Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 24 Mei 2020 11:18 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Desa Penyengat Si Penghasil Nanas

Disra Alldrick
d'travelers
Foto 1 dari 5
Seorang petani nanas Kelompok Tani Binaan RAPP, Desa Penyengat sedang melakukan panen nanas
Seorang petani nanas Kelompok Tani Binaan RAPP, Desa Penyengat sedang melakukan panen nanas
detikTravel Community -

Desa Penyengat di Riau jadi salah satu penghasil nanas. Lihat yuk!

Jalan-jalan di masa pandemi ini memang tidak dianjurkan. Setiap orang diminta untuk berada di rumah saja. Terlebih di bulan puasa menjelang lebaran tahun 2020 ini, siapapun harus menunda mudiknya. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona (COVID-19).

Kondisi ini ternyata memberi tekanan pada perekonomian masyarakat. Banyak yang kehilangan mata pencaharian, berhenti bekerja, atau berkurang hasil jual belinya.

Lain halnya dengan para petani buah raja ini. Disebut buah raja atau dikenal dengan nanas ini karena daun bagian atas buahnya berbentuk mahkota raja.

Bagi yang pernah jalan-jalan ke Riau, tentu pernah menemukan banyaknya penjual nanas di pinggir jalan lintas, seperti perbatasan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar, atau di sekitar Kabupaten Siak dan daerah lainnya di Riau. Buah nanas di daerah ini banyak juga diolah menjadi berbagai produk turunan lain seperti keripik, selai, bolu, wajik, sirup hingga isian kue khas lebaran atau nastar.

Desa tersebut berjarak sekitar 120 kilometer dari Pekanbaru, Ibukota Provinsi Riau dapat ditempuh melalui jalan darat.

Ketika sampai di desa tersebut, hamparan kebun nanas begitu luas membentang sejauh mata memandang. Banyak mobil pengangkut mondar-mandir membawa hasil panen untuk dijual ke pasar. Para petani tampak sibuk memetik nanas yang siap panen.

Salah satunya Bu Apo. Ia merupakan salah seorang petani nanas di Desa Penyengat. Bu Apo memiliki sekitar 5 hektar kebun nanas. Setiap bulan ia bisa memanen sekitar dua hingga tiga ribu nanas.

"Sampai saat ini tidak ada pengaruh, justru kami bersyukur produksi dan penjualan nanas tidak terhambat akibat COVID-19," ujar Apo,seorang petani.

Begitu juga dengan Supriyadi, seorang petani nanas lainnya. Menurutnya, terjadi peningkatan permintaan buah nanas sebesar 25 persen selama bulan puasa. Bahkan, ia mengaku bisa meraup keuntungan hingga Rp10 juta per bulan.

"Kita hampir setiap hari panen di sini. Beruntung berkat program budidaya nanas, usaha nanas di Penyengat masih tetap berjalan lancar bahkan cenderung meningkat meski di tengah situasi COVID-19 ini," ungkap Supriyadi.

Mengelilingi kebun nanas di Desa Penyengat ini cukup menantang. Pasalnya, luas perkebunan masyarakat ini mencapai 250 hektar yang terdiri dari 150 kepala keluarga.

Ada cerita menarik dibalik masifnya luas perkebunan buah yang tergolong sangat menyehatkan ini. Semula masyarakat Penyengat sempat meragukan potensi buah nanas sebagai hasil buah unggulan desanya. Mereka awalnya hanya menanam nanas dalam skala kecil dengan sangat tradisional.

Namun demikian, di tahun 2013 lalu, melalui program kemitraan salah satu perusahaan pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI), menawarkan program One Village One Commodity atau Satu Desa Satu Komoditas Unggulan (OVOC). Masyarakat sempat meremehkan bibit buah yang dibawa karena tampak tidak meyakinkan. Uniknya, meski tidak percaya, sebagian masyarakat tetap menanam bibit buah tersebut.

"Iya awalnya kami tak yakin, mana mungkin bisa tumbuh. Pun kalau tumbuh, bagaimana merawatnya, siapa yang beli, ke mana akan dijual," kenang Supriyadi kala itu.

Setelah menunggu selama setahun, ternyata hasilnya berbuah manis. Bibit yang dulu sempat diragukan tumbuh menjadi buah yang bagus. Nanas itu disebut juga dengan nama nanas ratu. Ia memiliki rasa yang khas bahkan lebih tahan lama dibanding jenis nanas lainnya.

"Sejak itu, nanas di sini mulai berkembang dan banyak yang mengikuti jejak kami yang awalnya hanya 5 orang di lahan seluas 10 hektar," tuturnya.

Kini, setiap minggu lebih dari 40 ribu buah nanas dikirim ke pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Selain itu, mereka juga melayani permintaan lokal sebanyak 15 ribu buah nanas setiap harinya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Bambang Hendroyono mengatakan kementerian telah menginstruksikan seluruh pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk memperkuat kemitraan dengan masyarakat sekitar. Hal itu penting untuk meringankan beban yang ditimbulkan dari pandemi COVID-19.

Di tengah situasi COVID-19 program kemitraan diharapkan terus dilanjutkan mengingat masyarakat di sekitar hutan akan terdampak. Saat ini sinergi antara Pemerintah dan pelaku usaha sangat diperlukan untuk menghadapi wabah COVID-19 termasuk berbagai dampaknya terhadap masyarakat, ungkap Bambang, Rabu (13/5/2020).

Program Budidaya Nanas di Desa Penyengat merupakan bagian dari Program OVOC yang dijalankan oleh Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Program kemitraan ini memberdayakan ekonomi masyarakat berbasis komoditas unggulan yang bernilai ekonomi tinggi, mudah dipasarkan, dan sesuai dengan kriteria wilayah tersebut. Buah nanas telah menjadi komoditas unggulan dan sangat sesuai ditanam di Desa Penyengat sejak dulu. Produksi buah nanas di desa ini tetap stabil dan bahkan cenderung mengalami peningkatan meski di tengah tekanan ekonomi di masa pandemi.

CD Officer RAPP, Dainar Rifai mengatakan saat ini kelompok tani Desa Penyengat sudah mandiri dan pihaknya hanya memberi pendampingan target dan prospek usaha di lahan seluas 58 hektar. Produksi kelompok tani binaan ini mencapai 110.350 buah nanas selama Januari-Maret 2020. Jumlah ini mengalami peningkatan dari periode sebelumnya yakni 104.700 buah selama Oktober-Desember 2019 lalu.

Awalnya kita berikan stimulan, pelatihan, studi banding, bantuan lahan 10 hektar dan bibitnya di tahun 2013 lalu," kata Dainar.

Guna mengantisipasi berbagai kemungkinan, petani nanas sudah bisa membaca pasar. Mereka telah menerapkan sistem pengaturan jadwal panen.

Jadi mereka bisa mengatur jumlah panennya. Mereka lebih banyak menanam di bulan puasa karena kecenderungan permintaan dan harga yang bagus. Standarnya nanas bisa ditanam 20 ribu batang per hektar, tapi ada juga petani yang berani menanam 30 ribu batang, jelasnya.

Program budidaya nanas di Desa Penyengat ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Siak.

Semoga budidaya nanas ini bisa terus berkembang dan mudah-mudahan akan ada juga industri pengolahan nanas yang bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat, kata Bupati Siak, Alfedri.

Program OVOC budidaya nanas ternyata turut mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 nomor 12 tentang produksi dan konsumsi bertanggung jawab dan nomor 17 tentang kemitraan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA