Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 23 Apr 2020 13:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Dulu Bisa Melipir ke Curug Sata Banten Jelang Ramadhan

Dian Wahyudi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Curug Sata Gunungkencana, Lebak, Banten
Curug Sata Gunungkencana, Lebak, Banten
detikTravel Community -

Banyak cara menyambut Ramadhan. Dulu sih sempat ke Curug Sata Banten, namun kali ini jangan ke sana, ya agar virus Corona tak kian merajalela.

Banten memiliki sejumlah air terjun atau curug, termasuk yang lokasinya tidak begitu jauh dari Rangkasbitung. Saya bersama Komunitas Lingkung Curug Lebak mendatangi Curug Sata di kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten.

Jika sudah pernah nonton film Ambu besutan Skytree Pictures yang diperankan Widyawati sebagai Ambu Misna dan Laudya Cynthia Bella sebagai Fatma, yang bercerita latar belakang budaya Baduy di Lebak, Banten. Dalam salah satu adegannya diambil di lokasi Curug Sata Gunungkencana ini.

Film tersebut bahkan sukses meraih dua penghargaan sekaligus pada Festival Film Bandung 2019, sebagai film bermuatan kearifan lokal serta menghantarkan Endita Wibisono yang berperan sebagai Hapsah meraih penghargaan pemeran pembantu wanita terbaik, yang berhasil menyampaikan pesan kepada publik tentang keramahan, kepedulian dan jiwa sosial masyarakat Baduy yang tetap bersahaja di zaman sekarang ini.

Pukul 6.30 WIB kami sudah melakukan persiapan, karena rencananya pukul 7.00 kami berangkat. Karena hanya akan melakukan trip biasa, tanpa menginap, tidak banyak persiapan yang kami lakukan. Tiga hari sebelumnya, kami menelepon kontak kami di kecamatan Gunung Kencana, tentang rencana kedatangan kami.

Kami memanggilnya ka Andi dari Gunung Kendeng, sahabat lama kami. Beliau menyambut gembira akan rencana kami.

"Wah, jalannya sudah enak sekarang mah, bisa masuk mobil," ujar beliau.

Baca Juga: Kesunyian di Masjid-masjid Terbesar Dunia

Kami berlima menggunakan kendaraan roda empat menuju Gunung Kencana. Sepertinya sih, lebih asyik touring menggunakan kendaraan roda dua, karena lebih terasa liburannya. Tapi, untuk kenyamanan kami memutuskan menggunakan kendaraan roda empat.

Selama sekira satu jam, supir kami memacu kendaraan, arah yang dituju sebagai acuan adalah sebelum Jembatan Leuwikopo, lalu belok kanan. Ancer-ancernya, setelah SMAN Gunung Kencana, simpangan menuju Curug Munding juga terus saja, ikuti jalan utama,.

Ternyata mudah saja, setelah Jembatan Leuwikopo ketemu, kami belok kanan. Ka andi sudah menunggu di pinggir jalan. Keren juga, beliau menggunakan motor trail, kami ngobrol sebentar, karena memang sudah cukup lama pula tidak bertemu, terakhir bertemu sekitar bulan Januari 2019.

Kami dipandu oleh beliau, dari jalan utama sekitar 800 meter menuju ke lokasi Curug Sata Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten. Badan jalannya masih tanah, saat ini sudah lebar, saya sangat beruntung sekali, kendaraan roda empat sudah dapat masuk sampai lokasi. Badan jalan, sepertinya baru, batu-batu besar masih tampak di sekitaran tebing, tebing tanah merah. Disebalah kiri, sudah tampak sungai berbatu, batu-batu besar.

Karena baru saja masuk musim penghujan, suasana cukup sejuk, jam masih menunjukan 8.30, suasana cukup menggairahkan, karena sudah cukup lama kami tidak lelecehan (bermain air), haha. Turunan cukup aduhai, jika masuk musim penghujan, karena masih jalan tanah.

Kami sampai, suasana terasa sejuk, damai, suara baling-baling kolecer menyambut kami. Kami parkir, cukup luas, menuju Rumah atau Saung (rumah sederhana dari bilik beratap hateup dan ijuk), masih tampak baru selesai dibangun, sejurus kami turun.

Pohon-pohon beberapa ditebang, dominan pohon karet, dikejauhan hamparan pemandangan bukit hijau yang indah, masih rimbun, hutan. Suara gemuruh sudah terdengar oleh kami. Curugnya ada di area leih bawah.

Saung tampak kosong, namun tampak beberapa botol air, beberapa perabot masak, hawu (tempat masak menggunakan kayu) masih terdapat api, dan ceret air tampak tergantung. Berarti ada orang disekitar sini, gumam saya, sedang masak air.

Karena sudah tidak sabar, kami memburu menuju Curug. Subhanallah, debit airnya cukup berlimpah, padahal sedang masuk kemarau di sini. Air bergemuruh, tercurah menumbuk batu-batu besar, memecah air di bawahnya, damai.

Kami memandangnya dari papan panorama sederhana di tebing, sudah agak lapuk, tapi masih kuat, batu-batu besar, sebesar gajah, tampak berserakan, tak beraturan namun indah. Kami menuruni batu-batu besar, kaki harus hati-hati melangkah. Jika harus merasakan airnya harus melangkah ke bawah sana, lebih ke bawah lagi. Untuk sementara kami hanya berdiri memandang deburan air di atas batu besar. Rasanya, damai.

Baca Juga: Jelang Ramadhan, Rindu Rasanya untuk Singgah ke Masjid Azizi di Langkat

Di batu-batu besar tersebut, karena terhalang oleh pohon-pohon besar dan rumpun bambu yang cukup banyak, terik menjadi sangat teduh. Kami, membuat seduhan kopi hitam, tetap cap kupu-kupu, haha. Se-gelas kopi hitam tandas sambil menikmati curahan air curug yang menakjubkan. Kami ber-foto mengabadikan keseruan menikmati Curug Sata.

Tak lama, pemilik saung, ternyata pemiliknya ka Alek datang. Senang sekali, saya menyambut, memanggil beliau dengan ka Haji Alek, kami saling kenal. Beliau berharap agar Curug Sata ini dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata air terjun andalan Gunung Kencana bahkan Lebak, seperti Curug Munding yang telah lebih dulu dikenal luas.

Saya meng-Amini pendapat beliau, Curug Sata ini sangat indah, debit airnya berlimpah. Curug yang menurut ka Haji Alek berada di Desa Keramat Jaya ini (walaupun menurut beberapa informasi berada di Desa Cimanyangray) kecamatan Gunung Kencana, sangat layak menjadi potensi wisata baru.

Tempat parkir cukup luas, telah tersedia saung singgah, tinggal jalan menuju Curug di batu alam, agar kesan alaminya tetap terasa. Saat ini baru tersedia sengked ditahan bambu saja, dengan pegangan dari bambu pula. Saat memasuki musim penghujan sepertinya belum memadai dari segi keselamatan. Sayang sekali jika ke depan tidak ditata secara profesional. Karena pengunjung yang datang cukup ramai, terutama di akhir pekan.

Jelang makan siang, telah tersedia nasi timbel komplit dari ka Andi. Kami mengajak ka Haji Alek untuk makan siang bareng, sayangnya beliau ada keperluan ke tempat lain.

Untuk menambah keseruan dan menikmati suasana Curug, kami gelar lesehan, buka timbel makan siang. Menunya dahsyat, timbel nasi di daun pisang, goreng ikan emas tepung, tempe, lalap timun, dan tentunya sambel pedas. Deuuh... Subhanallah, nikmatnya. Ditingkahi gemuruh air terjun, mirasa jasa ceuk budak tea mah (nikmat sekali).

Setelah makan siang, saya menuju ke bawah, menuju sungai, airnya cukup deras, loncat dari batu satu ke batu yang lain, besar-besar. Airnya terasa dingin, hijau kecoklatan, nyeeesss. Suasananya damai...

Debit air Curug cukup berlimpah, setelah puas menikmati keseruan air terjun dan bermain gemericik air sungai, kami sholat di saung di atas, dekat tempat parkir. Kolecer di atas pohon, menambah damai suasana. Angin sepoi-sepoi, suasananya iuh (sejuk), mengajak mata ngantuk ujar teman yang lain, walhasil, karpet dan bantal yang tersedia, membuat kami gogoleran (tergeletak tiduran) dina palupuh saung.

Obrolan terakhir kami dengan ka Haji Alek sebelum beliau pergi tadi, kami mohon izin untuk datang kemari dan berencana menginap. Beliau tampak gembira, namun maklum saja kata beliau, belum ada penerangan listrik dan toilet yang memadai, jangankan sehari dua hari, sebulan juga silakan kata beliau.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA