Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Agu 2019 14:33 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Malioboro, Tempat Wisata Favorit Sejuta Umat

Hadi Busanery
d'travelers
Foto 1 dari 5
Papan jalan Malioboro
Papan jalan Malioboro
detikTravel Community -

Belum ke Yogyakarta kalau tak menginjakkan kaki di Malioboro. Sebagai salah satu ikon Yogyakarta, tak salah kalau Malioboro jadi tempat favorit sejuta umat.

Kalau ngomongin traveling Pasti kalian punya tempat impian yang paling ingin kamu kunjungi. Bagaimana sih cara mewujudkan impian traveling ke tempat favorit kamu? Ngomongin tempat favorit aku juga punya tempat traveling yang ingin mengetahui kunjungi.

Mungkin saja tempat favoritku ini hampir sama dengan kamu atau berbeda sedikit. Tempat favorit buat traveling aku itu di Malioboro Yogyakarta.

Kalau ngomongin Yogyakarta pasti hampir sebagian besar orang tidak akan melewatkan tempat yang satu ini. Selain lokasinya yang berada di dekat Stasiun Yogyakarta Malioboro merupakan tempat bersejarah.

Kalau kalian pernah ke Yogyakarta mungkin kalian juga pernah berfoto di depan papan nama Jalan Malioboro. Malioboro sering dijadikan tempat destinasi yang wajib dikunjungi kalau datang ke Yogyakarta. Makanya tidak sedikit dari wisatawan dalam maupun luar negeri yang rela mengantri panjang hanya untuk bisa berfoto di depan papan nama Jalan Malioboro.

Selain menjadi tempat foto favorit, Kalian tahu nggak sih sejarah tentang Malioboro selain dari nama besarnya Yogyakarta dan tempat Spot foto yang paling diminati.

awal mulanya Jalan Malioboro dibangun sebagai jalan-jalan atau garis imajiner antara Pantai Selatan Keraton Yogyakarta dan gunung merapi. Malioboro memiliki makna karangan bunga dalam bahasa Sansekerta. Sedangkan dari literatur lainnya mengatakan kalau Malioboro ke berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal di Yogyakarta sejak tahun 1811 sampai 1816 Masehi.

Tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekarang ini terlebih oleh masyarakat pendatang bahwa pada tahun 1887 Jalan Malioboro dibagi menjadi dua akibat didirikannya tempat pemberhentian kereta api yang sekarang lebih dikenal dengan nama stasiun tugu Yogya.

Aku pun baru tahu setelah mencari referensi dari yang ada di internet. Ya, lagi-lagi Internet yang sering dijadikan bahan rujukan karena untuk mendapatkan informasi yang valid dari sumber langsung rasanya suku menguras tenaga jadi mencari sumber yang valid di internet juga sekarang menjadi perjuangan tersendiri untuk kita yang ingin mengetahui sejarah.

Kalau ada kesempatan rasanya pengen banget mempelajari sejarah tentang Yogyakarta dari orang-orang terdahulu yang masih hidup sampai sekarang. Kalaupun kita tidak bisa membuktikan mana yang valid paling tidak kita punya sumber yang bisa kita jadikan untuk menambah ilmu pengetahuan.

Malioboro menjadi lebih rame pada masa kolonial yaitu saat pemerintah Belanda membangun Benteng Van De beek pada tahun 1790 di Ujung Selatan Jalan Malioboro, yang kemudian disusul dengan pembangunan Taj Club tahun 1822 Governor's Residence Tahun 1830 serta Java bank dan kantor pos yang kemudian menyusul setelahnya.

Setiap kali Ke Malioboro rasanya seperti kembali ke masa lampau di mana bangunan-bangunan sejarah Hindia Belanda masih kokoh berdiri di sepanjang jalan. Agenda besar lainnya kenapa aku ke Malioboro adalah karena di sana banyak barang-barang murah dengan kualitas yang tidak mengecewakan.

Jadi hampir dipastikan kalau sudah ke maliboro pasti aku pulangnya bawa banyak barang, selain belanja untuk keperluan produksi tas souvernir, terkadang juga belanja untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Malioboro adalah tempat favorit aku kunjungi. Rasanya nggak pernah bosan walaupun sudah sering bolak-balik ke sana. Kalau destinasi luar negeri sih banyak banget yang ingin aku kunjungi salah satunya adalah Dubai.

Dubai sudah terkenal dengan kemewahan masyarakat dan infrastrukturnya. Aku kadang berpikir ke mana sih perginya sampah-sampah masyarakat Dubai. Karena yang selama ini terlihat di TV itu bersih banget kotanya. Kalau bisa liburan ke Dubai mungkin hal itu yang bakalan aku tanyain. Kali saja apa yang mereka terapkan bisa aku terapkan di Indonesia. Siapa tahu suatu saat Indonesia bisa bersaing dengan Dubai.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA