yang menjulang tinggi.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED