Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Okt 2019 15:05 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tradisi-tradisi Super Unik dari Desa Sade

Hayyu Zaakiyah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Tampak depan desa Sade suku Sasak.
Tampak depan desa Sade suku Sasak.
detikTravel Community - Desa Sade adalah salah satu perkampungan di Lombok yang masih memegang teguh tradisi adatnya secara turun temurun. Ada banyak tradisi unik di sini. Apa saja?

Desa Sade berada di wilayah kabupaten Lombok Tengah bagian selatan. Tepatnya di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.

Dusun ini salah satu yang masih mempertahankan adat suku Sasak, yang keberadaannya sudah terkenal bagi wisatawan yang datang ke Lombok. Selain memang dijadikan sebagai desa wisata oleh Dinas Pariwisata setempat, desa ini terkenal karena keunikan penduduk yang masih menjaga keutuhan budaya yang diwariskan oleh leluhur terdahulunya.

Ketika Anda datang ke desa ini, mata Anda akan disajikan oleh bentuk bangunan, adat istiadat, gaya berpakaian, tarian, hasil kerajinan tangan yang unik yang menjadikan ciri khas tempat ini.

Bangunan yang ada di sini terkesan sangat tradisional karena atapnya terbuat dari ijuk, kuda-kuda atap memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan lantai yang beralaskan tanah. Warga setempat menyebutnya dengan bale.

Di sana terdapat beberapa bale yang berbeda berdasarkan fungsinya masing-masing. Ada tempat yang dimiliki oleh pejabat desa, warga yang baru menikah, dan juga ada untuk orangtua yang menghabiskan masa tua, juga tempat untuk mereka yang berkeluarga dan memiliki keturunan.

Pada saat datang ke Desa Sade, Anda akan disambut dengan tarian khas suku Sasak, serta bisa melihat atraksi budaya pada waktu tertentu, seperti permainan alat musik tradisional.

Selanjutnya Anda akan diajak oleh pemandu wisata untuk melihat keunikan lainnya. Salah satunya Anda akan diajari menenun kain oleh warga setempat, dimana kain tersebut biasanya akan dijual lagi oleh warga tersebut kepada wisatawan yang datang.

Selain belajar menenun, Anda akan melihat keunikan lainnya yaitu dari alat-alat yang dipakai oleh warga yang masih sangat tradisional sehingga ini akan menjadi pengalaman yang berbeda untuk Anda.

Di desa ini Anda akan menemukan penduduk yang ramah yang akan mempersilahkan Anda untuk melihat-lihat ke dalam rumah mereka. Anda bisa masuk untuk melihat bagaimana keadaaan dalam rumah mereka yang di dalamnya terdapat hal unik lain yang menjadi ciri khas tempat ini adalah tata ruang yang memiliki nilai kearifan.

Salah satunya dalah cara masyarakat mengepel lantai, karena berbeda dengan masyarakat perkotaan yang memakai pembersih lantai beraroma segar, di sini masyarakan memakai kotoran kerbau yang dicampur sedikir air, kemudian seteleh kering disapu dan digosok dengan batu.

Penggunaan kotoran kerbau ini di percaya masyarakat dapat menghilangkan debu dan membuat lantai terasa halus dan lebih kuat, serta dipercaya dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditunjukan pada penghuni rumah.

Walaupun cara ini terbilang sangat jarang dan aneh bagi sebagian pengunjung, tetapi dengan menggunakan kotoran kerbau tidak ada sama sekali bau yang ditimbulan dari cara tersebut.

Salah satu yang unik dari desa ini juga karena semua penduduk masih merupakan satu keturunan, karena masyarakatnya melakukan perkawinan antar saudara di desa tersebut.

Bagi para lelaki yang akan menikahi wanita di suku ini, mereka akan menculik gadis yang akan mereka nikahi dan di tempatkan di rumah saudara lelaki tersebut, yang biasanya penculikan perempuan tersebut juga didampingi oleh kerabat perempuan untuk menjadi saksi dan pengiring bagi perempuan tersebut.

Kemudian si laki-laki akan meminta ijin kepada orang tua perempuan yang di culik tersebut dan si perempuan akan menghubungi keluarganya dan memberitahu bahwa ia diculik dan disembunyikan di tempat kerabat laku-laki yang dirahasiakan.

Lalu dilakukan "Nyelabar" yaitu pihak laki-laki yang akan datang sebanyak lima orang untuk menebus si gadis, mereka di haruskan memakai pakaian adat dan izin terlebih dahulu pada suku tertua di desa setempat.

Lalu barulah meminta izin kepada keluarga gadis yang bersangkutan. Namun sekarang istilah penculikan ini agak bergeser maknanya, bukan karena adat tersebut tetapi karena untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan oleh si lelaki tersebut, seperti tidak diizinkan atau yang lain sebagainya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA