Ketika detikTravel merasakan Majestic Theater, Kamis (9/10/2014) apa yang diucapkan orang-orang ada benarnya. Interior gedung teater yang berada hanya 5 menit jalan kaki dari Times Square Garden tersebut terlihat megah dan berwibawa. Sang arsitek Herbert Krapp mencangkokan gaya art deco yang lagi ngetren pada zamannya untuk membangun kesan tersebut.
Bentuknya setengah lingkaran dengan kursi penonton merubung panggung. Bagian terdepan merupakan seat paling mahal meski terhitung masih lebih murah dibanding kursi yang berada di balkon, di sisi kiri dan kanan gedung teater. Harga 'termurah' berada di bagian paling belakang atas yang juga sudah ludes sehari sebelum pertunjukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terdapat speaker soundsystem namun ditempatkan secara khusus di langit-langit ruangan sehingga tidak mencolok sehingga estetika ruangan tetap tidak terusik. Kursi dan karpet terlihat bersih dan tidak bau. Layar merah maroon dan wallpaper kuning gading bermotif melengkapi kesempurnaan Broadway.
Sejak denting pertama, suara piano langsung memantul sempurna di ruangan akustik yang dirancang sangat teliti. Kemudian diikuti nada biola dan puluhan alat musik orkestra lain yang bermain indah berdasar partitur klasik yang menginspirasi.
Puncaknya saat lagu soundtrack Phantom of The Opera yang digawangi Andrew Lloyd Webber mengisi dinding-dinding ruangan dengan solid. Suara bass, sopran dan tenor beradu harmonis dengan musik orchestra yang membuat atmosfir ruangan begitu dinamis dan terhormat.
Akting Norm Lewis (Phantom), Mary Patterson (Christine Daae) dan Jeremy Hays (Raoul) mampu membangun cerita yang dramatik. Permainan efek cahaya dan plot cerita sedemikian rapih, detil dan apik. Pergantian tata panggung mampu dalam hitungan detik dengan menggonta-ganti layer yang memikat sehingga tidak membosankan.
Tak heran bila semua penonton menikmatinya dari detik pertama, dari adegan satu ke babak berikutnya hingga durasi terakhir di menit ke-120. Dari wisatawan biasa, penonton lokal hingga para kritikus seni terlihat takjub mengikuti akting dan musik yang dimainkan. Standing applaus 1.500 penonton menjadi penutup dan penghormatan atas kerja keras, kualitas dan cita rasa seni para pemain yang dikomandani oleh Harold Prince tersebut.
Harga tiket menonton Phantom of The Opera yang saya bayar adalah USD 120 (Rp 1,4 juta) untuk kelas termurah yaitu mezanine atau tempat duduk paling atas dan jauh. Tapi, pertunjukannya sungguh luar biasa dan sangat berkelas. Jadi, masih berpikir mahal untuk sebuah karya seni?
(shf/shf)










































