Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Des 2019 13:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Seharian Berwisata Sejarah di Cirebon, ke Mana Saja?

Foto 1 dari 5
Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan
detikTravel Community - Saya dan beberapa teman saya bingung bagaimana mengisi liburan semester kali ini. Menurut saya tidak ada lagi hiburan di ibukota selain pergi ke mall, dan saya tidak terlalu suka. Akhirnya salah satu teman saya mempunyai ide untuk melancong ke Cirebon. Ide yang cemerlang ditambah dengan masuk akalnya bagi kantong kami membuat tidak perlu waktu lama untuk mengiyakan gagasan itu.

Pesan tiket kereta bisa dengan mudah menggunakan aplikasi Tiket.com. Daripada harus ke stasiun, lebih enak rebahan di rumah kan? Kami berlima naik kereta dari stasiun Pasar Senen sekitar jam 7 pagi. Jakarta-Cirebon tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Sekitar 3 jam kemudian, kami sudah turun di stasiun Cirebon Prujakan.

Karena kami berangkat dari rumah setelah subuh dan mengganjal perut sekenanya agar tidak tertinggal jadwal kereta, maka wajar tujuan pertama kami adalah kuliner pagi terlebih dahulu. Nex Carlos, salah satu Youtuber kuliner kondang di Indonesia memberi referensi bagi kami.

Kami penasaran, bagaimana nasi ayam di sekitar SMA Santa Maria Cirebon bisa memperoleh label 'Gak Ada Obat' dari Nex yang notabene label untuk makanan terenak yang pernah dijajal oleh youtuber itu. Setelah dicoba, tidak berlebihan memang gelar 'gak ada obat' itu. Harga yang murah dan rasanya yang tidak dapat dipersamakan atas sate kulitnya sungguh bisa dijadikan alasan untuk untuk nasi ayam tersebut dinobatkan sebagai salah satu restoran 'Michellin Star'.

Energi telah didapatkan, tak ada alasan lagi menunda trip lebih lama. Tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Merah Manjunan. Walaupun sudah terdaftar di google maps, namun ternyata untuk mencapainya tidak semudah yang saya bayangkan. 

Kami harus menelusuri gang-gang terlebih dahulu karena letak masjid yang berada di tengah perkampungan. Warnanya yang merah mengukuhkan jati dirinya di antara bangunan rumah yang mengapit di sisi kanan dan kirinya. 

Kami berisitirahat sejenak, sampai ada seseorang lelaki paruh baya menghampiri. Ternyata bapak itu adalah marbot masjid. Beruntungnya beliau juga mengetahui cerita legenda tentang masjid itu. Beberapa saat beliau bercerita, hingga adzan dhuhur menyudahi pembicaraan si bapak dengan kami.

Selepas salat, kami menuju ke destinasi berikutnya, yaitu Keraton Kanoman. Tidak terlalu jauh jaraknya, bahkan tidak ada yang protes saat saya mengajak untuk berjalan kaki saja. 

Keraton Kanoman bisa ditemukan lewat google maps, namun tempatnya yang 'tersembunyi' sempat membuat ragu. Terletak di belakang sebuah pasar tradisional membuat Keraton Kanoman tidak terlalu kentara dari jalan utama. 

Saat manapakkan kaki di areal keraton, kesan megah hampir tidak dapat saya temukan kecuali pada sebuah gapura besar dengan pintu dari kayu, tingginya sekitar lima meter. Memang masih ada beberapa wisatawan yang mampir juga ke Keraton Kanoman, namun selain wisatawan dan beberapa papan keterangan mengenai beberapa bangunan, nyaris tidak ada tanda-tanda bahwa area tersebut merupakan komplek Keraton Kanoman. Memang tidak instagramable namun jika mau dirawat lebih baik, informasi sejarah yang dikandung menurut saya juga tidak kalah bernilai dengan tempat lain yang hanya digunakan untuk berswafoto kok.

Sudah tidak ada lagi yang bisa dikulik, kami mengunjungi 'saudara tua' dari Keraton Kanoman, yaitu Keraton Kasepuhan. Berbeda 180 derajat dengan 'saudara muda'-nya, Keraton Kasepuhan adalah situs cagar budaya yang terawat. 

Cukup membayar karcis 15 ribu kita sudah bisa eksplor komplek keraton. Suasana yang asri dan tenang serta bangunan kuno yang masih bagus membawa saya ke beberapa milenium kebelakang. Jika ingin lebih menjiwai, kita juga bisa menyewa baju adat di sana. 

Sedangkan keistimewaan pamungkas adalah apabila beruntung kita diperkenankan bertemu dengan sultan yang masih aktif hingga sekarang. Selain bangunan-bangunan lawas, properti-properti kesultanan seperti keris, kereta kencana dan lain-lain juga tersimpan rapi di dalam museum yang berada di komplek keraton.

Cukup sudah berkeliling Keraton Kasepuhan, selanjutnya kami menuju ke Taman Gua Sunyaragi. Kesalahan terbesar kami adalah kurangnya riset, sehingga mau tidak mau kami harus memikul konsekuensinya. 

Datang di siang bolong sangatlah tidak dianjurkan, panas khas daerah pesisir terasa berkali lipat karena tidak ada tempat berteduh. Panas masih bisa tereduksi saat kami berada di celah-celah taman gua, tapi apakah kami akan berhenti terus di situ? Tentu tidak kan. 

Yang menarik dari Taman Gua Sunyaragi ini yaitu susunan batu-batu yang menjulang dengan beberapa keramik yang menempel di sisi-sisinya. Saya kira itu yang membuat banyak orang berkunjung ke sini, karena keunikannya.

Sepertinya nasi ayam tadi pagi sudah menyerah menjadi sumber tenaga. Waktunya menyudahi wisata budaya, dan berganti dengan wisata kuliner. 

Tidak lengkap rasanya jika ke Cirebon tidak makan empal gentong. Akhirnya kami berlima menuju ke salah satu restoran empal gentong yang terkenal seantero Cirebon menggunakan taksi daring. Tidak butuh lama dari pesan sampai terhidang, dan tanpa basa basi juga kami langsung melahapnya.

Perpaduan antara Coto Makassar dengan Soto Lamongan yang saya rasakan membuat saya menemukan suatu panganan dengan cita rasa baru, lumayan bisa menambah perbendaharaan rasa saya. Layak memang jika empal gentong dijadikan makanan khas dari Cirebon.

Waktu hampir sore, namun karena tempat wisata yang berjauhan, akhirnya kami memilih rehat di rooftop sebuah mall. Senja itu indah juga unik. Setiap tempat memiliki keindahan senjanya masing-masing, begtu juga Cirebon. Kami menikmatinya sampai langit menggelap.

Kumandang adzan isya sudah terdengar. Setelah sholat saya dan teman-teman berjalan kaki menuju Stasiun Cirebon Prujakan. 

Jika saja trotoar diperbaiki, mungkin saja Cirebon jadi kota ramah pejalan kaki. Bukan saja karena suasananya yang enak, namun jarak antar tempat wisata di sekitar pusat kota tidak terlampau jauh dan masih masuk akal jika ditempuh dengan berjalan kaki. Hal itu sangat bisa dijadikan nilai tambah dan alasan untuk orang-orang semakin banyak mengunjungi Cirebon.

Sebelum sampai di stasiun, kebetulan salah satu teman saya tahu tempat makan makanan khas Cirebon satu lagi, nasi jamblang. Memang kebetulan belum makan malam, mampirlah kami untuk mencoba nasi jamblang. 

Belum beruntung, lauk yang tersedia tidak lengkap, hanya sisa-sisa karena memang kami tiba saat restoran tersebut siap-siap untuk tutup. Daripada tidak sama sekali, ya kami ambil lauk seadanya.

Namun makanan khas ini tidak memberi kesan istimewa apapun bagi saya. Ada sih satu yang berbeda, alasnya menggunakan daun jati, selebihnya sama dengan nasi campur yang lain. Mungkin akan berbeda jika masih disisakan menu cumi hitam yang terkenal menurut teman saya. Semoga suatu waktu bisa mencoba.

Di samping restoran tersebut ada toko oleh-oleh. Sebagaimana orang Indonesia pada umumnya, pasti akan ditanyakan oleh-oleh saat pulang dari berpergian. Saya pilih untuk membeli sirup 'Jeniper', akronim dari jeruk nipis peras, dan satu kantong kerupuk kulit ikan. Lega sudah ada yang bisa dibawa pulang.

Kami tiba di stasiun sekitar jam sepuluh malam. Tidak terlalu lama kereta datang sesuai dengan jadwal. 

Setelah duduk di kursi masing-masing, tanpa dikomando kami semua memejamkan mata. Merasakan letih yang mulai menyeruak yang sedari tadi diabaikan dan tertutupi oleh kesenangan-kesenangan. Banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam sehari. Sungguh trip yang layak dicoba, terutama bagi para pejuang ibukota yang merindukan suatu short escape yang terjangkau.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA