Phantom of The Opera di New York Memang Berkelas, Pantas Mahal

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari AS

Phantom of The Opera di New York Memang Berkelas, Pantas Mahal

- detikTravel
Kamis, 16 Okt 2014 14:49 WIB
Phantom of The Opera di New York Memang Berkelas, Pantas Mahal
Majestic Theatre berkapasitas 1.546 kursi dipenuhi penonton (Ari Saputra/detikTravel)
New York - Phantom of The Opera adalah salah satu pertunjukan teater Broadway di New York City, AS yang begitu terkenal. Harga tiketnya memang mahal, tapi pertunjukannya memang berkelas untuk wisatawan.

Ketika detikTravel merasakan Majestic Theater, Kamis (9/10/2014) apa yang diucapkan orang-orang ada benarnya. Interior gedung teater yang berada hanya 5 menit jalan kaki dari Times Square Garden tersebut terlihat megah dan berwibawa. Sang arsitek Herbert Krapp mencangkokan gaya art deco yang lagi ngetren pada zamannya untuk membangun kesan tersebut.

Bentuknya setengah lingkaran dengan kursi penonton merubung panggung. Bagian terdepan merupakan seat paling mahal meski terhitung masih lebih murah dibanding kursi yang berada di balkon, di sisi kiri dan kanan gedung teater. Harga 'termurah' berada di bagian paling belakang atas yang juga sudah ludes sehari sebelum pertunjukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panggung teater yang telah eksis sejak tahun 1927 tersebut dibagi dalam beberapa lapis layar. Setidaknya satu layar utama dan 8 layar di belakangnya untuk kebutuhan gonta-ganti background panggung. Di bawah stage, terdapat lantai khusus untuk pemain orkestra mengiringi lakon teater. Di bagian belakang para musisi terdapat ruangan untuk menyimpan properti yang digunakan untuk membuat efek khusus panggung.

Terdapat speaker soundsystem namun ditempatkan secara khusus di langit-langit ruangan sehingga tidak mencolok sehingga estetika ruangan tetap tidak terusik. Kursi dan karpet terlihat bersih dan tidak bau. Layar merah maroon dan wallpaper kuning gading bermotif melengkapi kesempurnaan Broadway.

Sejak denting pertama, suara piano langsung memantul sempurna di ruangan akustik yang dirancang sangat teliti. Kemudian diikuti nada biola dan puluhan alat musik orkestra lain yang bermain indah berdasar partitur klasik yang menginspirasi.

Puncaknya saat lagu soundtrack Phantom of The Opera yang digawangi Andrew Lloyd Webber mengisi dinding-dinding ruangan dengan solid. Suara bass, sopran dan tenor beradu harmonis dengan musik orchestra yang membuat atmosfir ruangan begitu dinamis dan terhormat.

Akting Norm Lewis (Phantom), Mary Patterson (Christine Daae) dan Jeremy Hays (Raoul) mampu membangun cerita yang dramatik. Permainan efek cahaya dan plot cerita sedemikian rapih, detil dan apik. Pergantian tata panggung mampu dalam hitungan detik dengan menggonta-ganti layer yang memikat sehingga tidak membosankan.

Tak heran bila semua penonton menikmatinya dari detik pertama, dari adegan satu ke babak berikutnya hingga durasi terakhir di menit ke-120. Dari wisatawan biasa, penonton lokal hingga para kritikus seni terlihat takjub mengikuti akting dan musik yang dimainkan. Standing applaus 1.500 penonton menjadi penutup dan penghormatan atas kerja keras, kualitas dan cita rasa seni para pemain yang dikomandani oleh Harold Prince tersebut.

Harga tiket menonton Phantom of The Opera yang saya bayar adalah USD 120 (Rp 1,4 juta) untuk kelas termurah yaitu mezanine atau tempat duduk paling atas dan jauh. Tapi, pertunjukannya sungguh luar biasa dan sangat berkelas. Jadi, masih berpikir mahal untuk sebuah karya seni?

(shf/shf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads