Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 13 Agu 2020 11:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Liburan Bersama Ayah Tercinta, Nostalgia Masa Muda

Saeful rochman
d'travelers
Foto 1 dari 5
Mengunjungi masjid agung semarang di satu sore.
Mengunjungi masjid agung semarang di satu sore.
detikTravel Community -

Kapan terakhir kali Anda liburan bersama orang tua? Pengalaman kali ini sungguh berharga, mengajak ayah yang sudah lansia untuk mengenang masa mudanya.

Bagi saya yang senang berjalan seorang diri (solo travel) telah membuat saya belajar banyak hal, menyadarkan banyak hal, membuka banyak hal, dan bagi saya itu telah membawa kepuasan tersendiri dalam menikmati kehidupan yang singkat ini, tetapi berjalan berdua dengan orang tua yang sudah lanjut usia membuat batin terasa lebih penuh.

Kita percaya usia muda adalah usia yang paling produktif dimana kita bisa melakukan banyak aktivitas apapun lebih dari saat seseorang sudah lanjut usia, membangun karir, mengumpulkan banyak property, melangsungkan pernikahan dan masih banyak hal lainya.

Saat teman-teman satu angkatan sibuk melakukan banyak persiapan itu sempat membuat saya merasa ragu karena memiliki rencana yang berbeda pada umumnya. Cara dunia bekerja memang sangat unik, dimana banyak hal yang tidak akan kita dapatkan dalam waktu yang sama secara bersamaan, meski pada kondisi tertentu kemungkinannya justru membuat kita kehilangan keduanya atau bahkan semuanya.

Dari kesendirian saya belajar, dari keheningan saya sadar dan dari langakah-langkah sendiri dalam menyusuri setiap masa lalu dan masa depan yang masih teka teki saya mulai memberi arti, untuk apa hari-hari yang sudah berlalu, untuk siapa esok hari jika di ijinkan kembali? meski gambaran realita memang selalu lebih nyata di bandingkan kehidupan yang ideal.

Pentingkah kita memiliki itu semua, idealisme dan filosofi? yang lebih sering beroposisi dengan realita.

Rencana untuk bisa melakukan perjalanan dengan orang tua yang sudah lanjut usia pertama kali muncul saat isi kepala di penuhi hal-hal yang tidak ingin menjadi nyata dalam hidup saya beberapa tahun silam, yang kadang terasa sangat nyata bisa saya rasakan tentang bagaimana jika waktu terhenti, bagaimana jika semuanya berubah? dari sana saya sadar kita tidak akan pernah selamanya tinggal dengan orang tua semakin hari kesehatanya terus menurun, memorinya semakin terbatas.

Meski sempat tertunda beberapa kali akhirnya saya memiliki kesempatan itu, berjalan berdua dengan bapak yang sudah lanjut usia, mengunjungi tempat-tempat dimana iya menghabiskan masa mudanya, asrama tempat ia belajar ilmu agama, berziarah ke makam sahabat dekatnya, atau mengunjungi tempat-tempat yang berarti menurut hidupnya, saya ingin membuat memori yang paling berharga yang bisa saya kenangan selama sisa usia.

Pada awalnya saya kira perjalanan ini hanya sebatas perjalanan seorang anak laki-laki dengan seorang bapak, saya kira perjalanan ini hanya seputar bagimana saya bisa melihat gairah hidup dari matanya, atau senyum bahagia yang merekah dari bibirnya.

Lebih dari itu perjalanan ini adalah perjalanan dua orang manusia yang memiliki sudut pandang yang sangat jauh berbeda, tentang waktu, tentang jarak dan tentang keterikatan-keterikatan yang saling mengikatkan, kebaikan, keburukan dan kecanggungan, perjalanan ini lebih tentang bagimana menemukan hal-hal yang telah hilang dari kehidupan sehari-hari.

Ini mengembalikan saya kepada esensi dari sebuah perjalanan, meski sebelum sampai hari ini saya telah banyak menghabiskan waktu di dalam rumah bersama saat saya cuti dari kerja namun pengalaman melewati perjalanan berhari-hari bersama di usia kami yang sudah terpaut lebih dari 35tahun sangat jauh berbeda situasinya.

Seperti yang saya katakan di awal, hidup ini singkat, orang tua tidak akan bersama kita selamanya dan lewat perjalanan kami mencoba saling terhubung satu sama lain, saya menjadi memahami, menghargai hubungan kami yang berubah dari waktu ke waktu, begitupun sebaliknya.

Saya kira kehadiran dan tindakan adalah bahasa batin yang selalu berbicara lebih jauh dari pada kata-kata yang sering di ucapkan, dan meluangkan waktu untuk mewujudkan keinginan hatinya yang harus tertunda karena aktivitas fisik yang sudah tidak memungkinkan lagi melakukannya seorang diri adalah bagian dari bahasa saya.

Seperti kata pepatah lawas meluangkan waktu dan berada di samping seseorang adalah bahasa yang di gunakan sebagian orang untuk mengatakan 'Saya begitu menyayangimu'.

Tentang setatus kesehatannya, obat-obatan atau masalah lain yang mempengaruhi iya untuk melakukan perjalanan, ternyata tidak pernah sama dengan yang biasa saya lakukan lewat sambungan telepon biasa, tidak ada yang benar-benar baik dari kabar baik yang sering iya ucapkan di ujung telepon, mudah baginya mengatakan (semua baik-baik saja) lewat sambungan telepon, tapi di perjalanan saya melihat langsung bagimana fisiknya berfungsi jauh lebih menurun dari yang sering iya ucapakan, ini sama sekali berbeda.

Berbeda dengan banyak perjalanan lainya, berjalan dengan orang tua yang sudah lanjut usia di tengah kesehatannya yang terus menurun selama berhari-hari membuat saya memiliki perasaan yang baru dalam melihat kehidupan, memiliki sudut pandang baru dalam melihat waktu dan saya bersyukur telah memiliki kenangan dan perasaan ini.

Akan ada banyak hal yang mungkin sulit untuk kita jelaskan bagaimana rasanya, untuk kita gambarkan bagimana indahnya karena telah melakukan perjalanan berhari-hari dengan orang tua lanjut usia tapi menurut saya kebahagiaan akan selalu bersifat personal.

Berjalanlah mungkin kamu akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan akan tujuan hidupmu, bahkan dalam kemungkinan mereka sudah tidak sampingmu.

Semoga semua orang sedang menikmati kehidupan terbaiknya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA