Ternyata, Perajin Bambu di Jepang Pernah Pakai Rotan Jawa
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Jepang

Ternyata, Perajin Bambu di Jepang Pernah Pakai Rotan Jawa

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikTravel
Senin, 25 Nov 2013 18:40 WIB
Ternyata, Perajin Bambu di Jepang Pernah Pakai Rotan Jawa
Pengrajin bambu (Hany/detikTravel)
Sakai - Saat traveling ke Jepang, turis bisa melihat banyak kerajinan bambu cantik dipakai penduduk. Usut punya usut, ternyata generasi pertama salah satu pengrajin bambu Jepang menggunakan rotan dari Jawa.

Shouchiku Tanabe adalah penerus generasi keempat dari keluarga pengrajin bambu Jepang, Tanabe Chikuunsai. Benda kerajinan bambu keluarga Tanabe ini terkadang memakai unsur rotan. Siapa sangka, generasi pertama keluarga Tanabe alias kakek buyutnya memakai rotan yang berasal dari Pulau Jawa!

Shouchiku mengisahkan asal mula kakek buyutnya memakai rotan dari Pulau Jawa pada awal membuat kerajinan ini 120 tahun lalu. Rotan dalam bahasa Jepang adalah 'To'. Nah, sekitar Zaman Edo, 3-4 abad lalu, 'To' juga berarti 'Jawa'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu ada banyak kegiatan perdagangan yang dibawa ke Jepang, ada rotan sebagai pengikat di kapal supaya tidak goyang-goyang. Orang Jawa menggunakan rotan untuk mengikat tapi orang Jepang melihat itu bisa dimanfaatkan untuk yang lain," jelas Shouchiko di bengkel kerja sekaligus ruang pamernya di kawasan Kitatadei-cho, Sakai, Osaka, pada jurnalis Sakai ASEAN Week 2013, Senin (11/11/2013).

Kini, bahan-bahan yang digunakan semua dari Jepang, sebagian kecil dari China. Dia mengakui seni kerajinan bambu ini pada awalnya dipengaruhi negeri Tirai Bambu.

Shouchiku sangat selektif memilih bahan baku kerajinannya. Dia menjelaskan, dari sekitar 600-800 jenis bambu yang ada di Jepang, dia hanya memakai 20 macam bambu saja.

Di bengkel kerjanya, Shouchiku menunjukkan jenis-jenis bambu. Bambu yang paling banyak dipakai adalah Madake, bambu besar berwarna hijau. Ada juga bambu hitam alami, kemudian bambu asap yang berubah warna menjadi cokelat karena ditaruh di atas perapian rumah selama ratusan tahun. Ada pula bambu yang meliak-liuk seperti gelombang atau punggung unta, kemudian bambu yang bermotif seperti macan tutul.

"Ini bambu China, asal-usulnya ada legendanya. Jadi ada kaisar meninggal, kemudian 2 istrinya menangis. Air matanya jatuh dari atas gunung mengalir ke danau hingga tumbuhlah bambu itu," kata Shouchiku sambil tersenyum.

Ada pula bambu yang tumbuhnya di tempat khusus di kuil tua, Kuil Ebaraji, tempat kelahiran Gyoki, pendeta Buddha di Jepang pada abad ke 7-8. Kuil ini sendiri terletak di Sakai.

(ptr/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads