Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 02 Jul 2019 17:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menelusuri Jejak Freemason di Bandung

Foto 1 dari 5
Bagian depan Museum Kota Bandung. Bangunan ini dahulu merupakan Frobelschool (Sekolah Tk) milik Perkumpulan Freemasonry di Kota Bandung.
Bagian depan Museum Kota Bandung. Bangunan ini dahulu merupakan Frobelschool (Sekolah Tk) milik Perkumpulan Freemasonry di Kota Bandung.
detikTravel Community -

Freemason kerap disebut sebagai perkumpulan yang kontroversial di masa lalu. Jejaknya pun masih dapat ditemui lewat sebuah museum di Bandung.

Museum Kota Bandung merupakan museum baru di Bandung yang baru dibuka pada tahun 2018. Museum ini menempati salah satu bangunan cagar budaya di Jalan Aceh no. 49, berseberangan dengan Bandung Planning Gallery.

Sekilas bangunan Museum ini nampak seperti bangunan yang dibangun pada masa kolonial pada umumnya, tapi siapa sangka tempat ini menjadi saksi bisu jejak Perkumpulan Freemasonry di Kota Bandung di masa lalu?

Dibangun Tahun 1920, bangunan yang kini menjadi Museum Kota Bandung dahulu berfungsi sebagai Frobelschool (Sekolah Taman Kanak-Kanak) milik Loge Sint Jan dari Perkumpulan Vrijmetselarij (Freemasonry) di Kota Bandung.

Sekolah milik Perkumpulan Freemasonry di Bandung ini sudah beroperasi sejak tahun 1898 awalnya dengan meminjam bangunan paseban di Pendopo Kabupaten. Melalui pengumpulan dana, pada tahun 1900 Perkumpulan Freemasonry dapat membangun bangunan sekolah sendiri yang berlokasi di salah satu sudut kawasan Balaikota Bandung saat ini dan berseberangan dengan markas Loge Sint Jan (sekarang berdiri Masjid Al-Ukhuwah).

Sekolah ini resmi dibuka pada tanggal 25 Desember 1900 dengan 13 murid pada awal pembukaannya dan terus berkembang. Hingga pada tahun 1920, sekolah ini tercatat memiliki 290 murid yang terdiri dari 112 Orang Eropa dan 178 Orang Pribumi.

Tahun 1920 lahan dan bangunan sekolah dipindahkan ke tempat yang sekarang menjadi Museum Kota Bandung sebagai pertukaran atas lahan dan bangunan lama yang akan dibangun Kantor Gementee Bandoeng (Gedung Balaikota). Seluruh kegiatan Frobelschool (Sekolah TK) dan Freemasonry terhenti seiring dengan pendudukan Jepang atas Hindia Belanda.

Pasca kemerdekaan, bangunan ini sempat menjadi Sekolah Yehua pada tahun 1950an. Pada tahun 1962, Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden yang melarang Perkumpulan Freemasonry dan seluruh bangunan serta asetnya dinasionalisasikan.

Sejak saat itu bangunan tersebut beberapa kali berganti fungsi mulai dari Gedung Koni dan Sekolah Pendidikan Olahraga, kemudian menjadi Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, hingga di tahun 2018 bangunan ini diresmikan untuk menjadi Museum Kota Bandung.

Museum ini terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan cagar budaya bekas Frobelschool dan bangunan baru yang terletak di bagian belakang. Namun, saat ini baru dua ruangan di bangunan bekas Frobelschool saja yang dibuka. Pada ruangan pertama hal yang pertama kali terlihat jelas adalah gambar dari tokoh-tokoh yang memiliki keterikatan dengan bandung seperti Soekarno, Dewi Sartika, Bosscha, Daendels, dan lain-lain.

Selain itu terdapat penjelasan sejarah bangunan, limasa Kota Bandung, sejarah pembentukan Kabupaten Bandung yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram. Ada juga foto para Walikota Bandung mulai dari Bertus Coops hingga walikota saat ini.

Ruangan kedua seluruhnya diisi linimasa Kota Bandung mulai dari pengangkatan Bupati Kota Bandung pertama oleh Sultan Agung. Penjelasan di ruang kedua ini dilengkapi juga dengan gambar dokumen-dokumen yang berkaitan seperti Piagam Sultan Agung mengenai pengangkatan Bupati Bandung pertama, peta Bandung tahun 1726 dan lain-lain.

Bagi yang tertarik untuk berkunjung, museum ini dibuka setiap hari kecuali hari Senin, dari pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB dan tanpa dipungut biaya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA