Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 06 Jun 2020 09:19 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sudah Tahu? Ada Rumah Demit di Klaten

TyasIvana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Penampakan Ombah Demit yang menjadi icon objek wisata Bukit Patrum.
Penampakan Ombah Demit yang menjadi icon objek wisata Bukit Patrum.
detikTravel Community -

Bekas area tambang Klaten disulap menjadi sebuah obyek wisata. Di antara hamparan tambang ada sebuah bangunan dengan nama Omah Demit.

Hamparan bukit kapur memanjakan mata, cadasnya batu merengkuh di antara selongsong pipa baja, laksana tangga menuju pucak tertinggi. Sebuah kisah tentang kerasnya bekas tambang batu gamping di daerah Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Tak hanya meninggalkan pesona tapi juga sejarah.

Satu - satunya peninggalan sejarah Belanda yang masih berdiri kokoh di puncak tebing kapur. Hanya tersisa bekas tambang dengan kolam keruh dan tanah gersang.Terbalut dalam ke-khasan Bukit Photorium Patrum, berdiri dengan kokoh sebuah rumah kecil tak berpenghuni di atas sebuah bukit batu. Warga sekitar pun menyebutnya Omah Demit.

Rumah kecil tersebut berdiri di atas tebing batu, tanpa ada satu jalanpun menuju kesana, karena itu di namakan Omah Demit yang jika di artikan dalam bahasa Indonesia menjadi Rumah Demit atau sejenis makhluk gaib.

Namun sebenarnya Omah Demit memiliki kisahnya sendiri. Yaitu bekas gudang mesiu atau biasa di sebut patrum, salah satu dari jenis bahan peledak. Omah Demit atau gudang patrum tersebut memang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Dari awal Omah Demit sudah menjadi daya tarik sendiri, bahkan dulu ada dua gudang patrum. Tetapi salah satunya sudah roboh termakan waktu.

Terlepas dari kisah misteri dan sejarahnya, dulu ketika para penambang masih menambang area tersebut. Mereka sering menggunakan patrum atau mesiu. Awalanya Bukit Patrum memiliki ketinggian yang sama, akibat penambangan dengan menggunkan bahan peledak membuat daya rusak yang lebih besar pula. Terbukti banyaknya cekungan-cekungan di sekitar area Bukit Patrum.

Setiap pagi petugas akan menyalakan sirine atau memukul kentungan di dekat area pemukiman warga. Warga akan dihimbau untuk pergi maupun berlindung ketempat yang aman.

Dampak yang sering diterima warga adalah beberapa genteng rumahnya pecah akibat ledakan tersebut. Peledakan bahan tambang biasanya akan dilakukan pada pagi hari. Setelah itu bahan tambang akan di kirim ke daerah Gondang untuk diolah menjadi gamping.

Sampai pada akhirnya aktivitas penambangan menggunkan bahan peledak dihentikan pemerintah. Bekas tambang gamping kini di sulap menjadi salah satu objek wisata alam. Kini tepian tebing penuh dengan pasak besi warna warni, kolam yang kini bersih dan terawat, bunga-bunga pun tak lupa menampakan keelokanya. Berbagai pernak-pernik dan pangan berjajar rapih. Penuh pesona dan misteri, kesan sang Bukit Patrum.

Tak lupa disuguhkan kesan menantang bagi para pengunjung yang hobi memanjat tebing, atau hanya ingin menikmati pemandangan indah dari puncak bukit. Dari atas bukit, sejauh mata menmandang sebuah embung atau mata air alami juga tak mau kalah memperlihatkan keindahanya. Semilir angin pun jugasangat terasa ketika para pengunjung berdiri di puncak Bukit Patrum.

Objek wisata alam Bukit Patrum juga menyediakan fasilitas berupa gazebo, musola, warung makan, dan juga tangga disekitar bukit untuk para pengunjung yang hendak naik ke puncak bukit. Untuk biaya masuknya sendiri tergolong murah berkisar antara Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu per orang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA