Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 22 Okt 2019 07:00 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menelusuri Jejak Proklamator di Batu Hampar

DEDY RAHMAT NURDA
d'travelers
Foto 1 dari 5
Hamparan sawah menguning sepanjang perjalanan
Hamparan sawah menguning sepanjang perjalanan
detikTravel Community -

Bersepeda di pagi hari bisa jadi sarana untuk travelling sambil mencari jejak sejarah peradaban dan budaya. Salah satunya mendatangi makam ayah dari Bung Hatta.

Munculnya sinar mentari pagi kali ini terasa sangat berarti dan begitu spesial. Setelah dalam beberapa waktu, berminggu-minggu lamanya lingkungan kami berselimut kabut asap sejak awal Bulan September yang lalu.

Musibah kabut asap akibat kebakaran lahan gambut di provinsi tetangga, yaitu Riau dan Jambi dampaknya cukup terasa di Kota Payakumbuh ini. Asap pekat yang memutih sepanjang hari, membuat cahaya matahari pagi yang bersih bersinar cerah seperti hari ini, seolah seperti barang mahal dan langka dalam beberapa minggu belakangan.

Efeknya, dalam berapa pekan terakhir, acara gowes yang biasa diadakan tiap minggu pagi harus dibatalkan demi menghindari terpapar asap jerebu hasil pembakaran hutan. Bahkan konon kabarnya, angka indeks konsentrasi bahan polutannya sudah melebihi nilai ambang batas aman untuk kesehatan, sudah masuk kategori berbahaya.

Tapi pagi ini terasa berbeda, langit cukup cerah, udara segar dan pandangan mata cukup bersih meski masih terasa sedikit lapis asap tipis. Waktu yang tepat untuk mengayuh pedal lagi.

Janji berkumpul di pusat kota, cuma dua pengayuh yang hadir. Mungkin yang lainnya masih ragu akan kondisi udara.

Kayuhan pertama dimulai tepat di depan Tugu Adipura di pusat Kota Payakumbuh, menuju ke arah barat di jalur jalan lintas menuju Kota Bukittinggi yang terkenal itu. Kayuhan demi kayuhan dari 2 pengayuh sepeda beriringan menapaki jalan aspal yang mulus dan sedikit basah sisa hujan gerimis tadi malam.

Aktivitas pagi di hari Minggu mulai terlihat seperti biasanya, para warga mulai kembali keluar rumah untuk berolahraga senam, lari, jalan dan juga bersepeda di sepanjang jalanan pusat kota dan dibeberapa titik kumpul taman kota. 

Empat kilometer selepas titik start menjelang batas kota, keramaian warga tak lagi tampak, berganti dengan jalanan yang mulai menanjak. Jalanan dua jalur yang tadi ramai dengan aktivitas warga, kini menyempit menjadi tinggal satu jalur 2 arah, merupakan jalan arteri yang menghubungkan Kota Payakumbuh dengan Kota Bukittinggi.

Selayaknya jalanan yang menghubungkan antar kota, lalu lintas kendaraan yang melintas cukup padat dengan kecepatan sedang dan tinggi. Situasi ini membuat kami harus berpacu dan berebutan dengan lalu lalang arus lalu lintas yang ramai.

Perlu ekstra waspada dalam berkendara, apalagi sepeda dalam kondisi jalanan dan lalu lintas seperti ini. Tak jarang kendaraan mungil seperti kami harus dipepet oleh kendaraan besar seperti truk dan bus yang melintas beriringan. Jika tak hati-hati menjaga keseimbangan, apalagi mengayuh dalam kondisi mendaki tanjakkan dan kurang perhitungan, maka hal-hal buruk dapat saja terjadi.

Bersyukur, jalur padat dan ramai ini tak perlu lama dilewati. Sekitar 5 kilometer selepas batas kota, roda sepeda berbelok ke kanan keluar dari jalan lintas yang ramai itu, menuju ruas jalan yang lebih kecil sesuai rute dan tujuan yang tadi disepakati.

Lega rasanya keluar dari jalur padat dan bising itu. Kini berganti dengan jalan kampung selebar 3 meter yang sepi namun tetap beraspal mulus. Cuma satu-dua kendaraan roda empat yang melintas, lebih didominasi oleh kendaraan roda 2 penduduk setempat yang sesekali mendahului atau berpas-pasan dengan kami.

Selebihnya sepi, bahkan sesekali para pesepeda bisa meliuk-liuk dalam perjalanan. Melaju kencang di jalur jalan yang diapit hamparan sawah yang menghijau dan kadang menguning sejauh mata memandang.

Kiri dan kanan persawahan terlihat dipagari oleh bukit-bukit kokoh sedikit berbatu cadas yang ditumbuhi cemara. Sungguh sebuah sensasi yang amat menyenangkan untuk dipandang.

Keringat yang tadi membasahi saat di jalur mendaki, kini mulai mengering di hembus angin dingin saat melaju di jalur yang mulai menurun. Tak perlu mengayuh lagi, roda berputar kencang menapaki jalan aspal membuat target tujuan semakin dekat di depan mata.

Batu Hampar, nama daerah yang dituju, di sana ada jejak sejarah yang hendak kami telusuri keberadaannya. Kampung kecil yang berada di Kecamatan Akabiluru Kabupaten 50 Kota ini nyatanya punya andil besar dalam sejarah dalam berdirinya negara ini.

Persis selepas turunan panjang, mata kami tertuju pada sebuah gerbang Pondok Pesantren Al-Manaar, Batu Hampar. Begitu tulisan yang terpampang di gerbangnya. Disitulah target perjalanan kami berada, di sanalah jejak sejarah itu bersemayam.

Melangkah sedikit ke halaman pesantren itu, terlihat sebuah bangunan kecil yang menyerupai musholla yang berasitektur zaman tempo dulu. Namun jangan salah, bangunan itu bukanlah surau atau langgar tempat beribadah sebagaimana mestinya.

Di sisi luar bangunan, terlihat 2 makam lain yang terpisah yang dilindungi oleh cungkup berpagar besi. Pada satu makam dengan batu nisan yang cukup mencolok, inilah dia jejak sejarah yang kami cari.

Batu nisan dengan marmer persegi itu memuat tulisan : Syekh MHD Jamil bin Abdurrahman, Ayah dari Mohammad Hatta Proklamator RI. Disinilah makam orang yang telah menjadi perantara hadirnya seorang tokoh yang amat berjasa bagi kemerdekaan negara Indonesia. Ayahanda Wapres pertama sekaligus Proklamator kemerdekaan Indonesia, Drs. Mohammad Hatta atau yang kita kenal dengan Bung Hatta.

Fakta yang menyedihkan bahwa Bung Hatta tak sepenuhnya mengenal ayahandanya. Bung Hatta kecil telah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta sejak beliau berusia 8 bulan. Sebagaimana yang ditulis dalam buku memoir, Bung Hatta menuliskan kenangan akan sosok ayah yang tak dikenalnya itu.

"Ayah kandungku bernama Haji Muhammad Jamil, anak Syekh Batu Hampar. Ia meninggal dalam usia 30 tahun, waktu aku berumur 8 bulan. Karena itu, aku tak kenal akan dia. Menurut cerita orang, termasuk ibuku sendiri, aku serupa benar dengan ayahku. Ibuku pernah berkata, 'Engkau potret hidup dari ayahmu'." Begitulah Bung Hatta mengenang akan sosok ayah yang bahkan tak mampu diingatnya wajahnya.

Tak perlu berlama-lama disini, panas yang mulai terik memaksa kami untuk segera lanjutkan perjalanan lagi. Sebait doa yang tadi sempat dipanjatkan sudahi ziarah ini, untuk orang-orang besar yang telah berjasa bagi negeri. Tapak kaki pun kembali mengayuh menyongsong ke arah sinar matahari pagi.

Dalam sebuah perjalanan yang penuh makna, kami mensyukuri kebebasan hidup merdeka. Seperti merdekanya kami yang kembali bisa bersepeda menghirup udara bersih, tanpa kabut asap lagi

BERITA TERKAIT
BACA JUGA