Cape Town -
Kota yang ramah lingkungan memang membuat penghuninya lebih produktif. Liburan ke sana pun bisa membawa ke pengalaman yang baru. Setidaknya ada 5 kota ramah lingkungan yang nyaman ditinggali. Di mana saja?
Ada Copenhagen di Denmark yang terkenal dengan kebiasaan bersepeda warganya, hingga San Fransisco di Amerika yang punya kebiasaan mendaur ulang sampai 77%. Dilansir dari BBC, Senin (22/12/2014), inilah 5 kota ramah lingkungan yang nyaman:
1. Cape Town, Afrika Selatan
(Eric Nathan/Getty Images)
|
Cape Town yang merupakan kota terbesar kedua di Afrika Selatan tengah menekan penghematan energi, serta penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Salah satu caranya yaitu dengan membuat jalur sepeda dan mendukung pasar tradisional.
Seapoint dan Greenpoint merupakan kawasan bersepeda yang paling bersahabat. Area Hout Bay sendiri juga dihuni oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya lingkungan. Banyak dari penduduknya yang memakai tenaga matahari, hingga menanam sayurannya sendiri.
2. San Fransisco, Amerika
(Hal Bergman Photography/Getty Images)
|
San Fransisco menempati peringkat pertama di indeks, sebagai kota paling hijau di di Amerika Utara. Kota ini memang sudah peduli lingkungan sejak abad ke-19 silam. Terbukti dari tingkat daur ulang kotanya yang mencapai persentase hingga 77%.
Hampir setiap kawasan punya pasar tradisionalnya masing-masing. Bahkan setidaknya terdapat tiga kawasan di San Fransisco yang ramah bagi pesepeda. Dari sisi transportasi umum, juga ada tram yang murah meriah dan bebas dari polusi.
3. Copenhagen, Denmark
(Marianne B. Pedersen/Getty Images)
|
Nama Copenhagen di Denmark sudah tidak diragukan sebagai kota yang ramah lingkungan. Copenhagen sendiri meraih predikat sebagai kota di Eropa yang paling ramah lingkungan. Hampir setiap pemukiman berjarak 350 m dari sarana transportasi publik, belum lagi 50% penduduknya menggunakan sepeda.
Namun walaupun seluruh kota di Copenhagen ramah bagi pesepeda, kawasan Norrebro dan Frederiksberg adalah yang paling ramah bagi pesepeda. Jalur sepeda sepanjang 9 km dibuat melintasi taman hijau. Masyarakatnya sendiri menyukai daur ulang, salut!
4. Curitiba, Brasil
(EduardoPA/Getty Images)
|
Dari semua kota di Amerika Latin, hanya Curitiba di Brasil yang punya nilai lebih dalam South American Siemens Index. Setelah membangun salah satu rapid-transit bus systems terbesar di dunia pada tahun 1960, Curitiba juga membuat program daur ulang pada tahun 1980.
Kawasan Merces di Curitiba yang mayoritas dihuni lansia misalnya, punya sebuah taman hijau besar. Setiap hari Minggu pun rutin diadakan pasar yang menjual berbagai produk organik.
5. Vancouver, Kanada
(Stuart Dee/Getty Images)
|
Dibandingkan dengan kota lain seukurannya, Vancouver di Kanada punya indeks tinggi untuk kualitas udara dan kontrol CO2. Tidak hanya terkenal sebagai kota ramah lingkungan sejak tahun 1960-an, Vancouver juga menjadi tempat asal dari organisasi Greenpeace.
Sejumlah kawasan di Vancouver pun diisi oleh area pejalan kaki, hingga rute sepeda. Di kawasan West 10th Avenue misalnya, Anda tidak akan kesulitan menemukan pesepeda, pemakain skuter listrik, sampai sepeda roda satu.
Cape Town yang merupakan kota terbesar kedua di Afrika Selatan tengah menekan penghematan energi, serta penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Salah satu caranya yaitu dengan membuat jalur sepeda dan mendukung pasar tradisional.
Seapoint dan Greenpoint merupakan kawasan bersepeda yang paling bersahabat. Area Hout Bay sendiri juga dihuni oleh masyarakat yang sadar akan pentingnya lingkungan. Banyak dari penduduknya yang memakai tenaga matahari, hingga menanam sayurannya sendiri.
San Fransisco menempati peringkat pertama di indeks, sebagai kota paling hijau di di Amerika Utara. Kota ini memang sudah peduli lingkungan sejak abad ke-19 silam. Terbukti dari tingkat daur ulang kotanya yang mencapai persentase hingga 77%.
Hampir setiap kawasan punya pasar tradisionalnya masing-masing. Bahkan setidaknya terdapat tiga kawasan di San Fransisco yang ramah bagi pesepeda. Dari sisi transportasi umum, juga ada tram yang murah meriah dan bebas dari polusi.
Nama Copenhagen di Denmark sudah tidak diragukan sebagai kota yang ramah lingkungan. Copenhagen sendiri meraih predikat sebagai kota di Eropa yang paling ramah lingkungan. Hampir setiap pemukiman berjarak 350 m dari sarana transportasi publik, belum lagi 50% penduduknya menggunakan sepeda.
Namun walaupun seluruh kota di Copenhagen ramah bagi pesepeda, kawasan Norrebro dan Frederiksberg adalah yang paling ramah bagi pesepeda. Jalur sepeda sepanjang 9 km dibuat melintasi taman hijau. Masyarakatnya sendiri menyukai daur ulang, salut!
Dari semua kota di Amerika Latin, hanya Curitiba di Brasil yang punya nilai lebih dalam South American Siemens Index. Setelah membangun salah satu rapid-transit bus systems terbesar di dunia pada tahun 1960, Curitiba juga membuat program daur ulang pada tahun 1980.
Kawasan Merces di Curitiba yang mayoritas dihuni lansia misalnya, punya sebuah taman hijau besar. Setiap hari Minggu pun rutin diadakan pasar yang menjual berbagai produk organik.
Dibandingkan dengan kota lain seukurannya, Vancouver di Kanada punya indeks tinggi untuk kualitas udara dan kontrol CO2. Tidak hanya terkenal sebagai kota ramah lingkungan sejak tahun 1960-an, Vancouver juga menjadi tempat asal dari organisasi Greenpeace.
Sejumlah kawasan di Vancouver pun diisi oleh area pejalan kaki, hingga rute sepeda. Di kawasan West 10th Avenue misalnya, Anda tidak akan kesulitan menemukan pesepeda, pemakain skuter listrik, sampai sepeda roda satu.
(shf/shf)
Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan