Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 24 Jul 2019 11:12 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Bunga Abadi di Gunung Papandayan

Ade Lesmana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Hamparan Edelweiss sepanjang mata memandang di Tegal Alun
Hamparan Edelweiss sepanjang mata memandang di Tegal Alun
detikTravel Community -

Siapa yang tak kenal dengan edelweiss? Bunga abadi ini selalu mencuri perhatian para pendaki, tak terkecuali di Gunung Papandayan.

Jumat malam, kami pun mulai membelah padat lalu lintas Jakarta menuju Garut. Gunung Papandayan setinggi 2.665 mdpl adalah tujuan kami untuk kembali menyapa alam, menghilangkan penat bekerja dan suasana perkotaan.

Setelah semalaman tertidur dalam kondisi duduk di mobil elf, maka suasana pagi hari ketika sampai di meeting point sebelum mulai treking sangat melegakan kami. Bisa menghirup segarnya udara bebas polusi, langit biru yang cerah dan semilir dingin angin pegunungan menyambut kedatangan kami.

Tidak jauh dari meeting point, kontur tebing dan jalanan berbatu serta kawah yang mengepulkan asap belerang menjadi tempat yang bagus untuk berfoto. Jangan khawatir kalau kamu merasa lelah dan butuh tempat untuk beristirahat dan butuh asupan energi, ada warung yang menyediakan aneka makanan dan camilan.

Meskipun konturnya tidak terlalu terjal namun berhubung jaraknya yang lumayan jauh dan udara yang semakin tipis maka dibutuhkan stamina yang kuat. Perjalanan semakin berat karena harus mengikuti jalan setapak yang semakn terjal, namun dijamin meski lelah namun mata dimanjakan dengan panorama alamnya yang indah.

Disarankan agar kamu dapat mengatur ritme berjalan sesuai kemampuan fisik kamu, yang penting jangan terlalu memaksakan karena ingin cepat sampai ke camping ground. Sesekali beristirahat sambil makan camilan ringan seperti coklat atau pisang untuk menambah stamina dan minum air mineral.

Akhirnya kami pun sampai di base camp Ghober Hoet, tempat untuk mendirikan tenda menginap. Lokasi ini memang dipakai untuk perkemahan karena memiliki pepohonan yang dapat melindungi dari panas terik matahari ketika siang serta hembusan angin.

Fasilitas toilet, warung serta mushola tersedia disini. Saatnya mendirikan tenda, kami mencari view terbaik agar kami bisa menikmati matahari terbit esok hari. Berhubung masih ada waktu menjelang malam, kami memanfaatkan waktu untuk eksplorasi area sekitar.

Kami pun bergerak menuju Pondok Salada menembus hutan. Lebat pepohonan akhirnya berakhir dengan padang terbuka untuk perkemahan. Di sini juga sama tersedia fasilitas bagi para pendaki, mulai dari toilet sampai warung.

Jadi kamu enggak bakal kesulitan untuk mendapatkan pasokan makanan dan minuman meski kamu di atas gunung. Dari Pondok Salada, kami masih terus berjalan menyusuri padang rumput yang ditumbuhi bunga ederweis menuju Hutan Mati.

Sesuai dengan namanya, Hutan Mati merupakan lahan gersang di lereng gunung yang dipenuhi pohon-pohon yang telah mati, tinggal batang dan ranting yang gosong kehitaman, diakibatkan efek letusan erupsi di masa lalu.

Suasana sore memang terasa indah sekaligus magis di sekitar Hutan Mati, kami pun bergegas untuk kembali sebelum kabut turun, menuju perkemahan kami. Udara malam terasa sangat dingin, apalagi ketika bersentuhan dengan air yang sedingin air es.

Kami pun makan malam serta membuat api unggun di sekitar tenda untuk mengusir hawa dingin yang menusuk kulit. Menjadi sebuah keharusan apabila kamu ingin ke tempat udara dingin adalah menjaga suhu tubuh kamu tetap hangat dengan menggunakan pakaian yang tepat agar terhindar dari hipotermia.

Dikabarkan dari pemandu kami dan akang pemilik warung, seminggu sebelumnya suhu sempat turun di bawah nol, dan rerumputan diselimuti embun es yang membeku. Esok harinya, momen matahari terbit yang kami nantikan terhalang awan, sayang sekali.

Setelah kami sarapan, kami bersiap menuju Tegal Alun, yang berada di puncak Papandayan untuk melihat padang Edelweiss. Ini adalah padang edelweiss terluas se-Asia Tenggara, sekitar 32 ha. Jalan menuju kesana sangat curam dan tanahnya licin.

Kamu harus berpegangan ke akar dan batang pepohonan pada saat mendaki. Sesampainya di lokasi, kami sangat takjub melihat melihat lapangan yang sangat luas dipenuhi dengan bunga abadi, edelweiss.

Satu hal yang pasti, kamu harus tetap menjaga kebersihan di lokasi ini dan kelestarian bunga edelweiss ini dengan tidak mengambilnya. Tempat yang begitu indah ini harus dilestarikan, agar generasi mendatang dapat menikmati keindahan Indonesia.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA