Awas! Ditabrak Pesepeda di Amsterdam

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Belanda

Awas! Ditabrak Pesepeda di Amsterdam

AN Uyung Pramudiarja - detikTravel
Selasa, 22 Okt 2013 09:16 WIB
Awas! Ditabrak Pesepeda di Amsterdam
Cuaca dingin menjadi satu alasan warga amsterdam memilih sepeda sebagai alat transportasi (Uyung/ detikTravel)
Amsterdam - Hal yang harus selalu diingat turis saat berkunjung ke Kota Amsterdam adalah: waspadai para pengendara sepeda. Entah malas mengerem atau memang tidak punya rem, mereka kerap menabrak siapapun yang ceroboh melintas di jalur sepeda.

Amsterdam memang terkenal sebagai kota sepeda. Di kota ini, hampir setiap orang memiliki sepedanya sendiri dan dalam satu keluarga rata-rata ada 3-4 sepeda. Tak heran jika di setiap tempat, parkiran sepeda yang rapi maupun semrawut menjadi pemandangan yang khas dari kota besar Belanda ini.

Uniknya, hampir 90 persen sepeda yang berseliweran di kota ini adalah sepeda butut. Sebagian cuma memiliki 1 rasio gir alias fixed, dan sebagian lagi bahkan tidak memiliki rem tangan. Hanya tersedia rem kaki atau di Indonesia kerap disebut sepeda torpedo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wilma, local guide yang mendampingi detikTravel dalam kunjungan ke Amsterdam atas undangan dari PT Sari Husada minggu lalu membenarkan bahwa sepeda butut sangat populer dibandingkan sepeda-sepeda bagus. Alasannya, semakin butut maka semakin aman dari pencurian.

"Sepeda bagus, kalau parkir minimal harus digembok rangkap 3 dan gemboknya harus yang besar-besar," kata Wilma.

Ada beberapa alasan mengapa warga Amsterdam lebih suka bersepeda dibandingkan menggunakan kendaraan lainnya. Alasan pertama adalah tarif parkir yang sangat mahal untuk mobil dan kendaraan lainnya. Rata-rata, tarif parkir mobil di kota ini bila dirupiahkan bisa mencapai Rp 7.000/jam.

Sedangkan untuk sepeda, warga Amsterdam bisa parkir di mana saja tanpa harus membayar. Ada beberapa tempat parkir resmi, namun tidak sedikit pengendara sepeda yang memarkir dan menggembok sepedanya di sembarang tempat seperti di jembatan atau di tiang listrik.

Alasan berikutnya adalah cuaca dingin di negara ini yang memang mengharuskan para penduduknya untuk banyak bergerak agar tidak kedinginan. Cukup masuk akal karena menurut Wilma, populasi pengendara sepeda pada musim panas akan berkurang karena banyak yang beralih ke moda transportasi lain seperti trem atau skuter listrik.

Turis yang ingin merasakan serunya bersepeda di kota yang cantik ini juga bisa menyewa di beberapa rental yang tersedia. Umumnya, pemilik rental hanya memimta jaminan passport serta kartu kredit atau uang deposit 50 Euro (Rp 742.000). Tarifnya berkisar antara 9-15 Euro (Rp 133.000-222.000) per jam, tergangung beberapa hal.

Harga sewa untuk sepeda dengan rem tangan dan gir yang bisa disetel tentunya lebih mahal dibandingkan sepeda fixed dengan rem kaki saja. Begitu pula jika memilih disertai asuransi kehilangan, penyewa tentu harus membayar lebih mahal dibandingkan tanpa asuransi.

Tak perlu diragukan lagi, pengendara sepeda sangat dimanjakan di kota ini. Jalur khusus untuk sepeda benar-benar eksklusif dan haram dimasuki oleh kendaraan lain ataupun bahkan para pejalan kaki. Masih beruntung jika ada pengendara sepeda yang membunyikan klakson atau berteriak meski sambil memaki-maki saat ada pejalan kaki yang ceroboh memasuki jalurnya.

Hati-hati saja. Umumnya, pejalan kaki yang memasuki jalur sepeda seolah dianggap sebagai dosa besar dan halal untuk ditrabrak. Bruk!

(aff/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads