Merinding Pilu di Museum 9/11 New York

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari AS

Merinding Pilu di Museum 9/11 New York

- detikTravel
Rabu, 22 Okt 2014 16:10 WIB
Merinding Pilu di Museum 9/11 New York
Bagian dalam Museum 9/11 (Ari/detikTravel)
Jakarta - Nyaris tak ada senyum dari tiap pengunjung. Bahkan terasa emosional saat melihat satu persatu puing-puing gedung WTC dipamerkan. Antara marah, bingung dan rasa kehilangan yang sangat mendalam kepada sedikitnya 3.000 orang tewas pada peristiwa 13 tahun lampau.

"Ini merupakan artefak monumental yang menyediakan jalur ke peristiwa pengeboman menara kembar WTC. Menampilkan cerita kehilangan secara dalam, kasih sayang, dan pemulihan trauma. Menceritakan soal serangan 911 dan akibat-akibatnya," kata pengelola Museum 911 yang terbaca dari katalog yang bisa diunduh gratis.

Museum yang berada di bawah Ground Zero tersebut mempunyai pintu masuk di antara dua menara WTC yang sudah rata. Lokasinya tidak begitu mencolok karena perhatian turis tertuju pada Ground Zero Memorial Park.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan membayar donasi USD 24 atau Rp 288 ribu (dewasa) dan USD 15 atau Rp 180 ribu (anak-anak), pengunjung bisa menuruni eskalator menuju pintu masuk. Lumayan antre kalau tak sempat membeli tiket online. Sekitar 10 menit baru bisa mendapatkan tiket. Belum lagi mengantre petugas security dan mesin pemindai, bisa menghabiskan 15 hingga 20 menit sendiri.

Ketika menuruni ekalator itu, sudah terlihat di bagian kanan pilar baja penopang WTC yang runtuh. Nantinya, beberapa pilar lain dipajang di bagian dalam museum. Tak hanya dipajang, melainkan diberi lampu sorot dan didisplay dengan sangat artistik dan menyentuh. Seakan memberi pesan personal yang mendalam.

Oh, iya disamping eskalator persis, terdapat tangga asli yang dulunya merupakan tangga gedung WTC. Saat ini dibiarkan utuh dan menjadi bagian terpenting dalam artefak sejarah 911. Setiap wisatawan memandangi tangga ini dengan mata nanar. Terutama saat melihat detail beton yang begitu keras namun bisa rontok oleh ulah teroris.

Setelah eskalator, wisatawan dihadapkan pada hall yang cukup luas. Di sayap kiri terdapat lorong menuju ruang utama 911 Memorial Museum. Dalam lorong dipenuhi displai multimedia yang menampilkan audio, foto dan testimoni keluarga korban. Serta diorama lain yang sangat menyentuh rasa kemanusiaan.

Atmosfirnya begitu dramatik. Pilu dan mencekat. Testimoni dan foto-foto keluarga maupun korban membuat suasana semakin haru.

"Kami ingin menunjukan akibat terorisme kepada individu. Juga dampaknya ke masyarakat lokal, nasional hingga internasional," imbuhnya.

Usai melewati lorong itu, wisawatan langsung dihadapkan pada ruangan yang lebih besar dari hall sebelumnya. Bentuknya menyerupai void rumah namun dalam skala yang jauh lebih besar.

Void ini menjabarkan dinding WTC yang masih utuh. Termasuk sejumlah pasak baja pada desain dan kontruksi aslinya. Lampu sorot membuat sentuhan artistik yang memperkuat nilai tragedi kepada tiap-tiap individu.

Terlebih terdapat tiang pancang yang dulunya menjadi monumen penyelamatan korban WTC. Tiang pancang itu bertabur grafiti New York Police Departmen (NYPD), Fire Departmen of New York (FDNY) dan regu penyelamat yang lain. Sebagai catatan, polisi dan petugas pemadam kebakaran turut menjadi korban saat mengevakuasi korban.

"Ini untuk menunjukan kemenangan martabat manusia menghadapi kejatuhannya. Dan untuk menunjukan komitmen dan nilai-nilai dasar kemanusiaan," tegasnya.

Menuju monumen tersebut, pengunjung museum diajak menuruni lantai menurun dengan berbagai puing WTC yang dipamerkan. Seperti menara telekomunikasi yang dulunya bertengger di puncak WTC dan motor listrik pengerek elevator utama. Saat masih beroperasi, motor listrik mampu menggerakan lift sampai 487meter/menit pada kecepatan maksimum. Sehingga, untuk naik dari lantai dasar menuju puncak menara hanya dibutuhkan waktu sekitar 60 detik saja.

Puncaknya yakni koleksi sebuah mobil pemadam kebakaran dan koleksi pilar utama penghubung lantai 32 dan 33. Juga sebuah tulisan besar di dinding yang terdengar sangat melankolis, 'no day shall erase you from the memory of time'.

(shf/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads