Amsterdam memang terkenal sebagai kota sepeda. Di kota ini, hampir setiap orang memiliki sepedanya sendiri dan dalam satu keluarga rata-rata ada 3-4 sepeda. Tak heran jika di setiap tempat, parkiran sepeda yang rapi maupun semrawut menjadi pemandangan yang khas dari kota besar Belanda ini.
Uniknya, hampir 90 persen sepeda yang berseliweran di kota ini adalah sepeda butut. Sebagian cuma memiliki 1 rasio gir alias fixed, dan sebagian lagi bahkan tidak memiliki rem tangan. Hanya tersedia rem kaki atau di Indonesia kerap disebut sepeda torpedo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepeda bagus, kalau parkir minimal harus digembok rangkap 3 dan gemboknya harus yang besar-besar," kata Wilma.
Ada beberapa alasan mengapa warga Amsterdam lebih suka bersepeda dibandingkan menggunakan kendaraan lainnya. Alasan pertama adalah tarif parkir yang sangat mahal untuk mobil dan kendaraan lainnya. Rata-rata, tarif parkir mobil di kota ini bila dirupiahkan bisa mencapai Rp 7.000/jam.
Sedangkan untuk sepeda, warga Amsterdam bisa parkir di mana saja tanpa harus membayar. Ada beberapa tempat parkir resmi, namun tidak sedikit pengendara sepeda yang memarkir dan menggembok sepedanya di sembarang tempat seperti di jembatan atau di tiang listrik.
Alasan berikutnya adalah cuaca dingin di negara ini yang memang mengharuskan para penduduknya untuk banyak bergerak agar tidak kedinginan. Cukup masuk akal karena menurut Wilma, populasi pengendara sepeda pada musim panas akan berkurang karena banyak yang beralih ke moda transportasi lain seperti trem atau skuter listrik.
Turis yang ingin merasakan serunya bersepeda di kota yang cantik ini juga bisa menyewa di beberapa rental yang tersedia. Umumnya, pemilik rental hanya memimta jaminan passport serta kartu kredit atau uang deposit 50 Euro (Rp 742.000). Tarifnya berkisar antara 9-15 Euro (Rp 133.000-222.000) per jam, tergangung beberapa hal.
Harga sewa untuk sepeda dengan rem tangan dan gir yang bisa disetel tentunya lebih mahal dibandingkan sepeda fixed dengan rem kaki saja. Begitu pula jika memilih disertai asuransi kehilangan, penyewa tentu harus membayar lebih mahal dibandingkan tanpa asuransi.
Tak perlu diragukan lagi, pengendara sepeda sangat dimanjakan di kota ini. Jalur khusus untuk sepeda benar-benar eksklusif dan haram dimasuki oleh kendaraan lain ataupun bahkan para pejalan kaki. Masih beruntung jika ada pengendara sepeda yang membunyikan klakson atau berteriak meski sambil memaki-maki saat ada pejalan kaki yang ceroboh memasuki jalurnya.
Hati-hati saja. Umumnya, pejalan kaki yang memasuki jalur sepeda seolah dianggap sebagai dosa besar dan halal untuk ditrabrak. Bruk!
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
3 Kota di ASEAN Paling Murah Versi Turis AS