Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 15 Jan 2020 11:51 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mendaki Gunung Arjuno Saat Musim Hujan, Begini Caranya

Foto 1 dari 5
Perjalanan saya menggapai Puncak Ogal Agil Arjuno 3339 mdpl yang tampak di depan mata
Perjalanan saya menggapai Puncak Ogal Agil Arjuno 3339 mdpl yang tampak di depan mata
detikTravel Community - Gunung Arjuno adalah gunung di Jawa Timur yang memiliki ketinggian 3339 mdpl. Mendaki gunung ini saat hujan butuh trik tersendiri, simak kisah berikut ya!

Wilayah Gunung Arjuno sendiri terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, Mojokerto dan Pasuruan. Untuk bisa ke sana ada beberapa jalur yang bisa dilewati seperti Tretes, Purwosari, Cangar, dan Lawang.

Kebetulan d'travelers, pada awal Desember, saya bersama tiga kawan berkesempatan mendaki gunung yang terletak di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Soerdjo tersebut. Mujurnya lagi, waktu itu bersamaan dengan turunnya hujan yang menemami jejak langkah kami sampai ke puncak.

Bagi sebagian orang, mendaki di kala hujan itu tidak nyaman, namun sebenarnya ada makna tersendiri lo ketika hujan, apa itu? Simak tulisan ini ya Detikers.

Sebelum mendaki ke puncak, hal yang perlu dilakukan adalah registrasi. Jalur yang kami pilih adalah Sumber Brantas Batu, alasannya, karena jalurnya paling singkat dibanding jalur lain. Selain itu, jalurnya relatif mudah untuk para pemula seperti kami.

Di pos Sumber Brantas Batu, saat ini juga sudah menerapkan sistem online, sehingga kamu bisa dengan mudah registrasinya.
Tarifnya cukup murah, hanya 11 ribu rupiah perhari.

Selepas registrasi, kita melanjutkan perjalanan menuju pos 1. Hamparan tegalan pertanian ketika hujan terlihat di mata kita. Lahan terasering tergugus indah, sayuran hijau yang enak dipandang, dan keramahan petani yang tak segan melemparkan senyum sapa kepada kita, para pendaki.

Hujan lokal yang merintik masih belum reda, perjalanan sudah memasuki pos 1. Di sini adalah batas antara tegalan dan vegetasi hutan, pemandangannya akan terkonversi dari tegalan sayuran menuju rindangnya hutan yang masih asri.

Di sepanjang jalur pos 1, kami disuguhkan dengan pepohonan yang diselimuti lumut, dan beberapa diantaranya terdapat anggrek yang menampang di batangnya. warnanya nampak hijau segar.

Disini kaki kita berjalan perlahan-lahan, karena jalurnya yang agak licin. dan beberapa kali kami perlu untuk melangkahi beberapa pohon yang tumbang secara alami.

Memasuki pos 2, vegetasinya tidak selebat pos 1,namun mulai nampak kepungan pepohonan pinus yang memanjakan mata. Disini kami beristirahat sejenak untuk mendirikan tenda sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Selepas beristirahat, kami berjalan sekitar 2 jam perjalanan menuju pos 3. Disinilah uniknya jalur Sumber Brantas dibanding jalur yang lain, meski tidak ada sumber airnya, kami bisa melihat asap-asap yang mengepul dari sumur uap tua yang ada di dekat setapak.

Setelah kami melewati sumur uap tersebut, kami melihat bagaimana indahnya kelokan pepohonan tua disana. Pohon-pohon yang bercabang itu seperti di hutan purba yang dipenuhi dengan batang-batang berkelok dan berlumut hijau kecoklatan.

Semakin sedikit pepohonan tua, tandanya semakin dekat dengan Lembah Lengkehan.

Lembah Lengkehan adalah tempat datar yang dipenuhi rerumputan luas. Disini ketinggiannya hampir tiga ribu diatas permukaan laut. ketika kami berbicara atau bernafas, terdapat uap yang mengembul di mulut dan hidung.

Di sebelah kiri Lembah Lengkehan terdapat jalur ke Gunung Kembar 1 (3051 mdpl) dan Gunung Welirang (3156 mdpl), di Sebelah kanan ada jalur menuju Gunung Kembar 2 (3126 mdpl).
Kami memilih jalur lurus karena itu menuju puncak Ogal-Agil Arjuno.

Kami menyisiri lereng Gunung Kembar 2 selama 1,5 perjalanan sampai tiba di Lapangan Kotak.

Kami beristirahat dan menaruh barang, karena sebentar lagi kami akan summit attack. Carrier yang menenteng di bahu harus segera kami taruh, karena kami akan menghadapi medan yang kisaran kemiringannya sekitar 30-90 derajat, selama 2 jam.

Kali ini kami akan memasuki Alas Lali Jiwo, tempat yang dianggap orang angker dan memiliki jalur yang bercabang, serta vegetasinya yang seragam yang dapat membuat orang tersesat.

Tapi tenang, kami tidak takut. Karena selama kami percaya Tuhan, mendaki bersama teman, dan tidak melanggar aturan alam, kami akan aman selama perjalanan.

Di samping menyakinkan diri, Kami terus melakukan peejalanan dengan menggapai batu untuk berpegangan, dan menjejakkan langkah di tanah kesat selepas hujan. Kami terus menggobrol dan membuat humor agar tidak takut.

Deretan batuan besar yang kami raih semakin berakhir ketika kami sudah berada di jalur puncak.
Kami berhati-hati, meski treknya landai kami tetap melewati bebatuan dengan konsentrasi ekstra.

Setelah kami berjalan melewati gugusan batuan, kami dapat melihat bendera merah putih berkibar megah dan dapat melihat plang bertuliskan "Puncak (Ogal-Agil) Arjuno, 3339 mdpl" yang sekarang ada di tangan, bersama awan yang tidak lagi menitikkan hujan.

Rasa haru, sedih, senang, dan syukur bercampur aduk. Kami mengabadikan momen terbaik dengan berfoto bersama.

Dan kami juga merekam dengan kamera terbaik ciptaan Tuhan, Mata, melihat ciptaan-Nya yang terbentang luas di hadapan kita.

Ada gugusan awan yang menyelimuti kemegahan Welirang, Semeru, Buthak, Penanggungan, dan daratan Jawa yang bisa kami lihat dengan indahnya.

Selepas mengabadikan momen, kami perlu turun karena bonus puncak sudah kami dapat. Alhamdulillah, selamat!

Dan eits, ketika turun kami tidak lupa mengemasi sampah. Karena bagi kami, pantang mengotori apalagi merusak keasrian Gunung Arjuno Welirang.

Bagi kalian yang membaca artikel ini, salam dari kami, salam lestari.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA